Pada pukul 09.30 WIB, IHSG berada di level 6.474 atau melemah 3,71 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelum libur panjang pekan lalu.
Sepanjang sesi pagi, indeks sempat menyentuh level terendah di 6.471 dan hanya sempat menguat tipis ke 6.631 sebagai posisi tertinggi.
Volume perdagangan tercatat mencapai 10,55 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp5,74 triliun. Tekanan jual mendominasi pergerakan pasar sejak awal sesi.
Seluruh sektor berada dalam tekanan, terutama saham barang baku yang terkoreksi 5,58 persen, diikuti sektor infrastruktur 3,77 persen, dan transportasi 3,16 persen.
Sektor perindustrian dan energi juga melemah masing-masing 2,61 persen dan 2,55 persen.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menjadi penekan indeks.
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) ambles 14,9 persen, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turun 14,8 persen, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melemah 14,5 persen.
Di kawasan Asia, mayoritas bursa saham juga bergerak di zona merah.
Indeks TW Weighted (Taiwan), Hang Seng (Hong Kong), Nikkei 225 dan Topix (Jepang), PSEi (Filipina), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), Straits Times (Singapura), KLCI (Malaysia), CSI 300, hingga Shanghai Composite tercatat melemah.
Namun, penurunan IHSG menjadi yang paling dalam di antara bursa utama Asia.
Tekanan pada IHSG tidak terlepas dari pelemahan nilai tukar rupiah yang pada pagi hari ini berada di level Rp17.658 per dolar Amerika Serikat di pasar spot, berdasarkan data Bloomberg.
Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar keuangan domestik.
Sentimen global juga ikut menekan pasar. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat, memicu aksi "risk-off" di kalangan investor.
Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dilaporkan belum menghasilkan kesepakatan besar, sehingga menambah ketidakpastian pasar global.
Panin Sekuritas mencatat, pernyataan Presiden Trump yang memperingatkan terbatasnya waktu bagi Iran untuk mencapai kesepakatan turut memperburuk sentimen.
Di sisi lain, media Iran menyebut negosiasi dengan Amerika Serikat belum menghasilkan konsesi berarti.
Ketegangan di kawasan Teluk Persia, termasuk potensi gangguan infrastruktur energi serta berakhirnya waiver penjualan minyak Rusia, disebut memperketat pasokan energi global.
Kondisi tersebut turut memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan fiskal di dalam negeri, terutama potensi meningkatnya subsidi energi di tengah penerimaan negara yang belum kuat.
Investor pun mulai menuntut premi risiko lebih tinggi terhadap aset Indonesia, baik di pasar saham, obligasi, maupun nilai tukar.*
(bb/ad)
Editor
: Nurul
IHSG Dibuka Melemah 3,71 Persen ke Level 6.474 pada Awal Perdagangan