Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
"Nah, inilah, modus para penyelundup itu seperti itu, ya. Mereka datang dari beberapa negara, ya. Kadang dari wilayah-wilayah Laos dan sebagainya. Kemudian mengadakan transaksi di Laut Andaman atau juga Selat Malaka, ya, dari ship-to-ship, dari kapal ke kapal, ya," jelasnya.
"Ada kapal pembawa barang, ada penerima. Nanti habis nanti diisi lagi, terus saja begitu. Nah, ini tentunya butuh kejelian, kesabaran, keuletan kita semua, ya," sambungnya.
Praktik pemindahan muatan antarkapal di laut terbuka menjadi tantangan bagi aparat penegak hukum.
Petugas harus menganalisis pola perjalanan kapal, perubahan kecepatan, hingga aktivitas komunikasi pelayaran untuk mengidentifikasi pergerakan yang tidak wajar.
Pada minggu kedua Oktober 2026, tim analis meyakini MT Global 168 sedang melakukan transaksi ship-to-ship di perairan Andaman.
Salah satu indikasi yang menjadi perhatian petugas adalah tidak aktifnya sistem Automatic Identification System (AIS) selama 3 hari 17 jam.
AIS merupakan sistem yang digunakan kapal untuk memancarkan informasi identitas, posisi, arah, dan kecepatan.
Sistem ini membantu kapal lain dan otoritas terkait memantau pergerakan kapal di laut.
Suyudi mengatakan, penonaktifan AIS saat transaksi diduga dilakukan untuk menghindari pemantauan aparat.
"Modus-modus para penyelundup itu selalu mematikan AIS, ya, pada saat mereka sedang transaksi. Nah, tapi ini jadi bagus juga buat kita, ya, kita jadi bisa membaca sebuah anomali yang perlu kita ikuti," paparnya.
Berdasarkan pemantauan yang disampaikan Kapolri, pada Rabu, 14 Oktober 2026, pukul 12.31 hingga 13.25 WIB, kapal terpantau melintasi bagian tengah Selat Malaka ke arah barat laut, sejajar dengan perairan Perak atau Taiping, Malaysia.
Kecepatannya berada di kisaran 5,5 hingga 6 knot.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.