Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Dia juga mengkritik kecenderungan ekonomi Indonesia yang terlalu berorientasi ke dalam atau inward looking. Besarnya pasar domestik memang memberi ruang bagi dunia usaha untuk berkembang, tetapi dapat menjadi persoalan ketika kegiatan produksi sangat bergantung pada bahan baku dan barang modal impor.
Dalam kondisi tersebut, meningkatnya konsumsi dan produksi domestik justru dapat meningkatkan kebutuhan terhadap dolar AS.
"Praktek seperti ini bisa menguntungkan tetapi tidak memberi efek positif memperkuat nilai tukar rupiah. Bahkan bisa negatif menjadikan nilai tukar melemah karena dalam proses produksinya rakus impor," katanya.
Didik mendorong perubahan strategi ekonomi menjadi lebih berorientasi keluar atau outward looking. Menurutnya, ekspor, investasi asing, pariwisata dan aktivitas bisnis internasional perlu diperbesar untuk memperkuat sumber pendapatan luar negeri Indonesia.
"Untuk menjadikan nilai tukar stabil dan kuat, maka orientasi kebijakan harus diubah menjadi berorientasi keluar (outward looking). Indonesia memerlukan lebih banyak transaksi bisnis yang memperoleh pendapatan signifikan dari luar negeri, bukan hanya dari konsumen domestik," tegasnya.
Selain struktur ekonomi, Didik juga menyoroti posisi cadangan devisa Indonesia. Dia menyebut cadangan devisa Indonesia berada di sekitar US$145,3 miliar pada akhir Juli 2026.
Menurut Didik, posisi tersebut perlu dilihat berdasarkan skala ekonomi Indonesia dan dibandingkan dengan negara-negara kawasan. Dia menyebut Singapura memiliki sekitar US$426,2 miliar dan Thailand sekitar US$279,2 miliar. Sementara Malaysia yang memiliki jumlah penduduk jauh lebih kecil berada di kisaran US$132,6 miliar.
"Bagi negara sebesar Indonesia, cadangan devisa sebesar ini tidak cukup dan bahkan terlalu kecil untuk menjadi penyangga eksternal," ujarnya.
Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah sumber devisa besar, terutama dari ekspor komoditas seperti batu bara, minyak kelapa sawit dan nikel. Namun, ketergantungan terhadap komoditas membuat penerimaan ekspor sensitif terhadap perubahan harga di pasar global.
Ketika harga komoditas turun, penerimaan devisa dapat ikut tertekan. Di sisi lain, kebutuhan terhadap dolar AS untuk membiayai impor bahan baku dan barang modal tetap berjalan.
Didik juga menilai investasi asing masih menghadapi sejumlah tantangan. Persepsi risiko, kepastian hukum, korupsi dan tingginya biaya transaksi dapat memengaruhi keputusan investor untuk menanamkan modal di Indonesia.
"Investor memiliki banyak pilihan pasar berkembang lainnya. Persepsi risiko berinvestasi di Indonesia tidak dijaga dengan baik sehingga investasi berpikir dua tiga kali untuk masuk ke Indonesia," jelasnya.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.