BREAKING NEWS
Kamis, 30 April 2026

Kesawan Medan dari Lahan Sawah Kolonial hingga Pusat Bisnis, Ini Jejak Bangunan Bersejarah dan Perkembangannya dari Masa ke Masa

Adelia Syafitri - Kamis, 30 April 2026 09:15 WIB
Kesawan Medan dari Lahan Sawah Kolonial hingga Pusat Bisnis, Ini Jejak Bangunan Bersejarah dan Perkembangannya dari Masa ke Masa
Kawasan yang berada di inti kota Medan ini memiliki nilai sejarah dan menjadi saksi perkembangan kota Medan hingga sekarang. (Foto: Dinas Kominfo Kota Medan)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN - Kawasan Kesawan Medan di Kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia dikenal sebagai salah satu kawasan bersejarah yang hingga kini masih bertahan di tengah pesatnya modernisasi kota. Dahulu merupakan area persawahan, Kesawan kini menjelma menjadi pusat bisnis, kuliner, sekaligus ruang wisata sejarah yang ikonik.

Sejarawan Universitas Sumatera Utara (USU), Kiki Maulana Affandi, menjelaskan bahwa nama Kesawan diyakini berasal dari istilah "kesawahan", karena wilayah ini awalnya merupakan lahan sawah sebelum berkembang menjadi kawasan kota.

Perkembangan Kesawan tidak terlepas dari hadirnya perusahaan perkebunan Belanda Deli Maatschappij yang menjadi motor ekonomi Medan pada abad ke-19. Sejak saat itu, Kesawan berkembang pesat sebagai pusat perdagangan dan permukiman berbagai etnis.

Baca Juga:

Pusat Ekonomi Multietnis di Masa Kolonial

Memasuki tahun 1880-an, Kesawan tumbuh sebagai pusat perdagangan dengan dominasi toko-toko milik etnis Tionghoa. Berbagai kelompok masyarakat seperti Melayu, Karo, Arab, India, dan Tionghoa hidup berdampingan dan membentuk wajah kosmopolitan awal Kota Medan.

Sejumlah bangunan penting kemudian berdiri di kawasan ini, di antaranya Gedung AVROS, Warenhuis (supermarket pertama di Medan), Pajak Ikan (Vischmarkt), Pasar Hindu, hingga restoran legendaris Tip Top yang masih bertahan hingga saat ini.

Selain itu terdapat pula Masjid Gang Bengkok, Rumah Tjong A Fie, serta gedung London Sumatera yang menjadi saksi sejarah kejayaan perkebunan di Medan.

Jejak Bangunan Bersejarah di Kesawan

Beberapa bangunan bersejarah yang masih berdiri hingga kini di kawasan Kesawan antara lain:

- Masjid Gang Bengkok: Dibangun oleh Tjong A Fie sebagai bentuk toleransi dan penghormatan kepada Kesultanan Deli.
- Nederlandsch Handel Maatschappij (1888): Kini difungsikan sebagai kantor perbankan di pusat kota.
- Kamp Lembah (1909): Bekas percetakan Sumatra Post, kini menjadi kantor Dinas Pariwisata Sumut.
- Witte Sociëteit (1879): Dahulu tempat berkumpul elite perkebunan, kini menjadi gedung perbankan.
- Rumah Tjong A Fie: Ikon sejarah pengusaha Tionghoa yang berpengaruh di Medan.
- Restoran Tip Top: Restoran legendaris yang masih beroperasi sejak era kolonial.
- London Sumatera: Gedung perkebunan awal di Medan yang sudah memiliki fasilitas lift pada zamannya.


Perkembangan Kesawan dari Tahun ke Tahun


Perjalanan kawasan Kesawan mengalami perubahan panjang sebagai berikut:

Pasca kebakaran awal kota: Dibangun ulang dengan material lebih kuat seperti batu bata.
- 1913–1937: Masa kejayaan sebagai pusat perdagangan, permukiman, dan hiburan.
- 1938–1962: Mulai muncul bangunan modern di sekitar kawasan.
- 1963–1995: Beralih menjadi kawasan perkantoran pemerintah dan swasta.
- 1996–2004: Dominasi ruko bertingkat, karakter lama mulai memudar.
- 2002–2003: Didorong menjadi pusat kuliner dengan hadirnya Kesawan Plaza.
- 2013: Jalan Kesawan berganti nama menjadi Jalan Ahmad Yani.
- Saat ini: Kembali hidup sebagai pusat bisnis, kuliner, dan destinasi wisata sejarah.

Kesawan Hari Ini

Kini, Kesawan menjadi salah satu kawasan paling hidup di Medan. Deretan kafe, restoran, hingga bangunan heritage yang masih terjaga menjadikannya ruang publik favorit masyarakat, terutama pada akhir pekan.

"Kesawan hari ini bukan hanya masa lalu, tapi ruang hidup kota yang terus berkembang," ujar Kiki,kata Dosen Sejarah Universitas Sumatera Utara (USU), Kiki Maulana Affandi, Rabu (29/4/2026).

Dengan jejak sejarah panjang tersebut, Kesawan menjadi simbol transformasi Kota Medan dari kawasan persawahan kolonial menjadi kota modern yang tetap menjaga warisan budayanya.*

(ds/dh)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Pecah Telur! Desak/Asih Sumbang Emas Perdana Indonesia di Asian Beach Games 2026 Sekaligus Cetak Rekor Dunia
Prabowo Targetkan 288 Ribu Sekolah Direvitalisasi hingga 2028, Siapkan Smart Classroom di Seluruh Indonesia
Wali Kota Mahyaruddin Terima Panitia HUT ke-105 GPdI, Dukung KKR Paskah Zona VIII
Pemko Tanjungbalai dan BI Percepat Digitalisasi Daerah Lewat TP2DD, Transaksi Non-Tunai Diperluas
Polda Sumut Tangkap Mahasiswa USU Diduga Edarkan Ekstasi, Ini Kata Kampus
Prabowo: Indonesia Gelap? Kau Kabur Saja ke Yaman! Biar Nggak Gaduh
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru