Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
MEDAN — Aksi keluarga Winda Lorenza, mantan istri seorang polisi yang tewas dalam kasus yang diduga bunuh diri, di depan Markas Kepolisian Daerah Sumatera Utara atau Polda Sumut berlangsung ricuh.
Keluarga Winda menuding Kapolda Sumut Irjen Whisnu Hermawan Februanto tidak memiliki hati nurani dalam menangani kasus tersebut.
Aksi berlangsung sejak pagi hingga sore pada Kamis, 27 Agustus 2026. Massa sempat memblokade jalan di depan Mapolda Sumut sehingga menyebabkan kemacetan.
Baca Juga:
Massa kemudian menerobos masuk melalui pintu Mapolda Sumut hingga ke area Markas Polda Sumut.
Situasi sempat memanas dan terjadi gesekan antara massa aksi dengan polisi. Petugas kemudian berupaya menenangkan situasi.
Ibu kandung Winda, Yesti Laila, menyampaikan kekecewaannya terhadap Kapolda Sumut.
Ia meminta kepolisian memperhatikan perasaan keluarga yang kehilangan anggota keluarganya.
"Bapak Kapolda, kau juga lahir dari rahim seorang ibu. Bapak Kapolda pasti bisa merasakan sakitnya seorang ibu ketika putrinya meninggal secara tidak wajar. Kapolda Sumut seperti tidak memiliki hati Nurani," kata Yesti.
Yesti mengatakan dirinya meyakini terdapat kejanggalan dalam kematian putrinya. Ia juga tidak percaya Winda meninggal karena bunuh diri.
"Kami merasa batin dan naluri saya mengatakan anak saya dibunuh. Batin saya berkata begitu, Pak Kapolda," katanya.
Ia mengatakan kondisi dirinya yang selama bertahun-tahun menggunakan kursi roda menjadi salah satu alasan dirinya sulit percaya Winda meninggalkan dirinya dengan cara tersebut.
"Saya merasa anak saya tidak tega meninggalkan saya karena ibunya sudah lama di kursi roda selama delapan tahun. Bagaimana hati saya? Lihatlah, Bapak-bapak polisi dan Kapolda. Suatu saat saya dipanggil Tuhan," lanjut dia.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.