BREAKING NEWS
Kamis, 27 Agustus 2026

Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.689, tapi Diprediksi Kembali Melemah Hari Ini

Dharma - Rabu, 26 Agustus 2026 10:10 WIB
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.689, tapi Diprediksi Kembali Melemah Hari Ini
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan Rabu, 26 Agustus 2026.

Rupiah naik 0,19 persen atau 34 poin ke level Rp17.689 per dolar Amerika Serikat (AS).

Penguatan rupiah terjadi setelah pada perdagangan Selasa, 25 Agustus 2026, mata uang Garuda ditutup melemah tipis 2 poin ke level Rp17.723 per dolar AS.

Baca Juga:

Sementara itu, indeks dolar AS atau DXY melemah 0,01 persen ke level 98,90.

Meski dibuka menguat, Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan kembali melemah pada perdagangan hari ini.

"Mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.730 hingga Rp17.750," kata Ibrahim, Rabu, 26 Agustus 2026.

Ibrahim mengatakan pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global.

Salah satunya adalah kembali memanasnya situasi di kawasan Timur Tengah.

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent sebelumnya mengumumkan perluasan sanksi dengan memutus sejumlah jalur ekonomi Iran.

Ia juga menegaskan negara-negara harus memilih antara mempertahankan hubungan bisnis dengan Iran atau menghadapi risiko dikeluarkan dari sistem keuangan berbasis dolar.


Menurut Ibrahim, Amerika Serikat dalam konflik yang berlangsung berkepanjangan tersebut kini lebih banyak mengandalkan tekanan ekonomi.

Langkah tersebut dinilai telah meredakan sebagian kekhawatiran pasar mengenai ancaman terhadap pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah akibat perang.

Namun, Iran dinilai masih memiliki kemampuan untuk melakukan aksi balasan.

Salah satunya dengan mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar karena kenaikan harga minyak dapat memengaruhi inflasi dan prospek ekonomi global.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati kondisi ekonomi dan fiskal Indonesia.

Ibrahim mengatakan lembaga pemeringkat global Fitch Ratings menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen pada 2027 lebih realistis dibandingkan ambisi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan hingga 8 persen dalam jangka menengah.

Meski demikian, target pertumbuhan 6 persen tersebut masih berada di atas proyeksi Fitch.

"Fitch masih memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5% pada 2027. Terdapat sejumlah risiko yang dapat memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan," jelas Ibrahim.

Sejumlah risiko tersebut antara lain ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan, potensi kembali meningkatnya harga minyak dunia, serta perlambatan ekonomi negara-negara yang menjadi mitra dagang utama Indonesia.

Selain pertumbuhan ekonomi, pasar juga mencermati kondisi fiskal pemerintah.

Dalam RAPBN 2027, pemerintah menargetkan defisit anggaran sebesar 2,4 persen terhadap produk domestik bruto atau PDB.

Target tersebut lebih rendah dibandingkan target defisit 2026 sebesar 2,85 persen.

Angka tersebut juga masih berada di bawah batas maksimal defisit yang ditetapkan sebesar 3 persen dari PDB.

"Fitch menilai konsolidasi fiskal dapat lebih sulit dipertahankan dibandingkan yang tercermin dalam target awal. Lembaga tersebut menyoroti pengalaman penyusunan anggaran sebelumnya, ketika target defisit yang semula ditetapkan lebih rendah kemudian direvisi naik untuk mengakomodasi tambahan belanja," tandas Ibrahim.

Ibrahim menilai asumsi makroekonomi yang digunakan pemerintah dalam RAPBN 2027 cenderung optimistis.

Selain menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen, pemerintah menggunakan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS.

Di sisi lain, penerimaan negara masih menjadi salah satu tantangan struktural bagi kapasitas fiskal Indonesia.

Penerimaan negara pada 2027 diperkirakan berada sedikit di atas 12 persen terhadap PDB.

Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan berlangsung fluktuatif.

Pelaku pasar akan mencermati perkembangan geopolitik global sekaligus kondisi ekonomi dan kebijakan fiskal dalam negeri.* (bi/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
IHSG Anjlok di Awal Perdagangan, Turun 1,06 Persen ke Level 6.432
Harga Emas Antam Turun Rp18.000, Kini Rp2,75 Juta per Gram
Forum Bisnis dan Pengukuhan BPD HIPKA Medan 2026-2031 Segera Digelar, Panitia Matangkan Persiapan
Dari TPA Sampah ke Bank Pakan: Jawaban Krisis Pakan Ternak
Menkop Ferry: Lokasi Kopdes Merah Putih Dipilih Lewat Musyawarah Desa
21.400 Kopdes Merah Putih Sudah Terbangun, Pemerintah Kejar Target 30.000 Unit Tahun Ini
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru