MEDAN – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat tipis pada awal perdagangan hari ini, Selasa (21/10/2025), di tengah kinerja beragam mata uang kawasan Asia.
Penguatan rupiah terjadi seiring dengan pergerakan pasar global yang masih dipengaruhi ketegangan politik di Jepang dan Eropa serta kekhawatiran kredit di AS.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.17 WIB, rupiah dibuka menguat 0,03% ke level Rp16.570 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS tercatat naik 0,08% ke posisi 98,66, menunjukkan ketangguhan mata uang Negeri Paman Sam terhadap sejumlah mata uang utama lainnya.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terpantau bervariasi.
Sejumlah mata uang yang ikut menguat di antaranya: - Peso Filipina: naik 0,02% - Rupee India: naik 0,05% - Yuan China: naik 0,03% - Baht Thailand: naik 0,10% - Dolar Hongkong dan Dolar Singapura: masing-masing menguat 0,01% dan 0,03%
Sementara itu, mata uang yang terkoreksi pada awal perdagangan meliputi: - Yen Jepang: turun 0,22% - Dolar Taiwan: turun 0,01% - Won Korea Selatan: turun 0,10% - Faktor Global Masih Membayangi
Melansir Reuters, penguatan dolar AS pada perdagangan Senin (20/10) dipicu oleh peralihan fokus investor ke perkembangan politik di Jepang dan kawasan Eropa.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap risiko kredit di sektor perbankan AS masih menjadi bayang-bayang bagi pasar.
Penguatan dolar turut terbantu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut bahwa rencana tarif 100% terhadap Tiongkok "tidak berkelanjutan", yang meredakan sebagian kekhawatiran pasar.
Sementara itu, kinerja yen Jepang tertekan akibat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan ekspansi fiskal di bawah kepemimpinan politisi konservatif Sanae Takaichi, yang hampir pasti menjadi perdana menteri wanita pertama Jepang.
Dukungan dari Japan Innovation Party yang berhaluan kanan semakin memperkuat dugaan bahwa kebijakan fiskal Jepang akan lebih longgar ke depan.