Tiga kader tarjih atau ulama muda Muhammadiyah asal Sumut yang mengikuti Konferensi Mufasir Muhammadiyah Jilid-III, di Kulonprogo, Yogyakarta (foto: ist)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Ini menjadi pijakan bagi kita melakukan transformasi masyarakat yang masih pra-modern menjadi masyarakat modern. Melalui tafsir at-tanwir ini kita berharap yang hidup di Muhammadiyah bukan hanya al maun saja, tapi juga seluruh isi Al Quran," jelasnya.
Dengan berlandas pada seluruh ayat-ayat Al Quran, maka Hamim menambahkan harapannya agar Muhammadiyah dapat hidup dengan lebih besar dalam rangka mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin atau menghadirkan rahmat bagi semesta alam.
"Dengan Al maun, Muhammadiyah telah menunjukkan kebaikan hidup, dan dengan Al Quran secara keseluruhan diharapkan Muhammadiyah dapat hidup lebih besar mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin, sebagai agama yang diwahyukan oleh Allah dan didakwahkan oleh Nabi untuk mewujudkan hayyah thoyyibah," tutur Hamim.
Menurut Hamim, secara sederhana hayyah thayyibah dapat diwujudkan dengan iman dan amal saleh sehingga diharapkan hal tersebut menghasilkan tiga hal yaitu kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan.
"Pertama, lahum ajruhum 'inda rabbihim atau sejahtera se sejahteranya; Kedua, lā khaufun 'alaihim atau tidak ada ketakutan jenis apapun, damai sedamai damainya; Dan terakhir, wa lā hum yaḥzanụn -tidak ada kesedihan dalam semua prosesnya- atau bahagia sebahagia bahagianya," paparnya.
Maka untuk mewujudkan bekal tersebut, Hamim menyebut inilah yang menjadi landasan agar jiwa tafsir at-tanwir dapat diwujudkan sesuai dengan paham agama Muhammadiyah dan landasan teologis untuk transformasi umat Islam menjadi masyarakat modern.*