JAKARTA – Ketua Komisi III DPRHabiburokhman menyarankan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, untuk segera membuat laporan polisi terkait dengan teror yang dia terima.
Habiburokhman berharap langkah tersebut dapat membuka jalannya aparat untuk menindak para pelaku yang terlibat dalam ancaman terhadap Tiyo.
"Teror yang dialami Tiyo Ardianto adalah perbuatan yang tidak bisa dibiarkan. Kami berharap Tiyo membuat laporan polisi, dan aparat dapat menindaklanjuti dengan tegas," ujar Habiburokhman kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (21/2).
Habiburokhman menilai bahwa teror yang dialami Tiyo bukan berasal dari kalangan pendukung Presiden Prabowo Subianto.
Ia bahkan mengungkapkan bahwa sejumlah pendukung Prabowo juga dilaporkan mengalami ancaman serupa.
"Kami pastikan pelaku teror bukan dari pendukung Pak Prabowo. Di sisi lain, kami juga menerima informasi bahwa beberapa pendukung Prabowo juga mendapat ancaman teror. Saya meminta mereka untuk turut melaporkan ke polisi," tambah Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini.
Habiburokhman juga menyoroti potensi adanya pihak ketiga yang berusaha memecah belah bangsa.
Menurutnya, kondisi sosial-politik yang tidak kondusif bisa menjadi pintu masuk untuk merusak persatuan.
"Waspada terhadap pihak ketiga yang mencoba mengadu domba bangsa kita. Situasi saat ini sangat rawan, dan bisa jadi ada pihak-pihak yang ingin memanipulasi keadaan dan memperkeruh suasana," ucapnya.
Sementara itu, Tiyo Ardianto, dalam pengakuannya pada Jumat (20/2), mengungkapkan bahwa teror yang dia alami sudah dimulai sejak 9 Februari lalu.
Tiyo menerima ancaman melalui pesan dari enam nomor asing yang berisi intimidasi, termasuk ancaman penculikan dan membuka aib.
"Ada enam nomor asing yang mengirim pesan berisi ancaman penculikan dan membuka aib saya. Itu sudah dimulai sejak 9 Februari," ujar Tiyo.
Tak hanya ancaman melalui pesan, Tiyo juga mengalami pengalaman penguntitan pada 11 Februari saat berada di sebuah kedai.
Dia mengaku sempat melihat orang yang mengikutinya dan memotretnya, namun ketika dikejar, orang tersebut segera menghilang.
"Tapi setelah kami kejar, orang tersebut langsung pergi. Ini sangat mengkhawatirkan, karena mengindikasikan bahwa demokrasi kita sedang tidak dalam kondisi baik," tegas Tiyo.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Indonesia, yang dimintai tanggapan terkait masalah ini, menegaskan bahwa ancaman terhadap Tiyo menunjukkan adanya ketegangan politik yang harus segera ditangani oleh pihak berwenang.
"Kami mendukung langkah Tiyo untuk melapor ke polisi, dan mendesak agar aparat segera mengusut tuntas ancaman yang dia terima," ujar Menlu dalam pernyataannya.
Sebagai respons terhadap pernyataan tersebut, para mahasiswa dan sejumlah organisasi masyarakat juga menekankan pentingnya kebebasan berpendapat di Indonesia, serta mengingatkan bahwa teror dan ancaman terhadap individu yang mengemukakan pendapat seharusnya tidak pernah dianggap remeh.*