Qodari Ungkap Alasan Prabowo Perketat Pengawasan Ekspor Komoditas Strategis
JAKARTA Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari mengungkap alasan Presiden Prabowo Subian
EKONOMI
SEMARANG –Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip), dr. Yan Wisnu Prajoko, mengungkapkan adanya praktik bullying berupa pungutan biaya yang signifikan terhadap mahasiswa baru di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Prodi Anestesi. Pengakuan ini datang setelah sorotan publik dan kasus tragis yang melibatkan seorang mahasiswa PPDS, dokter Aulia Risma, yang ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya pada bulan Agustus lalu.
Dalam sebuah jumpa pers di kantornya pada Jumat (13/9), dr. Yan Wisnu menjelaskan bahwa mahasiswa baru di Prodi Anestesi dikenakan pungutan uang sebesar Rp 20 hingga Rp 40 juta untuk periode semester pertama atau enam bulan. Iuran ini dikumpulkan dari 7 hingga 11 mahasiswa baru per semester dan digunakan untuk berbagai keperluan operasional, termasuk konsumsi, sewa mobil, dan kos.
“Di semester pertama, setiap mahasiswa baru di Prodi Anestesi diharuskan membayar iuran sebesar Rp 20-40 juta per bulan selama enam bulan. Iuran ini untuk gotong-royong konsumsi dan juga untuk membiayai kebutuhan operasional seperti menyewa mobil dan kos,” ungkap dr. Yan Wisnu.
Menurutnya, iuran tersebut merupakan hasil dari kesalahan sistem kerja yang diterapkan dalam program PPDS. Dikatakan bahwa pungutan ini dilakukan sebagai bentuk gotong-royong, di mana mahasiswa senior juga menerima manfaat dari uang tersebut. Namun, dr. Yan Wisnu mengakui bahwa apa pun alasannya, praktik tersebut tidak dapat dibenarkan dan termasuk dalam kategori bullying.
“Iuran ini sebenarnya merupakan bentuk dari sistem kerja yang keliru, tetapi pada akhirnya, praktik ini tetap dianggap sebagai perundungan. Apa pun alasan rasionalisasi yang diberikan, masyarakat luar akan melihatnya sebagai sesuatu yang tidak tepat,” tambahnya.
Kasus ini mendapat perhatian luas setelah kematian dokter Aulia Risma, yang menjadi salah satu korban dari sistem pendidikan yang kontroversial ini. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kemudian memutuskan untuk menghentikan sementara PPDS Program Studi Anestesi di RSUP Dr. Kariadi Semarang, tempat dokter Aulia menempuh pendidikan spesialisnya, karena adanya dugaan perundungan.
Sebelumnya, Undip sempat membantah adanya perundungan dalam program PPDS mereka. Namun, dengan munculnya pengakuan dr. Yan Wisnu dan fakta baru terkait pungutan biaya, Universitas Diponegoro kini mengakui adanya masalah dalam sistem pembinaan mereka dan meminta maaf atas kejadian yang telah menimpa mahasiswanya.
“Pengakuan ini merupakan langkah awal untuk memperbaiki sistem dan memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Kami akan bekerja sama dengan pihak berwenang untuk menindaklanjuti masalah ini dan memastikan bahwa program pendidikan kami berjalan sesuai dengan standar yang berlaku,” kata dr. Yan Wisnu menutup pernyataannya.
Universitas Diponegoro kini menghadapi tantangan besar untuk memperbaiki sistem pembinaan di Prodi Anestesi dan meningkatkan transparansi dalam pengelolaan iuran mahasiswa agar ke depannya tidak ada lagi praktik bullying yang merugikan mahasiswa
(n/014)
JAKARTA Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari mengungkap alasan Presiden Prabowo Subian
EKONOMI
ANYER Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tidak akan mampu menangani seluruh penghitungan kerugian n
NASIONAL
JAKARTA Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini menegaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak boleh tinggal diam terkait penahanan sejumlah
NASIONAL
JAKARTA Kementerian Sosial (Kemensos) memastikan kesiapan dana bantuan tahap lanjutan senilai lebih dari Rp1 triliun untuk mempercepat pemu
NASIONAL
MEDAN Pemerintah Kota Medan meluncurkan kebijakan baru yang menanggung penuh biaya pengobatan bagi warga yang menjadi korban kejahatan jala
PEMERINTAHAN
MEDAN Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menegaskan komitmennya dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan
NASIONAL
MEDAN Pemerintah Kota Medan menyatakan dukungan penuh terhadap pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Sekolah Rakyat (SR) yang saat in
PEMERINTAHAN
MEDAN Wali Kota Medan Rico Waas menyebut Pemerintah Kota (Pemkot) Medan menanggung iuran BPJS Ketenagakerjaan bagi 17.851 pekerja informal
PEMERINTAHAN
JAKARTA Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) memberikan penghargaan berupa bonus beasiswa senilai Rp10 juta kepada mahasiswa dengan
PENDIDIKAN
JAKARTA Delegasi Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) atau Keuskupan Militer TNIPolri melakukan audiensi perdana ke Kedutaan Besar V
NASIONAL