BREAKING NEWS
Rabu, 15 Juli 2026

Rupiah Menguat ke Rp18.065 per Dolar AS, Didorong Inflasi Amerika Serikat yang Lebih Rendah

Johan - Rabu, 15 Juli 2026 09:46 WIB
Rupiah Menguat ke Rp18.065 per Dolar AS, Didorong Inflasi Amerika Serikat yang Lebih Rendah
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Rabu, 15 Juli 2026.

Penguatan mata uang Garuda didorong oleh melemahnya dolar AS setelah data inflasi Amerika Serikat dirilis lebih rendah dari perkiraan pasar.

Berdasarkan data Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB, rupiah menguat sekitar 0,14 persen ke posisi Rp18.065 per dolar AS.

Baca Juga:

Tidak hanya rupiah, mayoritas mata uang di kawasan Asia juga mencatat penguatan terhadap dolar Amerika Serikat.

Di antara mata uang Asia, ringgit Malaysia mencatat penguatan terbesar dengan kenaikan 0,27 persen terhadap dolar AS.

Sementara itu, yen Jepang menguat 0,10 persen, diikuti yuan China, peso Filipina, dan dolar Taiwan yang masing-masing naik 0,09 persen.

Adapun dolar Singapura menguat 0,07 persen.


Sebaliknya, rupee India menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah turun 0,61 persen.

Won Korea Selatan melemah 0,09 persen, sedangkan baht Thailand turun 0,08 persen terhadap dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS setelah inflasi Amerika Serikat tercatat lebih rendah dari ekspektasi pasar.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) menjadi lebih kecil.

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah cukup besar setelah data inflasi AS lebih rendah dari harapan. Hal ini memicu menurunnya ekspektasi terhadap suku bunga The Fed," ujar Lukman, Rabu, 15 Juli 2026.


Selain data inflasi, Lukman menilai pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang cenderung lebih lunak (less hawkish) juga memberikan sentimen positif bagi pasar.

Namun, ia menegaskan bahwa faktor utama yang menekan dolar AS tetap berasal dari data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan.

"Pernyataan Kepala The Fed Kevin Warsh memang cenderung less hawkish. Namun, data inflasi semalam merupakan faktor utama yang menekan dolar AS," katanya.

Meski rupiah diperkirakan masih memiliki peluang untuk menguat, Lukman menilai ruang penguatannya tidak akan terlalu besar.

Hal itu disebabkan harga minyak mentah dunia yang masih bertahan di level tinggi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, tingginya harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi di dalam negeri sekaligus memperbesar kebutuhan devisa Indonesia untuk impor energi.

Kondisi tersebut berpotensi membatasi penguatan rupiah dalam jangka pendek.

Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS, dengan kecenderungan tetap menguat apabila tekanan terhadap dolar Amerika Serikat masih berlanjut.* (bi/ad)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
IHSG Dibuka Menguat ke Level 6.046! Saham TPIA, BREN, dan BYAN Pimpin Kenaikan
Polres Tanjab Timur Ungkap Kasus Kepemilikan Kulit Harimau Sumatera, Pelaku Terancam 15 Tahun Penjara
Inflasi RI Terkendali, Tito Siapkan Jurus Jaga Harga Pangan dan Pasokan Daerah
Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat di Tengah Ketidakpastian Global
S&P Pertahankan Rating Indonesia, Menkeu Purbaya Ajak Investor Borong Saham
Harga Emas Antam Turun, 1 Gram Kini Dibanderol Rp2,615 Juta
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru