BREAKING NEWS
Sabtu, 30 Agustus 2025

Amir Hamzah: Raja Penyair Pujangga Baru dan Pahlawan Nasional asal Langkat yang Gugur dalam Revolusi

Adelia Syafitri - Jumat, 09 Mei 2025 08:01 WIB
Amir Hamzah: Raja Penyair Pujangga Baru dan Pahlawan Nasional asal Langkat yang Gugur dalam Revolusi
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BITVONLINE.COM -Amir Hamzah bukan hanya dikenal sebagai tokoh sastra paling berpengaruh dalam angkatan Pujangga Baru, tetapi juga sebagai pahlawan nasional yang gugur dalam revolusi sosial pasca kemerdekaan.

Jejak pengabdiannya meninggalkan warisan abadi, baik dalam bentuk puisi maupun dalam catatan sejarah perjuangan bangsa.

Lahir dengan nama lengkap Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera pada 28 Februari 1911 di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara, Amir berasal dari keluarga bangsawan Melayu.

Baca Juga:

Ayahnya, Tengku Muhammad Adil, adalah wakil sultan untuk wilayah Langkat Bengkulu di Binjai.

Latar belakang bangsawan tidak menghalangi Amir untuk berpikir progresif dan menyuarakan pembaruan melalui karya sastra.

Baca Juga:

Pendidikan Amir dimulai di Langkatsche School (HIS), berlanjut ke MULO Medan, dan kemudian menyelesaikan sekolah menengah di MULO Menjangan, Batavia.

Minatnya pada sastra tumbuh pesat saat menempuh studi di AMS Solo jurusan Sastra Timur, tempat ia mulai aktif menulis sajak-sajak yang kelak menjadi tonggak kesusastraan modern Indonesia.

Tokoh Sentral Pujangga Baru

Amir Hamzah merupakan salah satu tokoh utama dalam gerakan Pujangga Baru bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane.

Mereka memperkenalkan gaya penulisan sastra modern yang berjiwa nasionalisme dan kebudayaan timur, serta menerbitkan majalah sastra Poedjangga Baroe yang menjadi wadah utama karya-karya sastra era 1930-an.

Lebih dari 160 karya telah dicatat sebagai bagian dari warisan Amir Hamzah, termasuk kumpulan sajak Buah Rindu, Nyanyi Sunyi, Setanggi Timur, serta terjemahan karya besar dunia seperti Baghavad Gita.

Karya-karya tersebut menjadikan Amir sebagai "Raja Penyair Zaman Pujangga Baru", bahkan satu-satunya penyair Indonesia yang diakui kelas dunia sebelum masa kemerdekaan.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Fadli Zon Bacakan Puisi 'Untukmu Bung Tomo' yang Ditulisnya 40 Tahun Lalu
Gubernur Sumut Tegur Wali Kota Binjai soal Isu Program Lima Hari Sekolah: “Jangan Sebarkan Informasi Keliru”
Dosen Unimal Apresiasi TNI: Pemugaran Makam Cut Nyak Meutia Bangkitkan Semangat Nasionalisme
Danrem 011/Lilawangsa Pimpin 200 Prajurit TNI Pugar Makam Pahlawan Cut Nyak Meutia di Tengah Hutan Aceh Utara
Menko Polhukam Yusril Dukung Daud Beureueh Dapat Gelar Pahlawan Nasional: “Ia Republikan Sejati”
Peringati 118 Tahun Gugurnya Raja Sisingamangaraja XII, Pemkab Toba Gelar Upacara Khidmat di Balige
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru