BREAKING NEWS
Rabu, 14 Oktober 2026

Belajar dari Filosofi Tri Hita Karana: Pentingnya Kesadaran dan Toleransi dalam Beragama

gusWedha - Selasa, 13 Oktober 2026 12:14 WIB
Belajar dari Filosofi Tri Hita Karana: Pentingnya Kesadaran dan Toleransi dalam Beragama
Kehidupan religius masyarakat Bali kerap menarik perhatian karena ritual keagamaan hadir dalam berbagai aktivitas sehari-hari. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Pedagang yang tidak berbuat curang dalam menimbang barang menunjukkan kejujuran, sedangkan warga yang membantu membersihkan sampah setelah upacara memperlihatkan kepedulian terhadap lingkungan.

Tindakan-tindakan tersebut menggambarkan bahwa nilai moral tidak hanya ditunjukkan melalui ucapan atau simbol keagamaan, tetapi juga melalui perilaku nyata.

Dalam pandangan yang disampaikan Guswedha_, kesadaran terhadap konsekuensi dari setiap tindakan menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan spiritual.

"Orang tidak takut pada Tuhan, mereka sadar setiap tindakan punya konsekuensi. Dan mungkin itulah spiritualitas yang sesungguhnya dalam beragama," tulisnya.

Baca Juga:

Pesan tersebut mengajak masyarakat untuk tidak berhenti pada penampilan religius, melainkan juga memperhatikan dampak perilaku terhadap orang lain dan lingkungan.

Religiusitas dan Sikap terhadap Perbedaan

Di tengah perdebatan mengenai keyakinan dan kebenaran, refleksi itu menawarkan sudut pandang bahwa agama tidak seharusnya menjadi sumber kebencian. Keyakinan dapat dijalani secara mendalam tanpa harus disertai sikap fanatik yang menutup ruang bagi perbedaan.

Meski demikian, pandangan tersebut merupakan refleksi pribadi yang disampaikan Guswedha_, bukan gambaran tunggal mengenai seluruh masyarakat Bali atau seluruh tradisi keagamaan.

Nilai toleransi, kejujuran, kepedulian, dan penghormatan terhadap alam menjadi pokok pesan yang ingin disampaikan melalui tulisan tersebut.

Pada akhirnya, refleksi itu menempatkan spiritualitas bukan sebagai perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling benar, melainkan sebagai upaya untuk terus memperbaiki kesadaran dan perilaku.

Religius tidak harus berarti fanatik. Melalui filosofi keseimbangan dan tindakan sehari-hari, tulisan tersebut mengajak pembaca merenungkan kembali makna beragama: bukan hanya tentang apa yang diyakini, tetapi juga bagaimana keyakinan itu tercermin dalam cara memperlakukan sesama dan menjaga kehidupan.* (dh)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru