Qodari Ungkap Alasan Prabowo Perketat Pengawasan Ekspor Komoditas Strategis
JAKARTA Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari mengungkap alasan Presiden Prabowo Subian
EKONOMI
JAKARTA -Pemerintahan Indonesia kembali menjadi sorotan atas kebijakan anggaran yang dinilai tidak proporsional dalam mendukung fungsi-fungsi lembaga negara. Anggota Badan Anggaran DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Dolfie Othniel Fredric Palit, mengungkapkan kekecewaannya terhadap kecenderungan anggaran yang lebih memihak kepada eksekutif dibandingkan dengan legislatif, yudikatif, dan lembaga pengawas lainnya.
Dalam rapat panitia kerja Kebijakan Belanja Pemerintah Pusat untuk Rancangan APBN 2025 dengan Kementerian Keuangan, Dolfie menyoroti bahwa selama lima tahun terakhir, anggaran untuk lembaga-lembaga pengawas pemerintahan, seperti DPR, MPR, DPD, Badan Pengawas Keuangan (BPK), Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, dan Komisi Yudisial, semakin menyusut relatif terhadap total APBN.
“Dalam 5 tahun terakhir, anggaran untuk eksekutif bertambah Rp 1.000 triliun, sementara untuk lembaga legislatif dan yudikatif hanya bertambah Rp 6 triliun. Ini menunjukkan ketidakproporsionalan dalam alokasi anggaran yang seharusnya mendukung fungsi kontrol dan pengawasan terhadap pemerintahan,” ujar Dolfie dengan nada penyesalan.
Menurut data yang disampaikannya, pada tahun 2020, total anggaran untuk lembaga pengawas hanya mencapai Rp 20,9 triliun atau setara dengan 1,2% dari total APBN. Angka ini terus menurun hingga tahun 2024, di mana alokasi anggaran untuk lembaga-lembaga tersebut mencapai Rp 26,4 triliun, yang hanya setara dengan 1% dari total APBN.
Pada paparannya, Dolfie menegaskan bahwa amanat Undang-Undang APBN seharusnya lebih menguatkan fungsi lembaga negara dalam pengawasan terhadap pemerintah. Namun, realitasnya menunjukkan bahwa eksekutif mendapatkan porsi yang jauh lebih besar, sementara lembaga pengawas cenderung mendapat perhatian terbatas.
“Kritik ini bukan semata-mata soal alokasi anggaran, tetapi juga tentang bagaimana kebijakan anggaran dapat mempengaruhi keseimbangan kekuasaan di antara cabang-cabang pemerintahan. Semakin besar alokasi untuk eksekutif, semakin terpinggirkannya fungsi pengawasan yang seharusnya kuat dari legislatif dan yudikatif,” lanjut Dolfie.
Pengamat politik anggaran, Dr. Lina Fitriani, menambahkan bahwa penyeimbangan alokasi anggaran antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif menjadi kunci penting dalam menjaga demokrasi yang sehat. “Ketidakseimbangan ini bisa menimbulkan potensi krisis kelembagaan di masa depan, di mana fungsi pengawasan dan check-and-balance tidak dapat berjalan optimal,” tuturnya.
Sementara itu, respons dari pihak eksekutif dan badan-badan terkait belum tersedia dalam komentar terkait kritik yang disampaikan oleh Dolfie Othniel Fredric Palit. Namun demikian, isu ini diharapkan dapat menjadi fokus perdebatan yang lebih luas dalam proses penyusunan APBN 2025, untuk memastikan bahwa alokasi anggaran negara benar-benar mencerminkan prinsip-prinsip demokrasi dan good governance yang diharapkan oleh masyarakat.
(N/014)
JAKARTA Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari mengungkap alasan Presiden Prabowo Subian
EKONOMI
ANYER Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tidak akan mampu menangani seluruh penghitungan kerugian n
NASIONAL
JAKARTA Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak boleh tinggal diam terkait penahanan sejumlah
NASIONAL
JAKARTA Kementerian Sosial (Kemensos) memastikan kesiapan dana bantuan tahap lanjutan senilai lebih dari Rp1 triliun untuk mempercepat pemu
NASIONAL
MEDAN Pemerintah Kota Medan meluncurkan kebijakan baru yang menanggung penuh biaya pengobatan bagi warga yang menjadi korban kejahatan jala
PEMERINTAHAN
MEDAN Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menegaskan komitmennya dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan
NASIONAL
MEDAN Pemerintah Kota Medan menyatakan dukungan penuh terhadap pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Sekolah Rakyat (SR) yang saat in
PEMERINTAHAN
MEDAN Wali Kota Medan Rico Waas menyebut Pemerintah Kota (Pemkot) Medan menanggung iuran BPJS Ketenagakerjaan bagi 17.851 pekerja informal
PEMERINTAHAN
JAKARTA Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) memberikan penghargaan berupa bonus beasiswa senilai Rp10 juta kepada mahasiswa dengan
PENDIDIKAN
JAKARTA Delegasi Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) atau Keuskupan Militer TNIPolri melakukan audiensi perdana ke Kedutaan Besar V
NASIONAL