BREAKING NEWS
Kamis, 02 Juli 2026

Rupiah Kembali Tertekan, Kurs Ditutup di Rp17.907 per Dolar AS, Ini Pemicunya

Adelia Syafitri - Selasa, 30 Juni 2026 17:25 WIB
Rupiah Kembali Tertekan, Kurs Ditutup di Rp17.907 per Dolar AS, Ini Pemicunya
ilustrasi - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Selasa (30/6/2026). (Foto: Beritasatu Photo/Joanito De Saojoao.)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Selasa (30/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 56 poin atau 0,31 persen ke level Rp17.907 per dolar Amerika Serikat (AS), dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global yang masih membayangi pasar keuangan.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelaku pasar saat ini masih menunggu rilis data neraca perdagangan Indonesia periode Mei 2026. Data tersebut dinilai penting setelah kondisi eksternal Indonesia menunjukkan tekanan akibat defisit transaksi berjalan dan pelebaran anggaran.

Menurut Ibrahim, tren surplus perdagangan yang terus menyusut berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut dinilai dapat melemahkan ketahanan eksternal Indonesia sekaligus meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah apabila tidak diimbangi masuknya aliran modal asing.

Baca Juga:

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif hingga April 2026 hanya mencapai 5,64 miliar dolar AS. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang masih berada di atas 10 miliar dolar AS.

"Jika surplus perdagangan terus menurun, maka defisit transaksi berjalan berpotensi semakin melebar. Pada kuartal I-2026 saja, transaksi berjalan Indonesia sudah mencatat defisit sekitar 4 miliar dolar AS," ujar Ibrahim.

Selain faktor perdagangan, tekanan terhadap rupiah juga datang dari meningkatnya inflasi domestik. Pada Mei 2026, inflasi mendekati batas atas target Bank Indonesia (BI), terutama akibat kenaikan harga pangan.

Meski secara nasional inflasi masih terkendali, sejumlah wilayah, khususnya di Pulau Sumatera, mencatat tekanan harga yang lebih tinggi dibanding daerah lain. Kondisi tersebut dipengaruhi distribusi pangan yang belum optimal, faktor cuaca, hingga pola tanam yang belum terintegrasi.

Di sisi lain, pasar juga menyoroti kebijakan baru terkait obligasi yang diterbitkan oleh dana investasi negara Danantara. Kebijakan yang memberikan perlindungan hukum bagi pembeli obligasi tersebut memunculkan kekhawatiran investor terhadap aspek transparansi dan tata kelola.

Dari pasar global, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah juga menjadi sentimen negatif. Investor masih mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, termasuk rencana pembahasan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak dunia.

Meski muncul wacana pembicaraan antara kedua negara di Doha, pemerintah Iran menegaskan belum ada agenda negosiasi resmi dengan Amerika Serikat dalam waktu dekat. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Selain itu, ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) juga kembali menguat. Sikap hawkish The Fed dalam pertemuan terakhir membuat investor kini menantikan sejumlah data ekonomi AS, termasuk laporan ketenagakerjaan (Nonfarm Payrolls/NFP), data JOLTS, serta Indeks Kepercayaan Konsumen yang dinilai akan menentukan arah kebijakan moneter berikutnya.

Kombinasi berbagai sentimen tersebut membuat pergerakan rupiah masih berpotensi berada di bawah tekanan dalam jangka pendek, seiring tingginya ketidakpastian ekonomi global dan dinamika pasar keuangan internasional.* (k/dh)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
IHSG Ambruk 3 Persen ke Level 5.643, 599 Saham Berguguran di Akhir Perdagangan
Rupiah Tertekan Lagi! Dibuka Melemah ke Rp17.881 per Dolar AS
Rupiah Menguat ke Rp17.851 per Dolar AS, Optimisme Ekonomi RI Kembali Dongkrak Kepercayaan Pasar
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.868 per Dolar AS, Pasar Masih Waspadai Ketegangan Iran-AS
5 Calon Manajer Kopdes Meninggal, Menhan Perintahkan Evaluasi Total Aspek Kesehatan Latsarmil
Wali Kota Tanjungbalai Turun Langsung Pantau Sensus Ekonomi 2026, Ajak Pelaku Usaha Berikan Data yang Jujur
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru