BREAKING NEWS
Selasa, 25 Agustus 2026

Dari TPA Sampah ke Bank Pakan: Jawaban Krisis Pakan Ternak

Administrator - Selasa, 25 Agustus 2026 16:52 WIB
Dari TPA Sampah ke Bank Pakan: Jawaban Krisis Pakan Ternak
Agus Santoso, Mantan Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM, Peternak Domba Kambing. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh:Agus Santoso

HARGA konsentrat pakan ternak di pasaran menembus Rp8.500 per kilogram. Peternak domba kambing mengeluh. Untuk satu ekor domba penggemukan, dibutuhkan 1,5 kg konsentrat per hari. Artinya, biaya pakan sudah mencapai Rp12.750 per ekor per hari. Dengan harga jual domba yang saat ini masih stagnan, maka BEP kandang bisa mundur tiga bulan. Di waktu yang sama, di ujung kota lain, ada truk-truk sampah mengantre di Tempat Pembuangan Akhir. Isinya? Sampah sisa makanan.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional mencatat, potensi timbulan sampah makanan di Indonesia mencapai 23,5 juta ton per tahun. Kementerian Lingkungan Hidup menyebut 41,4% sampah di TPA adalah sampah organik sisa makanan. Kita sedang hidup dalam dua krisis yang bertabrakan: kenaikan harga pakan ternak di satu sisi dan krisis sampah di sisi lain. Pertanyaannya sederhana: kenapa kita tidak mempertemukan keduanya?

Baca Juga:

Jawabannya ada pada satu kalimat: Bank Pakan Ternak berbasis ekonomi sirkular.

Tiga Gunung Emas yang Kita Kubur

Selama ini kita memperlakukan sampah makanan sebagai beban. Padahal, jika dilihat dari kacamata nutrisi ternak, sampah makanan itu adalah bahan baku. Ada tiga gunung besar yang selama ini kita abaikan.

Pertama, Industrial Food Waste.

Ini adalah produk industri makanan dan minuman kemasan pabrikan yang harus ditarik dari pasar karena sudah mendekati tanggal kedaluwarsa. Biskuit, sereal, mi instan, susu bubuk, minuman sachet. Secara hukum, barang ini wajib dimusnahkan ketika mendekati tanggal kedaluwarsanya agar tidak beredar di masyarakat dan membahayakan kesehatan konsumen.

Namun, dari sisi gizi, kandungannya masih sangat baik. Karbohidrat, lemak, bahkan proteinnya masih utuh. Volumenya juga tidak main-main. Asosiasi Industri Makanan dan Minuman memperkirakan, setiap pabrikan besar bisa menarik 5–20 ton produk per bulannya. Membuangnya ke TPA adalah pemborosan dua kali. Produsen kehilangan nilai ekonomi. Negara menanggung biaya pengelolaan sampah dan emisi gas metan.

Lebih parah, jika produk makanan dan minuman kedaluwarsa ini "bocor" ke pasar ilegal dan dikonsumsi manusia, potensi risikonya terhadap kesehatan publik sangat besar.

Kedua, Sampah Organik Perkotaan.

Ini adalah sisa nasi, sayur, lauk dari restoran, hotel, kantin MBG, pasar, dan rumah tangga. Karakteristiknya: kadar air tinggi, cepat busuk, berbau menyengat, dan menjadi sarang vektor penyakit. Tapi, teknologi untuk mengolah sampah makanan sebetulnya sudah ada dan relatif murah: magot BSF (Black Soldier Fly). Hanya dalam 14 hari, volume 1 ton sampah organik bisa dikonversi menjadi 150 kg magot basah dan 300 kg kasgot. Setelah magot dikeringkan, magot bisa diolah menjadi tepung magot dengan kandungan protein 40–45% dan lemak 30%. Bagi dunia peternakan, ini adalah "tepung ikan" versi serangga. Selama ini kita mengimpor tepung ikan dengan harga mahal. Padahal, kita bisa memproduksi tepung magot dari sampah makanan.Untuk ruminansia seperti domba dan kambing, tepung magot bisa menjadi sumber protein bypass yang sangat baik dalam campuran complete feed.

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Ketika Megawati Mengajak Indonesia Belajar dari Iran
Gemuruh Semangat Tanah Gayo Ribuan Warga Bener Meriah Gelar Apel Kebangsaan Teguhkan Komitmen NKRI
Darurat Kekeringan El Nino Mengamuk, Sebagian Besar Jawa Masuk Kategori Awas
Disrupsi Teknologi & Masa Depan Wirausaha: Universitas Paramadina Satukan Akademisi Tiga Negara di IFE 2026
Ngebut di Era Digital Menkomdigi Ungkap 4G Nyaris Sikat 99% Penduduk, 5G Masih Merayap
Kemitraan Strategis Eropa-Sumut: Wagub Surya Pikat Dubes Belgia Lewat Optimalisasi Sawit dan Inovasi Olahraga
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru