BITVONLINE.COM– Nama Gerhard Mulia Panggabean atau yang akrab disapa Pak GM adalah salah satu tokoh pers dan pejuang budaya Batak yang jejaknya abadi dalam perjalanan jurnalistik, politik, dan sosial di Sumatera Utara.
Pendiri dan Pemimpin Redaksi Harian Sinar Indonesia Baru (SIB) ini bukan hanya seorang jurnalis, tetapi juga penggerak rakyat, pejuang literasi, dan pemersatu masyarakat adat Batak.
Lahir dan besar dalam kultur membaca yang kuat, GM Panggabean dikenal sebagai pemimpin redaksi yang berani, teguh dalam prinsip, dan memiliki visi tajam terhadap perubahan sosial.
Ia mendirikan Harian SIB pada 9 Mei 1970 bersama MD Wakkary dan kawan-kawan, setelah sebelumnya mengelola Harian Sinar Harapan edisi Sumatera Utara.
Dalam waktu singkat, Harian SIB menjelma menjadi koran utama di Sumatera. Tiga tahun pasca berdiri, SIB mendominasi pasar koran di Sumatera Utara, Aceh, dan Riau.
Bahkan di akhir 1980-an, SIB mencantumkan klaim "koran terbesar di Sumatera" di kepala beritanya, sebuah klaim yang diakui luas dari segi oplah dan pengaruh publikasi.
"Pak GM bukan sekadar wartawan, beliau adalah pejuang akar rumput yang benar-benar memahami denyut rakyat," ujar seorang mantan redaktur SIB yang pernah bekerja di bawah kepemimpinannya.
Ia juga mendirikan Lembaga Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII pada 17 Juni 1979.
Deklarasi lembaga ini digelar secara megah dalam Rapat Umum di Stadion Teladan, Medan, dan dihadiri puluhan ribu warga Batak dari berbagai sub-etnis: Toba, Simalungun, Karo, Mandailing, Pakpak-Dairi, Angkola, hingga pesisir.
Melalui lembaga ini, GM menggagas pembangunan Tugu Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII di depan Stadion Teladan, serta mendirikan Universitas Sisingamangaraja XII di Medan dan Siborongborong.
Kedua institusi pendidikan ini lahir dari aspirasi tokoh-tokoh adat yang ia himpun melalui lembaganya.
Kiprah dan ketokohannya juga mengantarkannya menjadi anggota MPR-RI selama dua periode, mewakili Sumatera Utara.
GM Panggabean wafat di Singapura pada 20 Januari 2011, meninggalkan seorang istri dan delapan orang anak.
Warisan perjuangannya terus hidup melalui Harian SIB, lembaga adat, institusi pendidikan, dan semangat pers yang merakyat.*