JAKARTA – Pengamatan hilal untuk menentukan awal puasaRamadhan 1447 Hijriah di sejumlah wilayah Indonesia menunjukkan hasil yang sama: bulan masih berada di bawah ufuk.
Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Jakarta dan Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Kabupaten Situbondo menegaskan, hilal tidak dapat terlihat, sehingga bulan Sya'ban digenapkan menjadi 30 hari atau istiqmal.
Kepala Kanwil Kemenag Jakarta, Adib, menjelaskan, posisi hilal masih jauh di bawah ufuk pada Selasa (17/2/2026).
"Bulan terbenam lebih dulu sekitar pukul 18.11 WIB dibanding matahari pukul 18.15 WIB, sehingga tinggi hilal berada di minus 0 derajat 54 menit. Artinya, tidak mungkin terlihat dari daratan Jakarta," ujarnya.
Pengamatan di Situbondo berlangsung di Pelabuhan Kalbut, Desa Semiring, Kecamatan Mangaran.
Ketua BHRSitubondo, Irpan Hilmi, menyatakan, "Ketika hilal tidak terlihat karena posisinya di bawah ufuk, penentuan awal Ramadhan 1447 H menggenapkan bulan Sya'ban menjadi 30 hari."
Irpan memperkirakan, awal puasaRamadhan kemungkinan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Namun keputusan resmi tetap menunggu hasil Sidang Isbat yang digelar pada Selasa malam.
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, mengimbau masyarakat menyambut bulan suci dengan penuh kegembiraan dan saling menghormati perbedaan.
"Saya sebagai bagian dari pemerintah akan berpuasa sesuai keputusan pemerintah pusat," kata Bupati Rio.
Pengamatan hilal di Situbondo dihadiri Bupati dan Wakil Bupati, Ketua PCNU, Ketua MUI, perwakilan LDII, serta sejumlah akademisi dari universitas setempat.
Kegiatan ini menjadi salah satu langkah verifikasi hisab yang dilakukan sebelum menetapkan awal puasa secara resmi.*