BREAKING NEWS
Minggu, 09 Agustus 2026

Dibilang Pengecut, Dokter Tifa: Saya Hijrah, Bukan Mundur dari Polemik Ijazah Jokowi!

Johan - Minggu, 09 Agustus 2026 15:20 WIB
Dibilang Pengecut, Dokter Tifa: Saya Hijrah, Bukan Mundur dari Polemik Ijazah Jokowi!
Dokter Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA Dokter Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa membantah anggapan bahwa dirinya mundur atau takut menghadapi polemik ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi.

Ia mengatakan keputusannya untuk tidak lagi membahas persoalan tersebut secara terbuka merupakan bentuk "hijrah".

Menurut Tifa, hijrah bukan berarti menyerah, mundur, ataupun takut menghadapi persoalan yang selama ini diperjuangkannya.

Baca Juga:

Pernyataan itu disampaikan setelah dirinya mendapat kritik dan disebut pengecut oleh sejumlah pihak karena memilih berhenti membahas polemik ijazah Jokowi di ruang publik.

"Hijrah itu bukan mundur! Ampun deh. Malah sampai disebut pengecut segala macam. Allahuakbar," kata dokter Tifa, dikutip dari akun X pribadinya, Sabtu (8/8/2026).

Tifa mengatakan dirinya telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengkaji persoalan ijazah Jokowi.

Ia mengklaim mulai memperjuangkan isu tersebut sejak 2022, sebelum polemik itu menjadi perhatian luas.

"Saya Hijrah dari urusan Ijazah Jokowi. Karena saya memperjuangkan kebenaran ini sejak tahun 2022, jauh sebelum orang-orang lain melakukannya," kata dia.

Ia mengaku telah melakukan penelitian dan pengkajian selama beberapa tahun.

Hasil penelitian tersebut, menurut Tifa, kemudian dituangkan dalam buku berjudul Jokowi's White Paper yang rampung pada Agustus 2025.

"Artinya total 4 tahun saya meneliti ijazah ini. Ditambah 450 hari saya dikriminalisasi. Artinya 1.460 hari + 450 hari = 1.910 hari saya menghabiskan waktu untuk mengurusi ijazah ini," katanya.

Tifa juga mengklaim telah mengeluarkan biaya pribadi dalam proses yang disebutnya sebagai perjuangan tersebut.

"Berapa miliar Rupiah saya keluarkan untuk berjuang dengan segala macam perjuangan ini. Keluar dari kantong sendiri! Tanpa bohir!" lanjutnya.

"Hasil penelitian saya rampung dan bulan Agustus 2025 dan menjadi buku Jokowi's White Paper," ujarnya.

Selain penelitian, Tifa mengatakan dirinya juga menghadapi proses hukum yang berkaitan dengan polemik ijazah Jokowi.

"Masih lagi ditambah saya berurusan dengan Polda menjadi saksi, terlapor, tersangka, lalu terdakwa," sambungnya.

"Ditahan, disidang, kemudian setelah berjuang empat kali sidang duduk di kursi terdakwa," kata Tifa.

"Kemudian 23 Juli 2026 status terdakwa saya dinyatakan batal demi hukum," imbuhnya.

Rangkaian proses tersebut, kata Tifa, menjadi salah satu alasan dirinya memilih tidak lagi membahas polemik ijazah Jokowi secara terbuka.

Ia menegaskan keputusan tersebut bukan karena takut.

"Lalu saya mau berhijrah kok pada protes. Bahkan memaki saya pengecut," katanya.

Tifa juga membantah isu yang menyebut dirinya diam-diam pergi ke Solo untuk bertemu Jokowi.

"Bahkan sekarang ini isu mencuat saya dikatakan diam-diam ke Solo," pungkasnya.

Sebelumnya, Tifa mengatakan dirinya memilih meninggalkan kegaduhan di ruang publik dan menyerahkan persoalan tersebut melalui jalur hukum.

"Hijrah dari kebisingan, bukan hijrah dari kebenaran," kata dokter Tifa, dikutip dari akun X pribadinya, Kamis (6/8/2026).

Tifa juga membantah anggapan bahwa keputusannya berhenti membahas polemik ijazah Jokowi berkaitan dengan keinginan menyelesaikan perkara melalui perdamaian.

Ia mengklaim pernah mendapat tawaran restorative justice yang disebutnya disertai paket senilai Rp50 miliar. Namun, menurut Tifa, tawaran tersebut tidak diambil.

"Jika saya mau berdamai dengan Joko Widodo, akan saya terima tawaran itu jauh-jauh hari," kata dokter Tifa, dikutip dari akun X pribadinya, Sabtu (8/8/2026).

"Saya buka transparan ini. Tawaran Restorative Justice kepada saya lengkap dengan paket Rp 50 M!" ujarnya.

"Apakah saya ambil? Tidak!" tegasnya.

"Lalu kalian masih bilang saya mundur, saya pengecut, saya pengkhianat. Bagaimana sih pikiran kalian?" katanya.

Tifa mengatakan keputusan berhijrah berkaitan dengan anggapannya bahwa tugasnya dalam fase sebelumnya telah selesai setelah eksepsinya diterima.

"Perjuangan saya selesai dengan eksepsi saya diterima dan saya bebas. Karena itu saya katakan: saya hijrah," tegasnya.

Namun, ia menyatakan tetap akan mengambil langkah hukum apabila status bebas tersebut kembali dipersoalkan.

"Sekarang, ketika status bebas saya terancam dibatalkan, ya tentu saya harus melawan, dong," tegasnya.

Tifa mengatakan dirinya hanya sempat menikmati status bebas tersebut selama tiga hari sebelum kembali menerima panggilan untuk menjalani persidangan.

Ia kemudian memilih menggunakan mekanisme hukum yang tersedia, termasuk mengajukan praperadilan.

"Harus saya lawan dong. Dengan apa? Ya dengan fasilitas hukum yang ada mulai dari praperadilan. Maka saya mengajukan praperadilan!" tegas Tifa.

Tifa juga menyebut adanya proses hukum lanjutan yang akan dijalaninya.

"Diizinkan Mahkamah Agung maka insyaAllah Rabu, 12 Agustus 2026 saya berjuang lagi di sidang," katanya.

Setelah menyatakan berhijrah dari polemik ijazah Jokowi, Tifa mengatakan ingin mengalihkan perhatian kepada sejumlah persoalan lain yang menurutnya membutuhkan pemikiran.

Ia menyebut isu kesehatan, teknologi, kondisi sosial, hingga geopolitik.

"Ancaman kesehatan yang makin meledak, teknologi vaksin yang harus diawasi, senjata biologis yang menjadi bagian dari Perang Dunia III," ujarnya.

"Gangguan mental massal yang bikin banyak bunuh diri dan pembunuhan sadis, masalah geopolitik, sosial, kesejahteraan, status gizi buruk, angka infeksi yang meledak," katanya.

Menurut Tifa, berhenti membahas polemik ijazah Jokowi di ruang publik bukan berarti dirinya berhenti beraktivitas.

Ia memilih mengarahkan perhatian pada persoalan lain yang dinilainya membutuhkan kontribusi.

Tifa menegaskan keputusan untuk tidak lagi memperdebatkan polemik ijazah Jokowi di ruang publik tidak berarti dirinya meninggalkan proses hukum.

Ia menyatakan akan tetap menghadapi persoalan hukum yang masih berjalan dan menggunakan mekanisme hukum yang tersedia.

Bagi Tifa, "berhijrah dari kebisingan" berbeda dengan berhenti menghadapi proses hukum.

Ia memilih tidak menjadikan media sosial sebagai ruang utama untuk memperdebatkan persoalan tersebut.

Salah satu langkah yang disebutnya ditempuh adalah pengajuan praperadilan.

Ia juga menyatakan akan kembali mengikuti persidangan pada Rabu, 12 Agustus 2026 apabila proses tersebut mendapatkan izin dari Mahkamah Agung.

Tifa juga menyampaikan pesan kepada orang-orang yang selama ini mengaku mendukung perjuangannya.

Ia meminta dukungan tidak berhenti pada komentar di media sosial.

"Kalian bantu saya apa selama ini? Beli buku saya kek. Borong buku biar saya tenang berjuang tanpa mikir dengan apa saya membiayai perjuangan ini," ujarnya.

Ia juga meminta pendukung yang mengklaim berada di belakang perjuangannya memberikan dukungan secara nyata.

"Jangan cuma jadi komentator bola di lapangan seakan jadi si paling berjuang," katanya.

"Bantu beli buku kagak. Datang temani saya bersidang kagak. Menghujat paling duluan," pungkasnya.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan sikap Tifa bahwa keputusannya meninggalkan perdebatan terbuka mengenai polemik ijazah Jokowi bukan karena mundur atau takut.

Ia mengatakan tetap memilih jalur hukum untuk menghadapi persoalan yang masih berlangsung.* (tm/ad)

Editor
: Raman Krisna
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Kaesang vs Puan di Jateng V, Siapa Lebih Kuat: Pengaruh Jokowi atau Mesin PDIP?
Banyak Kepala Daerah Mulai Dilirik untuk Pilpres 2029, Pengamat: Sinyal Positif Demokrasi
Tega! Nenek 69 Tahun Dibacok Cucu Sendiri di Serdang Bedagai
Ratusan Senjata, Narkoba dan CD Pornografi Ditemukan di Sekolah, Ini Respons Menteri PPPA
Berpolitik Bukan Cari Enak
Komisi III DPR Minta Tersangka Pembunuhan Bocah 6 Tahun di Tapsel Dihukum Maksimal
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru