Tak hanya ancaman melalui pesan, Tiyo juga mengalami pengalaman penguntitan pada 11 Februari saat berada di sebuah kedai.
Dia mengaku sempat melihat orang yang mengikutinya dan memotretnya, namun ketika dikejar, orang tersebut segera menghilang.
"Tapi setelah kami kejar, orang tersebut langsung pergi. Ini sangat mengkhawatirkan, karena mengindikasikan bahwa demokrasi kita sedang tidak dalam kondisi baik," tegas Tiyo.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Indonesia, yang dimintai tanggapan terkait masalah ini, menegaskan bahwa ancaman terhadap Tiyo menunjukkan adanya ketegangan politik yang harus segera ditangani oleh pihak berwenang.
"Kami mendukung langkah Tiyo untuk melapor ke polisi, dan mendesak agar aparat segera mengusut tuntas ancaman yang dia terima," ujar Menlu dalam pernyataannya.
Sebagai respons terhadap pernyataan tersebut, para mahasiswa dan sejumlah organisasi masyarakat juga menekankan pentingnya kebebasan berpendapat di Indonesia, serta mengingatkan bahwa teror dan ancaman terhadap individu yang mengemukakan pendapat seharusnya tidak pernah dianggap remeh.*