Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta bicara soal masa depan ASEAN pada Selasa (2/6/2026) pada ERIA School of Government Leadership Lecture Series di Jakarta. (Foto: Liputan6/Teddy Tri Setio Berty)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Pernyataan tersebut disampaikan Ramos-Horta usai menjadi pembicara dalam Leadership Lecture bertema *Leadership in Dangerous Times: Human Rights, Nation-Building, and Regional Diplomacy* yang digelar ERIA School of Government di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Peraih Nobel Perdamaian itu menilai keberagaman bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang dapat memperkaya kehidupan berbangsa dan bernegara apabila dikelola dengan baik.
"Negara yang memiliki keberagaman etnis, budaya, bahasa, dan agama harus melihat itu sebagai sebuah berkah," ujar Ramos-Horta.
Menurutnya, Indonesia telah menunjukkan kepada dunia bagaimana negara kepulauan yang luas dengan latar belakang masyarakat yang beragam tetap mampu membangun identitas bersama sebagai satu bangsa.
Ramos-Horta bahkan menyandingkan Indonesia dengan India sebagai contoh negara demokrasi besar yang berhasil mengelola keberagaman dalam kehidupan sosial dan politiknya.
"Semua orang merasa menjadi bagian dari negara ini. Indonesia adalah contoh yang baik," katanya.
Meski mengakui masih terdapat ketegangan sosial di beberapa wilayah, Ramos-Horta menilai kondisi tersebut merupakan hal yang wajar dalam negara demokrasi. Yang terpenting, menurut dia, adalah adanya upaya berkelanjutan untuk menjaga harmoni dan mencegah konflik sejak dini.
Dalam kesempatan itu, Ramos-Horta juga memberikan apresiasi kepada organisasi masyarakat sipil dan tokoh agama yang berperan menjaga toleransi di Indonesia.
Ia secara khusus menyebut kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai dua organisasi Islam terbesar yang dinilai berperan penting dalam merawat nilai-nilai moderasi, toleransi, dan kehidupan berbangsa yang harmonis.
Selain itu, Ramos-Horta turut mengenang kunjungan mendiang Paus Fransiskus ke Indonesia yang menurutnya memberikan pesan kuat tentang dialog antarumat beragama.
Ia mengaku terkesan dengan momen ketika Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar mencium dahi Paus Fransiskus dalam salah satu agenda kunjungan tersebut.
Menurut Ramos-Horta, momen itu menjadi simbol persaudaraan lintas agama yang memberikan dampak positif bagi dunia internasional.
Tak hanya itu, keberadaan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta yang berdiri berdampingan juga dinilai sebagai bukti nyata toleransi yang tumbuh di Indonesia.
"Di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Anda memiliki sebuah katedral yang berfungsi dengan baik di pusat ibu kota. Itu sangat indah dan perlu terus dijaga," pungkasnya.*
(mt/dh)
Editor
: Nurul
Ramos-Horta Puji Indonesia, Sebut Teladan Demokrasi dan Toleransi Dunia