BREAKING NEWS
Selasa, 30 Juni 2026

Jejak Raja Sisingamangaraja XII di Sionom Hudon, Basis Perjuangan yang Masih Menyimpan Misteri Makam Sang Pahlawan

Nurul - Selasa, 30 Juni 2026 12:38 WIB
Jejak Raja Sisingamangaraja XII di Sionom Hudon, Basis Perjuangan yang Masih Menyimpan Misteri Makam Sang Pahlawan
Keluarga Sisingamangaraja ke-12 yang ditangkap oleh pasukan marsose (marechausse) yang dipimpin oleh Kapten Hans Christoffel. (foto: Pinterest/KITLV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN – Nama Raja Sisingamangaraja XII telah lama dikenang sebagai salah satu pahlawan terbesar dalam sejarah Indonesia.

Ia tidak hanya dihormati sebagai pemimpin spiritual masyarakat Batak, tetapi juga dikenal sebagai tokoh yang memimpin perlawanan panjang melawan kolonial Belanda hingga gugur pada 17 Juni 1907 di kawasan Aek Sibulbulon, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.

Atas jasa perjuangannya, Presiden Soekarno menetapkan Sisingamangaraja XII sebagai Pahlawan Nasional pada 9 November 1961.

Baca Juga:

Di balik kisah perjuangannya, terdapat sebuah wilayah yang diyakini memiliki hubungan erat dengan perjalanan hidup sang raja, yakni Sionom Hudon di Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan.

Hingga kini, kawasan tersebut masih menyimpan berbagai cerita turun-temurun mengenai perjuangan terakhir Sisingamangaraja XII, termasuk kisah mengenai lokasi makamnya.

Berdasarkan buku Kisah Perjuangan Sisingamangaraja XII di Sionom Hudon karya Fernando Nahampun, wilayah Sionom Hudon menjadi salah satu basis penting perjuangan Sisingamangaraja XII ketika menghadapi tekanan pasukan kolonial Belanda.

Masyarakat setempat meyakini bahwa selama kurang lebih dua dekade, Sisingamangaraja XII mendapat perlindungan dari para pemimpin adat di kawasan tersebut.

Dari tempat inilah berbagai strategi perlawanan disebut disusun bersama para panglima dan tokoh masyarakat yang setia mendampinginya.


Asal-usul Sionom Hudon

Sejarah lokal menyebutkan kawasan Sionom Hudon berasal dari Kerajaan Kelasen yang didirikan oleh Tuan Nahodaraja, seorang tokoh yang berasal dari Pulau Samosir dan membuka perkampungan baru di wilayah yang kini menjadi Kecamatan Parlilitan.

Dalam tradisi masyarakat Batak, Tuan Nahodaraja memiliki delapan anak dari dua istri. Namun hanya enam garis keturunan laki-laki yang kemudian menerima pembagian wilayah adat.

Dari sinilah muncul nama Sionom Hudon, yang dalam bahasa Batak Toba berarti "enam periuk".

Nama tersebut melambangkan enam keturunan utama yang menerima tanah ulayat sekaligus membentuk enam wilayah adat.

Enam marga utama yang menjadi pewaris wilayah tersebut adalah Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Pinayungan, dan Nahampun.

Basis Perlawanan Melawan Belanda

Tradisi masyarakat setempat menyebutkan sekitar tahun 1883 Sisingamangaraja XII mulai menetap di kawasan Sindias, Sionom Hudon.

Di sana ia disebut memperoleh perlindungan dari keluarga Jangkar Tumanggor.

Selama berada di kawasan tersebut, Sisingamangaraja XII tidak hanya memimpin strategi perang, tetapi juga memberikan pengajaran mengenai kepemimpinan, persatuan, nilai keagamaan, dan semangat mempertahankan tanah air kepada masyarakat.

Perlawanan terus berlangsung hingga pasukan kolonial Belanda yang dipimpin Kapten Christoffel menemukan lokasi persembunyiannya di Aek Sibulbulon.

Pada 17 Juni 1907, Sisingamangaraja XII gugur bersama sejumlah anggota keluarga dan para pengikutnya setelah terjadi baku tembak dengan pasukan Belanda.

Peristiwa tersebut tercatat dalam berbagai arsip sejarah Indonesia.

Misteri Makam Sisingamangaraja XII

Hingga kini, lokasi makam Raja Sisingamangaraja XII masih menjadi bagian dari pembahasan sejarah.

Catatan sejarah yang umum diterima menyebutkan jenazah Sisingamangaraja XII sempat dimakamkan di Tarutung sebelum dipindahkan ke kompleks makam keluarga di Soposurung, Balige, Kabupaten Toba.

Namun di sisi lain, berkembang tradisi lisan masyarakat Sionom Hudon yang meyakini makam asli sang raja berada di wilayah mereka.

Keyakinan tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat setempat.

Meski demikian, berbagai cerita mengenai proses pemakaman maupun kisah lain yang berkembang masih termasuk tradisi lisan dan belum dapat dibuktikan secara akademis.

Karena itu, kisah tersebut dipandang sebagai bagian dari warisan budaya lokal, bukan fakta sejarah yang telah terverifikasi.

Warisan Budaya yang Tetap Hidup

Selain dikenal sebagai salah satu basis perjuangan Raja Sisingamangaraja XII, Sionom Hudon juga masih mempertahankan adat Kelasen, silsilah keluarga, bahasa Dairi Kelasen, hingga tradisi lisan yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

Melalui berbagai cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, masyarakat berupaya menjaga nilai perjuangan, keberanian, serta semangat mempertahankan tanah air yang diwariskan oleh Raja Sisingamangaraja XII.* (tm/ad)

Editor
: Raman Krisna
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Drama Adu Penalti Warnai Piala Dunia 2026! Maroko Singkirkan Belanda dan Lolos ke 16 Besar
Spirit Soekarno dalam Hikayat Politik Jokowi
Komarudin Respons Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau: Bukan Banteng, Jadi Tak Masalah
Arif Jaka Sona Resmi Pimpin PAC PDIP Binjai Utara, Siap Perkuat Mesin Partai Menuju Pemilu 2029
Dijuluki 'New Zealand van Toba', Pantai Pakkodian di Desa Meat Tawarkan Panorama Danau Toba yang Memukau
Patih Marahamat Siregar, Tokoh Perjuangan Barumun Raya yang Berjasa Mengibarkan Merah Putih di Sumatera Utara
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru
Nadiem Divonis 10 Tahun Penjara!

Nadiem Divonis 10 Tahun Penjara!

JAKARTA Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan vonis 10 tahun penjara

HUKUM DAN KRIMINAL