BREAKING NEWS
Rabu, 19 Agustus 2026

Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.953 per Dolar AS, Tapi Masih Dibayangi Tekanan Global

Dharma - Jumat, 03 Juli 2026 09:31 WIB
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.953 per Dolar AS, Tapi Masih Dibayangi Tekanan Global
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Jumat, 3 Juli 2026, dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Meski demikian, pelaku pasar masih mewaspadai berbagai sentimen global dan domestik yang diperkirakan membuat pergerakan rupiah tetap berfluktuasi sepanjang hari.

Pada pembukaan perdagangan, rupiah menguat 0,23 persen atau 42 poin ke posisi Rp17.953 per dolar AS.

Baca Juga:

Di saat yang sama, Indeks Dolar AS (DXY) tercatat melemah 0,02 persen ke level 100,83.

Penguatan rupiah terjadi di tengah pelemahan dolar AS.

Namun, sejumlah faktor eksternal dan kondisi ekonomi dalam negeri masih menjadi perhatian investor.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah tetap akan bergerak fluktuatif sebelum akhirnya berpotensi ditutup melemah pada akhir perdagangan.

"Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.990 hingga Rp18.050 per dolar AS," kata Ibrahim.

Pada perdagangan sehari sebelumnya, Kamis (2/7/2026), rupiah ditutup melemah 43 poin ke level Rp17.995 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, perhatian pelaku pasar masih tertuju pada kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).

Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September mencapai sekitar 67 persen.

Ekspektasi tersebut masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain kebijakan moneter AS, perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah juga terus dipantau investor.

Dalam perkembangan terbaru, Qatar menyebut Iran dan Amerika Serikat telah mencatat kemajuan positif dalam pembicaraan tidak langsung yang berlangsung hingga Rabu lalu.

Pembahasan tersebut berkaitan dengan upaya membuka kembali blokade di Selat Hormuz.

"Meskipun lalu lintas telah sebagian pulih, kedua negara saling menyerang akhir pekan lalu setelah serangan Iran terhadap kapal kargo," kata Ibrahim.

Di dalam negeri, Ibrahim menilai kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan.

Beberapa faktor yang dinilai memengaruhi sentimen pasar antara lain kasus korupsi yang menyita perhatian publik, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit pada Mei 2026, lonjakan inflasi, hingga keputusan terkait indeks MSCI.

Selain itu, aktivitas sektor manufaktur juga menunjukkan pelemahan.

Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global mencatat PMI manufaktur Indonesia berada di level 46,9 pada Juni 2026.

Angka tersebut menunjukkan kontraksi dan menjadi penurunan terdalam dalam satu tahun terakhir.

"Selain itu, data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di 46,9 pada Juni 2026. Ini adalah tingkat penurunan yang paling kuat dalam setahun," tandasnya.

Pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan ekonomi global, arah kebijakan bank sentral AS, serta kondisi ekonomi domestik sebelum mengambil keputusan investasi dalam beberapa waktu ke depan.* (bi/ad)

Editor
: Johan
0 komentar
Tags
beritaTerkait
IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.850, Saham Big Caps Jadi Penopang Utama
Harga Emas Antam Naik Rp11.000 Hari Ini, Tembus Rp2,651 Juta per Gram!
Pemerintah Targetkan 3,49 Juta Lapangan Kerja Baru pada 2027, Hilirisasi Jadi Motor Utama
Pemerintah dan DPR Sepakati RAPBN 2027, Pertumbuhan Ekonomi Ditargetkan Tembus 6,5 Persen
Hampir Dua Bulan Semen Langka dan Harga Menggila di Sumatera Utara, Ada Apa? Masyarakat Minta Pemerintah dan APH Bongkar Penyebabnya
Prabowo dan Presiden Belarus Luncurkan Road Map Kerja Sama Indonesia-Belarus 2026-2030, Begini Isinya
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru