Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1447 H Jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026
JAKARTA Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akhirnya resmi menetapkan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah akan jatuh p
AGAMA
JAKARTA — Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, semakin menambah sorotan publik setelah adanya dugaan sabotase dalam proses penegakan hukum.
Ketua Dewan Nasional SETARA Institute, Hendardi, mengungkapkan keprihatinannya terhadap perbedaan mencolok antara hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya dan pernyataan dari TNI melalui Pusat Polisi Militer (Puspom).
Hendardi menilai perbedaan tersebut membingungkan publik dan berpotensi mengganggu transparansi serta kelancaran pengungkapan kasus.Baca Juga:
Sebelumnya, Puspom TNI mengumumkan bahwa empat anggota Denma BAIS TNI, yakni NDP, SL, BHW, dan ES, telah diamankan atas dugaan keterlibatan dalam penganiayaan berencana.
Namun, Polda Metro Jaya mengungkapkan dua inisial pelaku, yakni BAC dan MAK, bahkan menyatakan kemungkinan lebih banyak pelaku terlibat.
"Perbedaan narasi ini tidak hanya membingungkan, tetapi juga dapat mengaburkan proses hukum yang sedang berjalan. Ini terlihat jelas sebagai upaya interupsi dalam proses penyidikan yang sedang berlangsung," kata Hendardi, Kamis (19/3/2026), menanggapi pernyataan kedua institusi yang saling berbeda.
Perbedaan Informasi yang Membingungkan Publik
Menurut Hendardi, meskipun Polda Metro Jaya telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam penyelidikan, termasuk mengumpulkan bukti kuat melalui rekaman CCTV dan keterangan saksi, munculnya informasi yang tidak konsisten dari pihak TNI justru merusak fokus proses pengungkapan.
Ia pun mendesak agar Presiden Prabowo Subianto segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang melibatkan berbagai pihak, seperti Polri, Komnas HAM, dan masyarakat sipil, untuk memastikan penyelidikan ini objektif dan komprehensif.
"Pembentukan TGPF sangat penting agar pengungkapan kasus ini bisa dilakukan secara transparan dan menyeluruh, tanpa adanya intervensi dari pihak manapun," ujar Hendardi, yang juga menekankan bahwa jika ada keterlibatan prajurit TNI, proses hukum harus tetap dilakukan melalui peradilan umum, bukan dialihkan ke peradilan militer.
Keterlibatan BAIS TNI dalam Kasus Ini
Hendardi juga menyoroti dugaan keterlibatan Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI dalam peristiwa tersebut, yang jika terbukti, merupakan pelanggaran serius terhadap fungsi intelijen negara.
"BAIS seharusnya berfokus pada deteksi dini ancaman terhadap negara, bukan terlibat dalam memata-matai warga sipil, terutama mereka yang menyampaikan kritik terhadap pemerintah," ujar Hendardi.
Komitmen Polri dan TNI untuk Transparansi
Sementara itu, Kapolda Metro Jaya, Irjen Asep Edi Suheri, menegaskan bahwa perbedaan informasi yang muncul antara Polri dan TNI tidak akan menghambat proses penyelidikan.
Menurutnya, kedua institusi memiliki komitmen yang sama untuk mengungkap kasus ini secara terang-benderang, dan keduanya berencana untuk mengkolaborasikan seluruh temuan penyelidikan untuk mencapai hasil yang maksimal.
"Polri dan TNI sepakat untuk membuka kasus ini secara transparan, berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dari masing-masing penyidikan," jelas Asep, yang menambahkan bahwa presiden telah menginstruksikan agar kasus ini diselesaikan secara cepat dan tanpa intervensi apapun.
Reaksi DPR dan Pihak Terkait
Ketua Komisi III DPR RI, Habibur Rochman, mengingatkan agar penyidik tidak terburu-buru menyimpulkan keterlibatan pihak tertentu, baik dari unsur sipil maupun militer.
Ia menegaskan bahwa siapa pun yang terlibat dalam kasus ini, baik sebagai pelaku utama, perencana, maupun pihak yang membantu, harus dimintai pertanggungjawaban secara hukum.
Sementara itu, Danpuspom TNI, Mayjen Yusri Nuryanto, menyatakan bahwa pihaknya telah mengamankan empat orang yang diduga terlibat dalam aksi penyiraman air keras tersebut, sementara Polda Metro Jaya mengidentifikasi dua pelaku lain dengan inisial BAC dan MAK.
Semua pelaku kini sedang diperiksa untuk mengungkap motif di balik tindak kejahatan ini.*
(dw/dh)
JAKARTA Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akhirnya resmi menetapkan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah akan jatuh p
AGAMA
MEDAN Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Bobby Nasution, menerima kunjungan taruna Akademi Kepolisian (Akpol) dan Akademi Militer (Akmil)
PEMERINTAHAN
JAKARTA Pemerintah Indonesia berencana menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) satu hari dalam seminggu untuk mengatasi dampak krisis
EKONOMI
JAKARTA Tim Rukyat Hilal Kementerian Agama (Kemenag) mengonfirmasi bahwa 1 Syawal 1447 H atau Hari Raya Idul Fitri 2026 diperkirakan jat
NASIONAL
JAKARTA Menjelang perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah, Mabes Polri mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi keamanan dan ketertiban (Kamt
NASIONAL
MEDAN Menyambut hari kemenangan Idul Fitri 1447 H, umat Islam di seluruh dunia tengah mempersiapkan diri untuk merayakan hari raya terbe
AGAMA
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengingatkan seluruh penyelenggara negara dan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk menolak
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri Kabinet Merah Putih ke Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (19/3/2026) sore.
NASIONAL
JAKARTA Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, hari ini menerima kunjungan Presiden ke5 RI yang juga Ketua Umum PDIP, Megawati
NASIONAL
LANGKAT Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Ketua DPD II Partai Kebangkitan Nasional (PKN) Kabupaten Langkat, Abd Rasyid
NASIONAL