BREAKING NEWS
Jumat, 28 Agustus 2026

Gebyar Baksos Milenial 2025: Serukan Reformasi Birokrasi di Tengah Pemangkasan APBD DKI

gusWedha - Selasa, 21 Oktober 2025 07:20 WIB
Gebyar Baksos Milenial 2025: Serukan Reformasi Birokrasi di Tengah Pemangkasan APBD DKI
Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Jaya Center Foundation, Budi Mulyawan, SH. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97 dan HUT TNI ke-80, Jaya Center Foundation akan menggelar acara "Gebyar Baksos Milenial Jakarta 2025" pada akhir Oktober ini di GOR Jakarta Timur, Jalan Otista Raya, Jatinegara, Jakarta Timur.

Kegiatan ini tidak hanya akan diisi dengan aksi sosial dan pelayanan kemasyarakatan, tetapi juga menjadi ruang refleksi publik terhadap tantangan tata kelola pemerintahan Jakarta pasca pemangkasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Tema yang diangkat: "Urgensi Reformasi Birokrasi Berbasis SDM dan Program Berdampak Langsung pada Masyarakat Pasca Pemangkasan APBD Pemprov Jakarta."

Baca Juga:

Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Jaya Center Foundation, Budi Mulyawan, SH, menegaskan bahwa kondisi fiskal Jakarta yang sedang mengalami penyesuaian justru menjadi momentum penting untuk mempercepat reformasi birokrasi.

"Pemangkasan APBD bukan alasan untuk menurunkan kinerja. Justru ini saatnya pemerintah membuktikan efisiensi dan ketepatan sasaran anggaran publik," tegas Budi dalam keterangannya di Jakarta, Senin (20/10).

Menurutnya, birokrasi Jakarta ke depan harus lebih ramping, adaptif, dan berorientasi pada hasil nyata.

Reformasi birokrasi berbasis sumber daya manusia (SDM) dianggap menjadi kunci utama agar program-program prioritas seperti Kartu Jakarta Pintar (KJP), Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU), dan pengembangan transportasi publik tetap berjalan meskipun fiskal daerah sedang ketat.

Dalam paparannya, Budi juga menyoroti pentingnya posisi Sekretaris Daerah (Sekda) sebagai motor utama penggerak reformasi birokrasi di Ibu Kota.

"Sekda bukan sekadar pejabat administratif. Ia harus menjadi penggerak utama birokrasi dan jembatan koordinasi yang kuat antara kepala daerah dan seluruh OPD," ujar Budi.

Ia menekankan pentingnya proses seleksi Sekda yang transparan, berbasis merit, dan terbuka bagi ASN internal

Proses ini penting untuk menjaga kesinambungan program serta meningkatkan kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintahan.

Reformasi birokrasi juga menuntut perbaikan dalam sistem anggaran. Menurut Jaya Center Foundation, setelah pemangkasan APBD, Pemprov Jakarta harus lebih selektif dalam menentukan prioritas program.

"Setiap rupiah anggaran harus menghasilkan manfaat nyata. Pemanfaatan platform digital seperti SMARTAPBD bisa meningkatkan transparansi dan akuntabilitas," jelas Budi.

Ia menegaskan bahwa birokrasi yang ideal bukanlah yang gemuk dengan regulasi, tetapi gesit dalam memberikan solusi.

Prinsip efisiensi dan efektivitas harus menjadi roh dari setiap kebijakan pemerintah daerah.

Budi juga menyoroti pentingnya reformasi hingga ke tingkat kelurahan. Menurutnya, keberhasilan reformasi birokrasi ditentukan oleh efektivitas pelayanan di tingkat paling bawah.

Ia mendorong penataan ulang posisi lurah agar menjadi bagian penting dari perbaikan birokrasi dan penguatan integritas pelayanan publik.

"Reformasi bukan hanya soal struktur, tapi soal budaya kerja yang bersih, terbuka, dan melayani. Di tingkat kelurahanlah wajah nyata pemerintah dilihat masyarakat," tegasnya.

Untuk mendukung hal tersebut, ia mendorong penggunaan alat pengawasan seperti Monitoring Center for Prevention (MCP) dari KPK serta Survei Penilaian Integritas (SPI) sebagai bagian dari penguatan akuntabilitas.

Sementara itu, Ketua Panitia Gebyar Baksos Milenial Jakarta 2025, Taufik Kurahman, mengatakan bahwa kegiatan ini tidak sekadar aksi sosial, tetapi juga memiliki misi edukatif dan reflektif bagi generasi muda.

"Kami ingin menjadikan baksos ini sebagai ruang dialog kebangsaan yang inklusif, terutama bagi milenial dan Gen Z untuk memahami pentingnya reformasi birokrasi dan pemerintahan yang bersih," ujarnya.

Rangkaian acara akan mencakup pelayanan kesehatan gratis, diskusi publik tentang tata kelola modern, hingga kampanye digital antikorupsi.

Seluruh kegiatan dirancang untuk membangun semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan kesadaran kritis generasi muda terhadap isu-isu tata kelola.

"Perubahan besar dimulai dari kesadaran kolektif. Kami ingin mendorong kolaborasi antara masyarakat sipil, birokrasi, dan anak muda untuk menciptakan tata kelola yang partisipatif," lanjut Taufik.

Jaya Center Foundation menekankan bahwa reformasi birokrasi tidak akan berhasil tanpa kepemimpinan yang berani, pengelolaan anggaran yang transparan, serta partisipasi publik yang aktif.

Kaum muda didorong untuk tak hanya menjadi penonton, tetapi juga penggerak perubahan di lingkungan pemerintahan.

"Jakarta harus menjadi laboratorium birokrasi modern, tempat di mana ASN dan warga bisa berinovasi, mengawasi, dan berkontribusi," tutup Budi.

Dengan semangat Sumpah Pemuda dan peringatan HUT TNI ke-80, acara ini diharapkan menjadi momentum kolektif untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang tangguh, bersih, dan berpihak pada rakyat.

Karena seperti ditegaskan oleh Jaya Center Foundation: "Birokrasi yang efektif adalah fondasi bagi Jakarta yang adil dan berdaya saing."*


(a008)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini, Selasa 21 Oktober 2025: Seluruh Wilayah Hujan Ringan
Menkeu Soroti Lambatnya Serapan APBD, Rp234 Triliun Dana Daerah Nganggur di Bank
Peduli Korban Kebakaran Penjaringan, MIO Indonesia PW DKI Jakarta Hadirkan Bantuan Langsung
Ribuan Peserta Meriahkan MAG Run ke-9 di Mall Artha Gading, Wali Kota Jakut Lepas Peserta di Garis Start
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini, Senin 20 Oktober 2025: Sebagian Besar Wilayah Hujan Ringan
Mempertanyakan Grand Design Pemko Padangsidimpuan Dalam Menghadapi "Badai" Efisiensi Jilid II 2026?
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru