BREAKING NEWS
Jumat, 19 Juni 2026

Samuel Silaen: Indonesia Tidak Kekurangan Orang Pintar, yang Langka Justru Keberanian Moral

gusWedha - Sabtu, 13 Juni 2026 20:43 WIB
Samuel Silaen: Indonesia Tidak Kekurangan Orang Pintar, yang Langka Justru Keberanian Moral
Pengamat politik dan kebijakan publik Samuel F. Silaen. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Pengamat politik dan kebijakan publik Samuel F. Silaen menilai Indonesia tidak kekurangan sumber daya manusia yang cerdas.

Namun, ia menyebut persoalan utama saat ini terletak pada menurunnya keberanian moral di ruang publik, terutama di kalangan terdidik.

Dalam keterangannya kepada awak media, Sabtu (13/6/2026), Samuel mengatakan Indonesia memiliki banyak akademisi, peneliti, dan profesional yang kompeten.

Baca Juga:

Namun, tidak semua berani menyuarakan kritik ketika berhadapan dengan persoalan publik.

"Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Kita memiliki banyak profesor, akademisi, praktisi, dan ahli yang kompeten. Yang menjadi persoalan hari ini adalah semakin langkanya keberanian moral untuk berdiri di pihak kebenaran," ujar Samuel.

Ia menilai sebagian kalangan terdidik cenderung memilih diam ketika menghadapi isu-isu publik yang dinilai sensitif.

Sikap itu, menurutnya, dipengaruhi oleh kekhawatiran kehilangan posisi, akses, atau kenyamanan yang sudah dimiliki.

Samuel menyebut kondisi tersebut diperkuat oleh budaya pragmatisme yang berkembang dalam kehidupan sosial dan politik.

Akibatnya, ruang publik kehilangan suara kritis yang seharusnya menjadi penyeimbang dalam proses pengambilan kebijakan.

"Banyak orang memilih berada di zona aman. Mereka tahu ada masalah, tetapi enggan bersuara karena takut kehilangan jabatan atau akses. Padahal perubahan tidak lahir dari sikap diam," katanya.

Ia menegaskan bahwa kecerdasan intelektual tanpa integritas dan keberanian hanya akan menghasilkan kelompok yang pragmatis dalam melihat persoalan kebijakan.

Dalam situasi seperti itu, kebijakan publik berisiko lebih berpihak pada kepentingan jangka pendek.

Samuel juga mengingatkan bahwa perubahan dalam sejarah berbagai negara selalu digerakkan oleh orang-orang yang berani mengambil risiko untuk menyuarakan kebenaran.

"Ketika mereka yang memahami persoalan memilih bungkam, maka ruang publik akan diisi oleh kepentingan yang belum tentu berpihak kepada rakyat," ujarnya.

Lebih jauh, ia menilai kualitas sebuah bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi juga dari karakter masyarakatnya dalam menjaga integritas dan keberanian moral.

Samuel pun mengajak akademisi, mahasiswa, dan generasi muda untuk kembali memperkuat budaya kritis dalam kehidupan demokrasi.

"Keberanian untuk membela kebenaran dan keadilan adalah modal utama untuk menjaga demokrasi tetap sehat," kata dia.*


(ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Aksi Mahasiswa Dituding Ditunggangi Pihak Tertentu, BEM UI Bantah: Sebut Saja Namanya, Jangan Sekadar Asumsi!
Kepala Bakom RI: Presiden Prabowo Jadi “Panglima Paling Depan” Lawan Kebocoran APBN, Mahasiswa Harusnya Dukung
PSI Benahi Struktur hingga Tingkat Desa Jelang Masuknya Jokowi: Agar Roda Partai Langsung Bergerak
Peneliti BRIN: Wacana Jokowi Jadi Dewan Pembina PSI Masih “Cek Ombak”
Gugatan ke MK, Masa Jabatan Ketum Parpol Diminta Dibatasi Hanya Dua Periode
Ketua Umum SMSI Petakan Dinamika Politik Nasional, Dorong Media Siber Lebih Independen dan Adaptif
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru