Bareskrim Sikat 9 Perusahaan Sawit Jadi Tersangka Karhutla, 25 Ribu Hektare Lahan Hangus
JAKARTA Bareskrim Polri menetapkan sembilan perusahaan perkebunan kelapa sawit sebagai tersangka kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla
HUKUM DAN KRIMINAL
MEDAN – Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mendorong kain tradisional Indonesia, khususnya ulos, agar mampu menembus pasar internasional melalui inovasi desain dan pengembangan industri fesyen.
Selain melestarikan warisan budaya, pengembangan wastra tradisional dinilai berpotensi membuka peluang ekonomi bagi desainer dan pengrajin lokal.
Upaya tersebut diangkat dalam Medan Fashion & Culture Festival (MFCF) 2026 bertema Ulos in Innovation yang dibuka Rico Waas di Main Atrium Sun Plaza Medan, Selasa (13/10/2026).Baca Juga:
Pembukaan festival turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Ketua Dekranasda Kota Medan Airin Rico Waas, Penjabat Sekretaris Daerah Kota Medan Erfin Fachrurrazi, serta Penjabat Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Medan Fahriatun Nisa Erfin Fachrurrazi.
Prosesi pembukaan ditandai dengan pemukulan taganing Batak oleh Rico Waas.
Festival yang berlangsung hingga 18 Oktober 2026 ini memadukan kekayaan kain tradisional Nusantara dengan kreativitas desainer dalam menciptakan busana modern.
Kegiatan tersebut juga menjadi ruang promosi bagi desainer dan pengrajin untuk memperkenalkan karya sekaligus memperluas jangkauan pasar.
Rico Waas mengatakan, kain tradisional Indonesia memiliki nilai yang jauh melampaui keindahan motif.
Setiap kain menyimpan sejarah, identitas, dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurut dia, kekayaan budaya tersebut dapat menjadi modal untuk menghasilkan produk fesyen yang memiliki karakter kuat dan mampu bersaing di pasar global.
"Baju-baju lokal kita, kain-kain lokal tradisional kita ini harganya sesungguhnya tidak terhingga karena memiliki akar budaya yang sangat kuat. Saya sangat meyakini kain-kain lokal kita ini mampu menembus pasar internasional," ujar Rico Waas.
Rico menyebut Indonesia memiliki beragam wastra tradisional, mulai dari ulos, kain Melayu, Karo, Minang, dan Riau hingga batik dari Jawa.
Keragaman tersebut perlu terus diperkenalkan melalui inovasi desain agar semakin dikenal dan diminati masyarakat, termasuk konsumen di luar negeri.
Namun, menurut Rico, pengembangan fesyen lokal tidak cukup hanya mengandalkan pasar internasional.
Dukungan konsumen dalam negeri juga diperlukan agar produk karya desainer Indonesia memiliki pasar yang kuat.
Ia mengajak masyarakat untuk membangun kebanggaan terhadap produk lokal dengan membiasakan diri memakai dan membeli karya desainer Indonesia.
"Kota Medan harus bisa menjadi raja untuk kotanya sendiri. Penting bagi kita membiasakan diri memakai baju-baju karya lokal kita dan membeli produk-produk desainer lokal kita," tegasnya.
Rico berharap desainer asal Medan dapat memperluas pemasaran karya mereka hingga ke tingkat internasional.
Ia menilai kekayaan budaya dapat menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan produk fesyen yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas daerah.
Ketua Pelaksana MFCF 2026 yang juga Kepala Dinas Pariwisata Kota Medan, M. Odi Anggia Batubara, mengatakan festival tersebut melibatkan delapan desainer lokal dan dua desainer nasional.
Menurut Odi, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mengembangkan subsektor ekonomi kreatif, terutama industri fesyen, sekaligus memperluas pemasaran produk kreatif Kota Medan.
Ia menjelaskan, industri fesyen melibatkan banyak pelaku usaha yang saling berkaitan.
Rantai kegiatan tersebut mencakup pengrajin kain, penyedia bahan, desainer, hingga konsumen.
Karena itu, pengembangan industri fesyen tidak hanya memberikan ruang bagi desainer untuk berkarya, tetapi juga berpotensi menciptakan peluang ekonomi bagi pengrajin dan pelaku usaha lainnya.
Selama enam hari penyelenggaraan, MFCF 2026 menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari peragaan busana, diskusi tentang ulos dan kriya, kompetisi peragaan busana anak dan remaja, hingga pertunjukan musik dan penampilan artis.
Agenda bertema Hari Ulos juga dijadwalkan berlangsung pada 17 Oktober 2026.
Sejumlah desainer yang menampilkan karya dalam festival ini antara lain Torang Sitorus, Wieke Dwiharti, Yuni Pohan, Haze Be Wear, Isye Siregar, Mojo Kebaya, Feby Ayang, Yenti Lim, Nadia Azhari, Sadina, dan Deti Fitri.
Melalui MFCF 2026, Pemerintah Kota Medan berupaya mempertemukan pelestarian budaya dengan pengembangan industri kreatif.
Inovasi desain diharapkan membuat ulos dan kain tradisional lainnya semakin relevan dengan tren fesyen modern tanpa kehilangan nilai budaya yang menjadi identitasnya.* (ad)
JAKARTA Bareskrim Polri menetapkan sembilan perusahaan perkebunan kelapa sawit sebagai tersangka kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyampaikan keprihatinannya atas operas
NASIONAL
JAKARTA Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Wachid menyampaikan keprihatinan atas operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korup
NASIONAL
MEDAN Tempat belanja kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Medan Tembung 3 yang diduga melakukan mark up harga bahan ba
HUKUM DAN KRIMINAL
BATU BARA Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Labuhan Ruku terus memperkuat upaya pembinaan narapidana pengguna narkotika, psikotro
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Politikus senior Partai Golkar Rully Chairul Azwar membahas peluang pengembangan bisnis pengolahan sampah di Indonesia. Pembahasan
NASIONAL
JAKARTA Desakan agar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ditetapkan sebagai bencana nasional semakin menguat. Sejumlah pihak, mulai dari
NASIONAL
JAKARTA Mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah meminta majelis hakim membatalkan surat dakwaan
HUKUM DAN KRIMINAL
ACEH BESAR Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha) menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Besar melalui penandatanga
PENDIDIKAN
SAMARINDA Keberadaan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas&039ud di Singapura menjadi sorotan publik di tengah kebakaran hutan dan
PEMERINTAHAN