Tarian ini hadir dalam beragam momen penting, mulai dari pernikahan, kelahiran, hingga kematian.
Budayawan Thompson HS mengatakan tortor merupakan "bahasa tubuh" masyarakat Batak Toba yang digunakan untuk menyampaikan doa, harapan, serta penghormatan kepada Tuhan dan sesama manusia.
"Tortor bukan sekadar tarian. Ia adalah media menyampaikan doa, harapan, rasa hormat, dan permohonan," ujar Thompson.
Dalam praktik adat, tortor selalu hadir dalam struktur sosial yang jelas. Kelompok hula-hula, yakni pihak keluarga perempuan, menari sebagai simbol pemberi berkat.
Sementara boru, keluarga penerima perempuan, menari sebagai bentuk penghormatan dan penerimaan.
Tortor biasanya diiringi musik gondang sabangunan atau gondang hasapi. Iringan musik ini bukan sekadar pengiring, melainkan penentu suasana dan makna tarian.
Gondang tertentu digunakan untuk sukacita, sementara lainnya untuk suasana duka.
Menurut Thompson, setiap gerakan dalam tortor tidak dilakukan secara bebas.
Ayunan tangan, langkah kaki, hingga gerak bahu dan kepala mengikuti aturan adat yang ketat dan disesuaikan dengan irama gondang.
"Penari tidak boleh bergerak sembarangan karena setiap gerak mengandung makna. Jika hanya gerakannya saja yang diajarkan tanpa makna, tortor akan kehilangan rohnya," katanya.
Ia menambahkan, nilai utama dari tortor adalah kebersamaan dan keterikatan sosial.