BREAKING NEWS
Rabu, 27 Mei 2026

Rupiah Tembus Rp17.802, Dekati “Angka Keramat” Warganet

Johan - Rabu, 27 Mei 2026 13:53 WIB
Rupiah Tembus Rp17.802, Dekati “Angka Keramat” Warganet
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terus berada dalam tekanan dan semakin mendekati "angka keramat" versi warganet di kisaran Rp17.845 per dolar Amerika Serikat, yang merujuk pada tanggal kemerdekaan Indonesia, 17-8-1945.

Pada pembukaan perdagangan Rabu (27/5/2026), rupiah tercatat melemah ke level Rp17.802 per dolar AS.

Berdasarkan data perdagangan, rupiah melemah 0,21 persen dibanding penutupan sebelumnya di level Rp17.796 per dolar AS.

Baca Juga:

Mata uang Garuda itu menjadi yang terlemah di kawasan Asia pada perdagangan pagi, di tengah mayoritas mata uang regional justru menguat terhadap dolar AS.

Hingga pukul 09.04 WIB, hanya peso Filipina yang turut berada di zona merah.

Sementara itu, won Korea Selatan mencatat penguatan terbesar di Asia, disusul baht Thailand, dolar Taiwan, yuan China, dolar Singapura, ringgit Malaysia, hingga yen Jepang yang bergerak tipis menguat.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya di Timur Tengah setelah serangan Amerika Serikat di kawasan selatan Iran.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat pasar keuangan global cenderung menghindari risiko (risk off), sehingga berdampak pada pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun tetap cenderung melemah dalam beberapa waktu ke depan, dengan kisaran perdagangan Rp17.790 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Ia juga menyoroti dampak lanjutan dari pelemahan rupiah terhadap sektor riil. Kenaikan biaya impor dan energi dinilai berpotensi meningkatkan beban produksi industri.

"Tekanan terhadap industri bukan hanya dipicu pelemahan rupiah, tetapi juga konflik geopolitik global yang mendorong kenaikan biaya produksi," ujarnya.

Sejumlah sektor disebut mulai terdampak, mulai dari elektronik, otomotif, hingga tekstil.

Dalam sebulan terakhir, tekanan biaya disebut telah memicu efisiensi hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) di beberapa perusahaan.


Sejumlah kasus PHK juga mulai mencuat, termasuk penutupan pabrik elektronik PT Xacti Indonesia di Depok yang berdampak pada sekitar 350 pekerja.

Selain itu, perusahaan otomotif di Sidoarjo dilaporkan melakukan PHK terhadap sekitar 200 pekerja akibat penurunan penjualan.

Industri tekstil dan alas kaki juga disebut menghadapi tekanan serupa, seiring meningkatnya biaya produksi dan melemahnya daya beli.

Ibrahim bahkan memperkirakan potensi PHK di sektor formal dapat mencapai 9.000 pekerja dalam tiga bulan ke depan jika tekanan nilai tukar dan biaya produksi tidak mereda.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah yang mendekati Rp17.800 per dolar AS tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

"Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini enggak masuk akal sebenarnya," ujar Purbaya di Jakarta, Rabu (27/5/2026).

Ia menambahkan, pelemahan rupiah biasanya terjadi jika terdapat gangguan fundamental ekonomi, sementara saat ini kondisi dinilai masih relatif stabil.

Purbaya juga menyebut pemerintah tidak melakukan stres test ulang terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), karena simulasi terhadap skenario harga minyak hingga 100 dolar AS per barel sudah diperhitungkan sebelumnya, termasuk asumsi nilai tukar rupiah.

"Enggak (ada stress test), kami sudah hitung," ujarnya.

Purbaya menjelaskan, pemerintah juga melakukan langkah stabilisasi melalui pasar surat berharga negara (SBN). Intervensi tersebut dilakukan untuk menjaga imbal hasil obligasi tetap terkendali.

Menurut dia, penurunan yield obligasi justru membantu menjaga daya tarik investor asing untuk tetap masuk ke pasar keuangan domestik.

"Selama bond market terkendali, kemauan investor asing untuk berinvestasi tetap terjaga," katanya.

Ia juga mengklaim mulai terlihat adanya aliran masuk modal asing ke pasar obligasi Indonesia, yang diharapkan dapat membantu menstabilkan nilai tukar rupiah ke depan.

Meski pemerintah optimistis, pelaku pasar menilai tekanan terhadap rupiah masih rentan dipengaruhi faktor eksternal, terutama arah kebijakan suku bunga global dan dinamika geopolitik.

Sementara itu, sentimen publik di media sosial turut mewarnai pergerakan rupiah, dengan narasi "angka keramat" Rp17.845 yang ramai diperbincangkan warganet menjelang Agustus.

Di tengah volatilitas tersebut, pasar masih menunggu kepastian arah kebijakan moneter dan langkah lanjutan pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta dampaknya terhadap sektor riil.*


(tmcn/ad)

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Bobby Nasution Salat Iduladha di Binjai, Salurkan 167 Hewan Kurban di Sumut
APBN Dipakai untuk Sapi Kurban Presiden, Komisi XIII DPR: Hal Biasa, Sudah Dilakukan Sebelum Era Prabowo
1.098 Sapi Kurban Prabowo Dibiayai APBN, Menkeu Purbaya: Saya Tak Tahu, Tanya Mensesneg
Sudah Keluarkan Ratusan Juta per Dapur, Pengelola MBG Kaget Saat BGN Sebut YSBB Bukan Mitra
Gubernur Sumut Bobby Nasution Salat Iduladha di Binjai, Kurban Difokuskan untuk Korban Bencana
Wagub Aceh Salat Iduladha di Masjid Raya Baiturrahman Bersama Ribuan Jamaah
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru