Survei Median: 48,9 Persen Publik Nilai Kebebasan Berpendapat di Indonesia Masih Bebas
JAKARTA Hasil survei Media Survei Nasional (Median) menunjukkan 48,9 persen masyarakat menilai kondisi kebebasan berpendapat di Indonesi
NASIONAL
JAKARTA -Di balik gemerlapnya kota metropolitan Jakarta, terdapat sebuah kisah yang jarang terdengar. Di bawah jalur bebas hambatan, di tepi Kali Grogol, terdapat permukiman warga yang hidup dalam keterbatasan dan kekurangan. Mereka adalah para pendatang yang tak terdata, yang menghadapi kesulitan ekonomi namun tetap berjuang untuk menggapai impian mereka.
Pada Rabu, 24 April 2024, jalan Kepanduan I, KM 17.400 Jalan Tol Dalam Kota di samping Kali Grogol, Jakarta Barat, menjadi saksi bisu dari perjuangan anak-anak di bawah kolong tol. Meskipun mobil dan truk melintas dengan kecepatan tinggi di atasnya, di bawah jalur tersebut, terdapat sebuah sekolah. Puluhan anak bersekolah di ruang terbatas, di antara tanah dan bangunan jalan tol, di antara sekat-sekat dan pengap rumah kontrakan. Mereka adalah harapan masa depan yang bersinar di tengah kegelapan kemiskinan.
Tak ada raut kesedihan di wajah mereka. Riuh rendah suara mereka terdengar meskipun kebisingan kendaraan yang melintas tak henti-hentinya. Anak-anak ini tampak riang gembira, berlari ke sana-sini selama proses belajar mengajar berlangsung. Mereka duduk tekun sambil mendengarkan cerita dan ucapan dari para gurunya di tengah keadaan yang tak layak untuk belajar.
Dengan ketinggian hanya di bawah satu setengah meter, mereka harus berhati-hati agar kepalanya tidak terantuk beton dari kolong tol. Namun, hal itu tidak menghalangi semangat mereka untuk belajar. Sekolah anak-anak tersebut berada di satu sisi bagian tengah Kolong Tol Petak Seng Jelambar. Di situ juga terdapat puluhan hunian rumah petak yang dibangun di bawah kolong jalan bebas hambatan itu.
Kepala Sekolah Pondok Domba Kolong Tol Petak Seng Jelambar, Anggiat Simanulang, menjelaskan bahwa saat ini terdapat 68 anak yang bersekolah di kolong tol dengan kondisi seadanya. “Dulu 70, sekarang tinggal 55 anak yang aktif, walaupun yang tercatat ada 68. Anak-anaknya kebanyakan orangtua pindah-pindah karena faktor pekerjaan,” ujarnya.
Anak-anak yang bersekolah di kolong tol kebanyakan berasal dari keluarga ekonomi tidak mampu yang tinggal agak jauh dari TK atau SD formal. Mereka adalah para pendatang yang tak memiliki akses mudah ke pendidikan formal, namun tetap gigih dalam mengejar cita-cita mereka.
Di tengah keterbatasan tersebut, Pondok Domba Kolong Tol Petak Seng Jelambar menjadi pelita bagi anak-anak di sana. Sekolah ini memberikan pendidikan secara cuma-cuma bagi anak-anak dari kelompok marjinal tersebut, membantu mereka mewujudkan mimpi-mimpi mereka di tengah keterbatasan.
Namun, perjuangan sekolah ini tidaklah mudah. Sebelumnya, sekolah ini pernah terancam oleh pembongkaran pada masa pemerintahan sebelumnya. “Dulu sempat dibongkar Pas Ahok. Ada tiga sekolah dibongkar,” kenang Anggiat dengan wajah sedih.
Meskipun dalam kondisi ekonomi serba terbatas, para orangtua tetap berjuang agar anak-anak mereka mendapat pendidikan yang layak. Ellen, salah satu penghuni kontrakan di bawah kolong tol, merasa sangat terbantu dengan adanya sekolah ini. Anaknya sudah satu tahun bersekolah di sini dan tumbuh kembangnya sangat baik.
Namun, kehidupan di bawah kolong tol bukanlah pilihan yang mudah. Banyak orangtua yang harus bergulat dengan pekerjaan serabutan dan kondisi ekonomi yang sulit. Namun, mereka tetap bersyukur dan bersemangat untuk menyambung hidup demi anak-anak mereka.
Dari kisah di bawah kolong tol ini, kita belajar tentang keteguhan dan semangat untuk terus berjuang, meskipun dalam kondisi yang sulit. Mereka adalah bukti bahwa pendidikan adalah kunci untuk memecahkan belenggu kemiskinan. Dan di balik kesulitan, ada harapan dan kekuatan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
(N/014)
JAKARTA Hasil survei Media Survei Nasional (Median) menunjukkan 48,9 persen masyarakat menilai kondisi kebebasan berpendapat di Indonesi
NASIONAL
JAKARTA Duta Besar Republik Yaman untuk Indonesia Salem Ahmed Abdulrahman Balfakeeh meminta pemerintah Indonesia membuka kantor Konsulat
NASIONAL
JAKARTA Pemerintah masih mengkaji rencana pembatasan pembelian bahan bakar minyak atau BBM jenis Pertalite berdasarkan kelompok kesejaht
EKONOMI
JAKARTA Hasil survei Poltracking Indonesia menunjukkan 51,2 persen publik menilai kinerja komunikasi pemerintah berjalan baik. Angka ter
NASIONAL
MEDAN Tim penyidik Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Medan masih menyelidiki kematian Winda Lorenza Gowasa (35), eks istri polisi yang
HUKUM DAN KRIMINAL
MEDAN Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menyoroti sikap sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) yang dinilai kurang k
PEMERINTAHAN
MEDAN Pemerintah Kota Medan meminta hasil reses anggota DPRD Kota Medan tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi segera diterjemahkan menj
PEMERINTAHAN
OlehEben E. Siadari TIBANYA Pangeran Harry dan keluarga di Bandara Birmingham, Inggris, 26 Agustus 2026 lalu, tidak menjadi berita utama di
OPINI
MEDAN Pengadilan Negeri Medan menjatuhkan vonis sembilan tahun penjara kepada Muhammad Rafi dalam perkara produksi vape yang mengandung
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Pelibatan organisasi masyarakat atau ormas untuk membubarkan massa yang rusuh dinilai berisiko memicu konflik horizontal. Pakar
HUKUM DAN KRIMINAL