Ketidakpastian di kawasan Asia Barat, khususnya terkait jalur energi seperti Selat Hormuz, turut menjadi faktor utama yang menekan rupiah. Kondisi ini juga menjaga harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global.
Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah juga masih terbatas. Beberapa faktor seperti perlambatan ekspor, tekanan terhadap cadangan devisa, hingga kekhawatiran terhadap defisit fiskal turut membebani mata uang Garuda.
Sebagai catatan, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga melemah ke level Rp17.082 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.009 per dolar AS.*