BREAKING NEWS
Rabu, 25 Februari 2026

Mengapa Masjidil Haram Tidak Simetris? Ini Sejarahnya

Adelia Syafitri - Rabu, 25 Februari 2026 10:16 WIB
Mengapa Masjidil Haram Tidak Simetris? Ini Sejarahnya
Masjidil Haram tampak dari atas. (foto: rusdibenyamin/ig)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Dari atas, Masjidil Haram tampak tidak sepenuhnya simetris.

Bangunannya yang kompleks, berkembang ke berbagai arah, dan tampak organik bukanlah kebetulan.

Justru ketidaksimetrian ini lahir dari kebutuhan praktis, yakni menampung jutaan jamaah dalam ibadah haji dan umrah.

Baca Juga:

Berdasarkan penjelasan Saudipedia Kementerian Media Kerajaan Arab Saudi, desain Masjidil Haram menekankan fungsi ibadah.

Area Mataf, tempat tawaf mengelilingi Ka'bah, harus mampu menampung jamaah secara bersamaan, sementara jalur Mas'aa mengikuti rute historis antara Safa dan Marwa.

Prioritas utama setiap tahap perluasan masjid adalah kelancaran arus manusia, keamanan, dan kapasitas, bukan keseragaman estetika.

Sejak masa awal, Masjidil Haram mengalami berbagai fase pembangunan.

Setiap perluasan harus mengintegrasikan bangunan lama yang tidak selalu sejajar, sehingga bentuk masjid berkembang secara organik.

Alih-alih membongkar seluruh struktur, penguasa Kerajaan Arab Saudi menyesuaikan dan menambah bangunan lama, menghasilkan tata ruang yang dinamis dan fungsional.

Perluasan signifikan dimulai pada masa Raja Abdulaziz Ibn Saud setelah Mekkah kembali ke tangan kerajaan pada 1924.

Seluruh masjid diterangi listrik, Mas'aa dipindahkan ke dalam kompleks masjid, dan kapasitas meningkat 58 persen.

Renovasi meliputi lantai marmer, kanopi di halaman tawaf, hingga pendirian pabrik Kiswah Ka'bah.

Era Raja Faisal, Raja Khalid, dan Raja Fahd menyusul dengan serangkaian modernisasi: pembangunan perpustakaan, penggantian pintu Ka'bah dengan emas murni, pelapisan marmer tahan panas di Mataf, serta perluasan sumur Zamzam.

Pada 1983, jumlah jamaah haji dari luar negeri pernah melampaui satu juta orang.

Perluasan masif ketiga dimulai pada era Raja Abdullah dan diselesaikan pada masa Raja Salman, meningkatkan kapasitas salat hingga dua juta jamaah.

Proyek ini mencakup halaman luar, toilet, jalur pejalan kaki, terowongan, area layanan, serta stasiun air dan listrik.

Sekali lagi, desain Masjidil Haram mengikuti kebutuhan riil jamaah: aman, nyaman, dan mampu menampung jutaan manusia.

Hasilnya, meski tidak simetris secara geometris, Masjidil Haram menjadi contoh arsitektur yang mengutamakan fungsi, keselamatan, dan kenyamanan jamaah, sekaligus mempertahankan nilai historis dan spiritual Ka'bah sebagai pusat ibadah umat Islam di seluruh dunia.*


(km/ad)

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Pemkab Asahan Laksanakan Safari Ramadhan 1447 H, Kunjungi 104 Masjid dan Mushala
Kubu Yaqut Protes KPK: Kerugian Negara dalam Kasus Kuota Haji Belum Jelas
Gus Yaqut Jelaskan Alasan Pembagian Kuota Haji 2024: Keselamatan Jemaah Jadi Prioritas
Terjerat Korupsi Kuota Haji, Eks Menag Yaqut: Pemimpin Tak Boleh Takut Ambil Kebijakan yang Bermanfaat bagi Bangsa
Lapas Kelas I Medan Gelar Pesantren Ramadhan 1447 H, Perkuat Pembinaan Spiritual WBP
KPK Mangkir, Sidang Praperadilan Gus Yaqut Mundur ke 3 Maret
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru