BREAKING NEWS
Sabtu, 15 Agustus 2026

Indonesia Bukan Satu Wajah, DPD Ingin Asta Cita Prabowo Dirasakan sampai Pelosok

Adelia Syafitri - Rabu, 12 Agustus 2026 16:42 WIB
Indonesia Bukan Satu Wajah, DPD Ingin Asta Cita Prabowo Dirasakan sampai Pelosok
Gedung MPR/DPR/DPD. (Foto: Dok. mpr)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung menyebut Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI (STSB) 2026 menjadi momentum penting untuk menggaungkan semangat Asta Cita Presiden Prabowo Subianto sekaligus memastikan pembangunan nasional mengakomodasi kepentingan daerah.

Menurut Tamsil, forum kenegaraan tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkuat perspektif kewilayahan dalam agenda pembangunan Indonesia.

"Ini menjadi episentrum pemikiran kebangsaan untuk memastikan pembangunan nasional menjangkau seluruh wilayah. Setiap jengkal tanah di republik ini memiliki kesempatan yang setara untuk tumbuh menjadi kekuatan bangsa," ujar Tamsil di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Baca Juga:

Tamsil mengatakan posisi DPD RI sebagai tuan rumah STSB tahun ini memiliki arti strategis. Sebagai lembaga yang memiliki mandat representasi kewilayahan, DPD dinilai berkepentingan memastikan suara daerah masuk dalam arus utama pembangunan nasional.

"DPD hadir membawa suara dari pesisir, pegunungan dan pedalaman ke dalam rumah kebangsaan. Kami mengapresiasi arsitektur pembangunan Asta Cita yang diperjuangkan Presiden Prabowo Subianto, menempatkan daerah sebagai bagian utuh dari agenda memajukan bangsa," katanya.

Menurut Tamsil, penguatan kapasitas nasional harus ditopang daerah yang produktif dan mampu mengembangkan potensi ekonominya. Pembangunan daerah, kata dia, merupakan bagian penting untuk memperkuat Indonesia dari dalam di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Dia juga mengapresiasi arah pembangunan pemerintahan Presiden Prabowo yang dinilai menempatkan kepentingan nasional sebagai orientasi utama. Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan semangat Pasal 33 UUD 1945 dalam pengelolaan sumber daya nasional.

"Kita melihat ada keberanian baru dalam melakukan kalibrasi kiblat bangsa, menegakkan spirit Indonesia First dan implementasi Pasal 33 UUD 1945. Artinya, kekayaan harus pertama-tama memberi manfaat bagi rakyat Indonesia. Sumber daya alam tidak cukup hanya diambil, tetapi diberi nilai tambah dan menjadi kekuatan ekonomi bangsa," ujarnya.

Tamsil menyebut semangat tersebut tercermin dalam sejumlah agenda pemerintah, seperti hilirisasi, penguatan ketahanan pangan dan energi, serta berbagai program prioritas untuk membangun kemandirian ekonomi.

Menurutnya, keberpihakan terhadap kepentingan nasional pada akhirnya harus bermuara ke daerah karena basis produksi Indonesia berada di kabupaten dan kota.

"Kalau sumber daya alamnya ada di daerah, maka daerah harus mendapatkan manfaat yang semakin besar. Di situlah implementasi Pasal 33 bertemu dengan semangat Asta Cita," katanya.

Mantan pimpinan Badan Anggaran DPR RI itu menilai Asta Cita dapat menjadi penggerak pembangunan apabila kebijakan dan program prioritas nasional mampu meningkatkan kapasitas ekonomi daerah.

Dia menyebut distribusi fiskal dan program nasional menjadi instrumen penting untuk mempercepat proses tersebut.

"Fiskal adalah salah satu pengungkitnya, program nasional adalah penggeraknya, tetapi daerah adalah tempat di mana pertumbuhan itu diwujudkan. Ketika fiskal mengalir melalui Makan Bergizi Gratis, misalnya, petani, peternak, nelayan, dan usaha rakyat bergerak dalam orkestrasi ekonomi yang sama. Itulah yang kita sebut sebagai spiral Asta Cita," ujar Tamsil.

Tamsil juga menekankan pentingnya kebijakan nasional memperhatikan karakter dan potensi masing-masing wilayah. Menurutnya, kondisi geografis dan basis ekonomi Indonesia sangat beragam sehingga pendekatan pembangunan tidak dapat sepenuhnya diseragamkan.

"Indonesia bukan satu wajah. Ada kepulauan, perbatasan, daerah dengan sumber daya alam besar, daerah agraris, daerah maritim, kawasan industri, dan daerah yang menghadapi tantangan geografis yang sangat berat. Kebijakan harus mampu membaca keragaman itu," tuturnya.

Dia menegaskan daerah harus ditempatkan sebagai subjek sekaligus mesin pertumbuhan. Setiap daerah memiliki keunggulan komparatif dan tantangan berbeda yang perlu didukung kebijakan nasional agar berkembang menjadi keunggulan kompetitif.

"Ketika setiap daerah tumbuh sesuai potensinya, maka kita sedang menyusun mozaik kekuatan Indonesia," katanya.

Tamsil berharap manfaat Asta Cita dapat dirasakan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia tanpa terkecuali. Ia menilai tidak boleh ada wilayah yang merasa berada di pinggir republik maupun potensi daerah yang terhambat karena keterbatasan akses.

"Jika anak-anak di Jakarta, Bandung dan Denpasar menikmati makan bergizi dari negara, demikian pula anak-anak di pulau-pulau dan pegunungan. Semua mendapatkan manfaat yang sama," imbuhnya.

Terkait STSB yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Tamsil menilai forum tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas kebangsaan dan komunikasi antarlembaga negara.

Menurutnya, keberagaman perspektif antarlembaga dapat memperkaya cara melihat persoalan nasional dan membantu merumuskan kebijakan yang lebih utuh.

"Demokrasi membutuhkan institusi yang kuat. Perspektif yang beragam memperkaya cara kita melihat Indonesia, sehingga bisa meramu formula kebijakan yang lebih utuh," katanya.

Tamsil berharap laporan kinerja lembaga negara dan penyampaian Presiden dalam STSB tidak berhenti sebagai pertanggungjawaban konstitusional. Menurutnya, forum tersebut juga harus menjadi bahan evaluasi dan dasar kerja kolaboratif seluruh elemen bangsa.

Dia mengapresiasi sejumlah capaian pemerintah dalam satu tahun terakhir, khususnya penguatan ketahanan pangan dan energi, hilirisasi, pembangunan sumber daya manusia serta program peningkatan kesejahteraan masyarakat.

"Pemerintahan Presiden Prabowo sudah meletakkan sejumlah fondasi penting. Tentu pembangunan adalah proses yang panjang. Yang kita perlukan adalah kesinambungan, konsistensi, dan keberanian melakukan penyempurnaan," pungkasnya.* (oz/dh)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Dari 5 Ribu ke 116 Ribu Followers, Begini Cara Pemko Medan Ubah Citra 'Kota Sejuta Lubang
Bupati Asahan Kibarkan Bendera Merah Putih Raksasa di Muara Selat Malaka Jelang HUT ke-81 RI
Kepala BGN Sudaryono ke Kejagung Hari Ini, Ada Apa?
Jelang 17 Agustus, Pemerintah Pastikan Keamanan Nasional Tetap Terkendali
Stok Beras BULOG Capai 5,25 Juta Ton, Tersebar di Seluruh Indonesia
Kasus Jayapura Jadi Alarm, BGN Siapkan Label Batas Konsumsi pada Ompreng MBG
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru