Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA- Nilai tukar rupiah ditutup melemah 37 poin ke level Rp17.884 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (22/9/2026).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Faktor tersebut antara lain arah kebijakan suku bunga The Fed, dinamika perdagangan global serta kondisi fiskal dalam negeri.
"Para pelaku pasar saat ini mengantisipasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed dan telah memperhitungkan kemungkinan besar akan adanya kenaikan lagi pada bulan Oktober," kata Ibrahim dalam analisisnya, Selasa (22/9/2026).
Baca Juga:
Menurut Ibrahim, prospek kebijakan moneter Amerika Serikat yang lebih ketat membuat dolar AS tetap mendapat dukungan. Kondisi tersebut turut menjaga imbal hasil obligasi Treasury AS berada pada level tinggi.
Selain sentimen suku bunga, pasar juga mencermati perkembangan hubungan perdagangan antara Amerika Serikat dan China. Rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada akhir pekan menjadi salah satu perhatian pelaku pasar.
Ibrahim mengatakan hubungan kedua negara dapat memengaruhi perdagangan global, rantai pasok hingga permintaan komoditas energi. China sendiri merupakan salah satu importir minyak terbesar di dunia.
Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah juga dipengaruhi perubahan di jajaran fiskal pemerintah serta perdebatan mengenai batas defisit anggaran.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menunjuk Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Pergantian tersebut resmi dilakukan pada 14 September 2026.
Ibrahim menilai perubahan tersebut turut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar. Selain itu, kenaikan harga minyak mentah internasional juga dapat menambah tekanan terhadap negara pengimpor energi.
Faktor lainnya adalah wacana perubahan batas defisit anggaran yang dinilai dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara sebelumnya menyatakan pembahasan mengenai batas defisit 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) perlu dilakukan secara konstruktif. Pemerintah tetap menjadikan rasio utang 60 persen terhadap PDB sebagai salah satu jangkar pengelolaan APBN.
Di sisi lain, Bank Indonesia terus melakukan berbagai langkah stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah tetap sesuai kondisi fundamental. Intervensi dilakukan melalui pasar offshore maupun pasar domestik, termasuk transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.