BREAKING NEWS
Selasa, 13 Oktober 2026

Belajar dari Filosofi Tri Hita Karana: Pentingnya Kesadaran dan Toleransi dalam Beragama

gusWedha - Selasa, 13 Oktober 2026 12:14 WIB
Belajar dari Filosofi Tri Hita Karana: Pentingnya Kesadaran dan Toleransi dalam Beragama
Kehidupan religius masyarakat Bali kerap menarik perhatian karena ritual keagamaan hadir dalam berbagai aktivitas sehari-hari. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BALI - Kehidupan religius masyarakat Bali kerap menarik perhatian karena ritual keagamaan hadir dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Mulai dari sesajen canang di depan toko hingga upacara di pura, praktik spiritual menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Namun, di balik beragam ritual tersebut, ada refleksi tentang bagaimana agama dijalani melalui kesadaran, bukan sekadar keyakinan bahwa diri sendiri paling benar.

Refleksi itu disampaikan oleh pemilik akun media sosial Guswedha_ melalui tulisan yang membahas hubungan antara religiusitas, spiritualitas, dan sikap terhadap perbedaan. Ia menyoroti bahwa menjalankan agama tidak semestinya menjadi alasan untuk membenci orang lain atau merasa paling suci.

"Spiritualitas bukan tentang apa yang terlihat, tapi tentang kesadaran. Ini yang jarang orang sadari," tulis Guswedha_ dalam refleksinya.

Baca Juga:

Menurut pandangan tersebut, kehidupan beragama tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya ritual yang dilakukan. Kesadaran dalam bersikap, memperlakukan sesama, dan menjaga lingkungan juga menjadi bagian penting dari penghayatan spiritual.

Tri Hita Karana, Filosofi Keseimbangan Hidup

Salah satu filosofi Bali yang diangkat dalam refleksi tersebut adalah Tri Hita Karana, yakni konsep keseimbangan yang mencakup tiga hubungan utama dalam kehidupan.

Pertama, Parahyangan, yaitu menjaga hubungan dengan Tuhan. Kedua, Pawongan, yang menekankan hubungan harmonis antarmanusia. Ketiga, Palemahan, yakni menjaga hubungan dengan alam dan lingkungan.

Ketiga unsur tersebut menggambarkan pentingnya keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Hubungan dengan Tuhan tidak dipisahkan dari cara seseorang memperlakukan sesama maupun menjaga lingkungan sekitarnya.

Dalam refleksi Guswedha_, nilai tersebut juga menjadi pengingat bahwa kehidupan spiritual tidak semata-mata berkaitan dengan aktivitas di tempat ibadah.

"TIDAK ADA PAKSAAN untuk membenci yang berbeda. TIDAK ADA OBSESI merasa paling suci. Karena Tuhan tidak hanya ada di pura, Ia ada di alam, di sesama manusia, bahkan di dalam diri," tulisnya.

Pesan itu mengajak pembaca melihat bahwa keyakinan pribadi seharusnya tidak menjadi pembenaran untuk merendahkan atau memaksakan pandangan kepada orang lain.

Spiritualitas dalam Aktivitas Sehari-hari

Refleksi tersebut juga menyoroti bagaimana nilai spiritual dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang petani yang menjaga sistem irigasi subak agar air dapat dibagikan secara adil kepada petani lain, misalnya, menjalankan nilai kepedulian terhadap sesama.

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru