Kesepakatan itu mulai berlaku pada Jumat dini hari waktu setempat, setelah sekitar enam minggu pertempuran di wilayah perbatasan Lebanon selatan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan negaranya menyetujui gencatan senjata untuk mendukung upaya perdamaian, namun tetap menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya dari wilayah yang telah dikuasai.
"Itulah posisi kami saat ini, dan kami tidak akan pergi," kata Netanyahu.
Di sisi lain, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyebut Israel tetap memiliki hak untuk membela diri terhadap ancaman yang dianggap sedang berlangsung maupun akan terjadi.
Ketentuan tersebut membuka ruang bagi operasi militer terbatas meski gencatan senjata diberlakukan.
Kelompok Hizbullah juga memperingatkan akan membalas setiap serangan Israel, yang dinilai masih dapat mengancam stabilitas kesepakatan gencatan senjata tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur perdagangan energi paling strategis di dunia, yang menghubungkan produksi minyak dari kawasan Teluk dengan pasar global.*
(km/ad)
Editor
: Adelia Syafitri
Iran Buka Kembali Selat Hormuz, Seluruh Kapal Komersial Diizinkan Melintas di Tengah Gencatan Senjata