Menurut Erond, proses tersebut berlangsung bersamaan dengan kehadiran kolonialisme yang membawa perubahan dalam bentuk pendidikan, layanan kesehatan, dan sistem sosial baru.
"Tidak ada catatan konflik rasial maupun agama yang signifikan ketika agama-agama tersebut masuk," ujarnya.
Meski secara formal tidak lagi dianut dan tidak ditemukan masyarakat yang mengaku sebagai penganut Habonaron dalam survei tahun 2004–2005, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya disebut masih hidup dalam budaya masyarakat Simalungun.
Nilai tersebut kemudian dirumuskan kembali dalam Seminar Kebudayaan Simalungun tahun 1963 melalui falsafah hidup Habonaron do Bona, yang menempatkan kebenaran sebagai dasar berpikir dan bertindak.
Hingga kini, jejak Habonaron masih dapat ditemukan dalam berbagai upacara adat dan praktik budaya masyarakat Simalungun.
"Konsep keseimbangan antara manusia dan alam itu masih menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan," kata Erond.
Meski tidak lagi menjadi sistem kepercayaan formal, Habonaron tetap menjadi bagian penting dalam memahami sejarah, identitas, dan nilai budaya masyarakat Simalungun hingga saat ini.*