Minyakita di Medan Tembus Rp22 Ribu, Pemko Gerak Cepat Perluas Operasi Pasar hingga Kelurahan
MEDAN Harga Minyakita di Kota Medan melonjak hingga menembus Rp22.000 per liter, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapk
EKONOMI
JAKARTA - Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam pada Senin, 23 Maret 2026, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan bahwa AS dan Iran telah melakukan pembicaraan produktif mengenai penyelesaian konflik di Timur Tengah.
Langkah diplomatik ini memicu reaksi pasar yang cukup besar, dengan harga minyak Brent turun hampir 11% dan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) terjun lebih dari 10%.
Menurut laporan CNBC pada Selasa (24/3/2026), harga minyak Brent tercatat turun menjadi USD 99,94 per barel, setelah sebelumnya menembus angka USD 112 pada Jumat pekan lalu.Baca Juga:
Begitu juga dengan harga minyak WTI yang susut lebih dari 10% menjadi USD 88,13 per barel.
Penurunan ini dianggap sebagai reaksi pasar terhadap kemungkinan meredanya ketegangan yang telah mempengaruhi pasokan energi global, terutama di wilayah Timur Tengah yang merupakan salah satu penghasil minyak utama dunia.
Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Donald Trump mengungkapkan bahwa AS dan Iran telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif mengenai penyelesaian permusuhan di Timur Tengah.
Trump juga memerintahkan penghentian sementara serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari ke depan.
Langkah ini diyakini dapat meredakan ketegangan yang telah lama mengganggu kestabilan pasokan energi dunia.
"Saya senang melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan pembicaraan yang sangat produktif mengenai penyelesaian lengkap dan total atas permusuhan kita di Timur Tengah," kata Trump dalam unggahannya.
Menanggapi hal ini, pasar merespons dengan penurunan harga minyak, yang menunjukkan bahwa harapan adanya de-eskalasi konflik mampu meredakan ketegangan pasokan energi.
Di sisi lain, Goldman Sachs mengubah proyeksi harga minyak dunia mereka.
Dalam laporan terbaru, mereka memperkirakan harga minyak Brent rata-rata akan mencapai USD 110 per barel pada Maret dan April, naik signifikan dari perkiraan sebelumnya sebesar USD 98.
Laporan tersebut juga mencatatkan bahwa, dengan asumsi aliran minyak di Selat Hormuz tetap terhambat, harga minyak bisa melonjak lebih tinggi lagi.
"Jika aliran minyak melalui Selat Hormuz tetap terhambat hingga 10 April, harga minyak kemungkinan akan terus meningkat," ujar analis Goldman Sachs.
Selat Hormuz sendiri adalah jalur penting yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak global, sehingga gangguan di jalur tersebut dapat memberikan dampak besar bagi pasar energi.
Kenaikan tajam harga minyak ini juga membawa dampak signifikan terhadap pasar investasi global.
Menurut pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi, lonjakan harga minyak Brent kini mulai menggeser minat investor yang sebelumnya lebih banyak berfokus pada emas sebagai aset aman (safe haven).
Menguatnya harga minyak, ditambah dengan ketidakpastian geopolitik, membuat investor mulai berpindah arah dan beralih ke dolar AS sebagai pilihan investasi.
"Di tengah ketidakpastian geopolitik, terutama dengan ketegangan di Timur Tengah, investor mulai melihat minyak sebagai aset yang lebih menarik. Kenaikan harga Brent menjadi pendorong utama rotasi portofolio global," kata Ibrahim.
Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, yang diperparah oleh pembicaraan AS-Iran, membawa dampak pada pasar energi global.
Fatih Birol, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), memperingatkan bahwa situasi di Timur Tengah saat ini lebih parah daripada dua guncangan minyak pada 1970-an, dan dampaknya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan krisis energi yang dipicu oleh perang Rusia-Ukraina.
Pemerintah-pemerintah di Asia dan Eropa pun tengah berusaha mencari solusi untuk mengatasi gangguan pasokan energi ini.
Salah satu solusi yang dipertimbangkan adalah pelepasan cadangan minyak strategis, yang sebelumnya telah disetujui oleh negara-negara anggota IEA pada Maret lalu.
Namun, dalam jangka panjang, ketidakpastian ini justru bisa menekan lebih jauh kestabilan ekonomi global.
Sebagai contoh, lonjakan harga minyak dapat memperburuk inflasi energi, sementara pasar keuangan akan cenderung lebih ketat dengan adanya ketidakpastian.
Berdasarkan perkiraan para analis, harga minyak kemungkinan akan terus bergerak fluktuatif dalam beberapa minggu mendatang, seiring dengan perkembangan diplomasi AS-Iran dan dampak dari gangguan pasokan di Selat Hormuz.
Meskipun harga minyak sudah mulai turun, ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya mereda bisa membuat volatilitas pasar energi tetap tinggi.
Dengan demikian, investor dan pemerintah harus tetap waspada terhadap dampak dari pergeseran ini, terutama dalam menghadapi potensi krisis energi global yang dapat memperburuk ketidakpastian ekonomi dunia.*
(lp/ad)
MEDAN Harga Minyakita di Kota Medan melonjak hingga menembus Rp22.000 per liter, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapk
EKONOMI
NGANJUK Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan adanya makna khusus di balik angka 1.061 Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang dire
NASIONAL
JAKARTA Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan apresiasi terhadap mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dalam acara tasy
POLITIK
NGANJUK Presiden RI Prabowo Subianto mengklaim bahwa gaji hakim di Indonesia saat ini telah melampaui sejumlah negara di kawasan Asia Te
POLITIK
NGANJUK Presiden RI Prabowo Subianto mengakui program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menghadapi sejumlah persoalan dalam pelaksanaanny
PEMERINTAHAN
NGANJUK Presiden RI Prabowo Presiden RI PrabowoSubianto menyoroti dampak ekonomi dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diklaim ma
EKONOMI
NGANJUK Presiden Prabowo Subianto meminta generasi muda tidak menilai hasil pembangunan secara jangka pendek, melainkan melihat dampakny
NASIONAL
NGANJUK Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa dirinya siap bertanggung jawab penuh apabila masih ada masyarakat Indonesia yang meng
NASIONAL
NGANJUK Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menargetkan pembangunan dan operasional 30 ribu Koperasi Desa/Keluraha
PEMERINTAHAN
JAKARTA Pemerintah menyiapkan rencana induk (renduk) rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana untuk wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan
NASIONAL