BREAKING NEWS
Kamis, 05 Maret 2026

Kisah Pilu Bayi Pejaten: Kakak 12 Tahun Memikul Berat Kehidupan

Adelia Syafitri - Kamis, 05 Maret 2026 13:01 WIB
Kisah Pilu Bayi Pejaten: Kakak 12 Tahun Memikul Berat Kehidupan
Surat yang ditinggalkan diduga kakak bayi perempuan yang ditemukan di gerobak nasi uduk di Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (3/2/2026).(Foto: Dok. Polsek Pasar Minggu)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Sebuah kisah pilu menimpa kawasan Pejaten Raya, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Seorang bayi perempuan berusia dua hari ditemukan di dalam tas belanja hitam yang ditinggalkan di gerobak nasi uduk, Selasa (3/3/2026) sore.

Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana seorang anak bisa memikul beban keputusan sebesar itu?

Bayi tersebut pertama kali ditemukan oleh seorang warga bernama Dinda setelah mendengar tangisan dari gerobak yang terparkir di depan rumahnya.

Baca Juga:

Polisi mengungkapkan, dalam tas ditemukan sepucuk surat dari Z, kakak bayi berusia 12 tahun, yang menulis bahwa ibu mereka meninggal saat melahirkan.

"Assalamualaikum, Bapak/Ibu yang menemukan adik saya, saya Z ingin minta tolong untuk merawat adik saya, karena ibu saya meninggal saat melahirkan," tulis Z.

Selain surat, tas berisi perlengkapan bayi, termasuk susu formula, tisu basah, dan sarung tangan. Bayi kemudian dibawa ke Puskesmas Pasar Minggu untuk perawatan awal sebelum diserahkan ke Dinas Sosial.

Kemiskinan dan Sistem yang Gagal

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Agustinus Sirait, menilai kasus ini mencerminkan persoalan kemiskinan yang belum terselesaikan dan lemahnya perlindungan sosial bagi kelompok rentan.

"Satu, faktor kemiskinan, ini menjadi salah satunya. Tapi ini adalah potret kepedulian kita dan lemahnya perlindungan sosial," kata Agustinus, Kamis (5/3/2026).

Sosiolog Universitas Gadjah Mada, A.B. Widyanta, menambahkan, tragedi ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan indikasi kegagalan struktural yang menimpa anak-anak.

Kemiskinan yang tidak tertangani dengan baik dapat menimbulkan rasa malu, bersalah, hingga hilangnya rasa layak hidup pada anak.

"Matinya harapan anak adalah matinya masa depan Indonesia. Kepiluan anak, keluarga, adalah kepiluan bangsa," ujarnya.

Harapan dan Tanggung Jawab Bersama

Kasus ini menjadi pengingat bahwa perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga masyarakat dan negara.

Rumah ibadah, RPTRA, taman bermain, dan ruang sosial seharusnya dapat menjadi titik awal bagi anak untuk meminta pertolongan ketika menghadapi kesulitan.

Kejadian tragis di Pejaten ini menuntut perhatian lebih dari pemerintah, lembaga perlindungan anak, dan masyarakat agar anak-anak dari keluarga rentan tidak terpaksa menempuh jalan ekstrem.*

(k/dh)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
KPK Geledah Lokasi di Jabodetabek, Fokus pada Dugaan Korupsi Bansos Presiden 2020
Driver Ojek Online Ditemukan Tewas di Bawah Flyover TB Simatupang Jakarta Selatan
Kejiwaan Ayah Pembunuh 4 Anak di Jakarta Selatan Akan Diperiksa
Ayah Kandung Jadi Tersangka, Bekap Keempat Anak Secara Bergantian hingga Tewas
Misteri Pesan Berdarah Ditemukan di Rumah 4 Bocah Tewas Dalam Kamar Mandi
4 Bocah di Jaksel Diperkirakan Tewas Sejak 3-5 Hari Lalu
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru