Berdasarkan penjelasan Saudipedia Kementerian Media Kerajaan Arab Saudi, desain Masjidil Haram menekankan fungsi ibadah.
Area Mataf, tempat tawaf mengelilingi Ka'bah, harus mampu menampung jamaah secara bersamaan, sementara jalur Mas'aa mengikuti rute historis antara Safa dan Marwa.
Prioritas utama setiap tahap perluasan masjid adalah kelancaran arus manusia, keamanan, dan kapasitas, bukan keseragaman estetika.
Sejak masa awal, Masjidil Haram mengalami berbagai fase pembangunan.
Setiap perluasan harus mengintegrasikan bangunan lama yang tidak selalu sejajar, sehingga bentuk masjid berkembang secara organik.
Alih-alih membongkar seluruh struktur, penguasa Kerajaan Arab Saudi menyesuaikan dan menambah bangunan lama, menghasilkan tata ruang yang dinamis dan fungsional.
Perluasan signifikan dimulai pada masa Raja Abdulaziz Ibn Saud setelah Mekkah kembali ke tangan kerajaan pada 1924.
Seluruh masjid diterangi listrik, Mas'aa dipindahkan ke dalam kompleks masjid, dan kapasitas meningkat 58 persen.
Renovasi meliputi lantai marmer, kanopi di halaman tawaf, hingga pendirian pabrik Kiswah Ka'bah.
Era Raja Faisal, Raja Khalid, dan Raja Fahd menyusul dengan serangkaian modernisasi: pembangunan perpustakaan, penggantian pintu Ka'bah dengan emas murni, pelapisan marmer tahan panas di Mataf, serta perluasan sumur Zamzam.
Pada 1983, jumlah jamaahhaji dari luar negeri pernah melampaui satu juta orang.
Perluasan masif ketiga dimulai pada era Raja Abdullah dan diselesaikan pada masa Raja Salman, meningkatkan kapasitas salat hingga dua juta jamaah.
Proyek ini mencakup halaman luar, toilet, jalur pejalan kaki, terowongan, area layanan, serta stasiun air dan listrik.
Sekali lagi, desain Masjidil Haram mengikuti kebutuhan riil jamaah: aman, nyaman, dan mampu menampung jutaan manusia.
Hasilnya, meski tidak simetris secara geometris, Masjidil Haram menjadi contoh arsitektur yang mengutamakan fungsi, keselamatan, dan kenyamanan jamaah, sekaligus mempertahankan nilai historis dan spiritual Ka'bah sebagai pusat ibadah umat Islam di seluruh dunia.*
(km/ad)
Editor
: Abyadi Siregar
Mengapa Masjidil Haram Tidak Simetris? Ini Sejarahnya