BREAKING NEWS
Kamis, 03 September 2026

12.600 Balita Terkena ISPA Akibat Karhutla, DPR: "Jangan Tunggu Masyarakat Sakit Baru Negara Bergerak"

Administrator - Kamis, 03 September 2026 09:26 WIB
12.600 Balita Terkena ISPA Akibat Karhutla, DPR: "Jangan Tunggu Masyarakat Sakit Baru Negara Bergerak"
Sejumlah pengendara melintas di atas Jembatan Layang Simpang Jakabaring yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, pada Kamis (27/6/2026). (Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani mendesak pemerintah memperkuat perlindungan terhadap kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil hingga lanjut usia (lansia), saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi.

Desakan tersebut disampaikan karena karhutla meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat akibat paparan asap dan polusi udara.

"Jangan menunggu masyarakat sakit baru negara bergerak. Ketika kualitas udara mulai memburuk, sistem kesehatan harus sudah bersiap," tegas Netty dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).

Baca Juga:

Netty meminta pemerintah memperkuat sistem peringatan dini terhadap dampak kesehatan akibat karhutla. Menurutnya, data kualitas udara perlu diintegrasikan dengan informasi wilayah terdampak, kepadatan penduduk serta tren penyakit, khususnya gangguan pernapasan.

"Jangan hanya menghitung berapa hektare yang terbakar. Kita juga harus menghitung berapa banyak masyarakat yang terpapar asap dan berapa banyak yang kemudian membutuhkan pelayanan kesehatan," ujarnya.

Selain memperkuat sistem peringatan dini, Netty mendorong pemerintah menyiapkan fasilitas kesehatan di daerah yang rawan karhutla.

Kesiapan tersebut mencakup puskesmas dan rumah sakit, termasuk ketersediaan obat, tenaga kesehatan, alat kesehatan hingga mekanisme pelayanan khusus bagi kelompok rentan.

"Respons kesehatan jangan hanya bersifat reaktif ketika pasien sudah berdatangan ke puskesmas. Harus ada kesiapsiagaan sebelum, saat, dan setelah karhutla," kata Netty.

Dampak kesehatan akibat karhutla juga tercermin dari data Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Sejak Juli hingga Agustus 2026, tercatat 50.891 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah yang terdampak karhutla.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI Andi Saguni mengatakan pemantauan tersebut dilakukan melalui sistem surveilans sejak Juli 2026, ketika aktivitas karhutla mulai meningkat.

"Terkumpul total kumulatif kasus ISPA sejak bulan Juli-Agustus itu sebanyak 50.891 kasus. Dan kasus ISPA pada hari ini itu sebanyak 451," kata Andi dalam konferensi pers bersama BNPB, Selasa (1/9/2026).

Dari total tersebut, sebanyak 12.600 kasus ISPA terjadi pada anak usia di bawah lima tahun. Sementara 38.291 kasus lainnya terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun.

Editor
: Administrator
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Korban Dugaan Keracunan MBG di Sidoarjo Terus Bertambah, BGN Buka Suara
Wakil Wali Kota Medan Dukung Reforma Agraria, Dorong Kepastian Hukum dan Kesejahteraan Ekonomi Warga
Banyak Warga Pertanyakan Desil DTSEN, Dinsos Medan: Itu Kewenangan BPS, Bukan Pemko
448 Orang Keracunan Usai Santap MBG di Sidoarjo, SPPG Kalitengah Dihentikan Sementara
Tambah 10.000 Penerima, PKH Medan Makmur Kini Sasar Lebih Banyak Lansia dan Disabilitas
Perubahan APBD Labusel 2026 Dibahas, Pendapatan Daerah Diproyeksikan Naik Jadi Rp970,12 Miliar
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru