BREAKING NEWS
Kamis, 24 September 2026

Polemik Ucapan Prabowo soal “Pakar Goblok”, Pigai Singgung Mahfud MD: Bukan untuk Semua Pakar

Dharma - Rabu, 23 September 2026 13:50 WIB
Polemik Ucapan Prabowo soal “Pakar Goblok”, Pigai Singgung Mahfud MD: Bukan untuk Semua Pakar
Menteri HAM Natalius Pigai menanggapi pernyataan mantan Menko Polhukam Mahfud MD terkait ucapan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut sejumlah pakar sebagai pihak yang “saking pintarnya jadi goblok”. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menanggapi pernyataan mantan Menko Polhukam Mahfud MD terkait ucapan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut sejumlah pakar sebagai pihak yang "saking pintarnya jadi goblok".

Pigai menegaskan pernyataan Prabowo tidak ditujukan kepada seluruh pakar, akademisi, maupun ilmuwan.

Menurut dia, Presiden sedang mengkritik kelompok yang disebutnya sebagai "post-truth".

Baca Juga:

Penjelasan itu disampaikan Pigai di Jakarta pada Selasa, 22 September 2026.

Kementerian HAM juga menyebut Pigai memberikan klarifikasi bahwa istilah tersebut merujuk pada kelompok yang dinilai mengabaikan kebenaran atau memiliki kepentingan lain di luar kepakaran.

Pigai mengatakan istilah post-truth yang dimaksudnya merujuk kepada orang-orang yang menurutnya membungkam kebenaran, tidak mengakui fakta, kemudian membangun narasi lain.

"Jadi yang ini hanya post-truth aja yang Pak Prabowo bilang. Tidak semua, ya. Post-truth itu kan orang yang ramai-ramai membungkam kebenaran, orang yang ramai-ramai mematikan kebenaran, orang yang tidak mau mengakui kebenaran, tapi dia munculkan atau dia menciptakan kebohongan," kata Pigai.

Ia kembali menegaskan bahwa ucapan Prabowo tidak dimaksudkan sebagai kritik terhadap seluruh kelompok pakar.

"Ini yang disampaikan oleh Presiden itu adalah yang post-truth, yang ramai-ramai membungkam kebenaran," ujarnya.

Menurut Pigai, kelompok yang dimaksud dapat mencakup orang yang memiliki latar belakang intelektual, tetapi juga menjalankan peran sebagai aktivis, influencer, buzzer, partisan, atau pendukung kelompok politik tertentu.

Dalam kesempatan tersebut, Pigai turut menanggapi pernyataan Mahfud MD mengenai ucapan Prabowo.

Pigai menilai Mahfud telah melakukan generalisasi terhadap pernyataan Presiden.

Namun, Pigai juga menegaskan dirinya tidak menyebut Mahfud sebagai pihak yang membungkam kebenaran.

"Salah satu yang generalisir siapa ya? Prof. Dr. Mahfud MD yang generalisir seakan-akan seluruh pakar," kata Pigai.

Ia mengaku telah menyaksikan pernyataan Mahfud mengenai polemik tersebut.

"Ya, gua kenallah Prof. Hebatlah. Tapi Prof tidak boleh mempengaruhi para pakar yang lain. Generalisir Prof kan pemain media sosial," ujarnya.

Meski demikian, Pigai mengatakan dirinya tidak bermaksud menuduh Mahfud sebagai pihak yang membungkam kebenaran.

"Saya tidak bilang profesor juga salah satu yang membungkam kebenaran ya," kata Pigai.

Ia kemudian menyinggung kemungkinan seseorang memiliki posisi partisan dalam politik.

"Tapi Pak Prof kan ya kadang jadi partisan A. Politik ini politik itu kepentingan A, kepentingan B, pemain media sosial juga," lanjutnya.

Pigai juga meminta para pakar memberikan penilaian secara objektif terhadap program pemerintah.

Menurut dia, kritik terhadap kekurangan pemerintah tetap diperlukan. Namun, kritik tersebut tidak seharusnya mengabaikan manfaat atau capaian suatu program.

"Nah, saya mau ingin sampaikan bahwa sekali-kali menyampaikan ya penilaian yang objektif terhadap misalnya program-program unggulan untuk kepentingan masyarakat," ujar Pigai.

Ia mencontohkan sejumlah program pemerintah yang menurutnya memberikan manfaat kepada masyarakat, termasuk pendidikan dan layanan kesehatan.

"Yang kasihan itu masyarakat mereka makan, mereka pendidikan gratis. Mereka dapat sekolah rakyat, mereka dapat cek kesehatan gratis," katanya.

Pigai menilai kritik yang hanya menyoroti kekurangan dapat membuat capaian sebuah program tidak terlihat secara utuh.

"Tapi dengan pernyataan kita itu mensimplikasi, menyederhanakan, meniadakan kebaikan," ujarnya.

Pigai menegaskan dirinya tidak mempersoalkan kritik terhadap pemerintah, termasuk kritik yang meminta seorang pejabat bertanggung jawab atau mundur.

"Jadi, para pakar itu jangan meniadakan kebaikan-kebaikan pemerintah. Harus juga mengucapkan kebaikan-kebaikan pemerintah. Baru kalau ada sisi manajemen yang kurang dikritisi tidak masalah," kata Pigai.

"Para pakar itu harus menyampaikan kebaikan-kebaikan dan kebenaran pemerintah. Rakyat," pungkasnya.

Sebelumnya, Mahfud MD menanggapi pernyataan Prabowo yang disampaikan dalam acara HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta pada Jumat, 18 September 2026.

Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan:

"Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya jadi goblok," kata Prabowo.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Prabowo membahas kritik terhadap program pemerintah.

Mahfud kemudian memberikan tanggapannya melalui kanal YouTube miliknya.

"Memang saya percaya juga banya pakar dan profesor yang tidak perform sebagai profesor atau pakar. Kan ada 1.500 lebih profesor. Tapi kan juga nggak semua profesor. Seperti hal yang presiden kan juga banyak yang goblok. Jadi ya sama saja," katanya dikutip dari YouTube Mahfud MD Official, Selasa (22/9/2026).

Mahfud mengakui Prabowo memiliki pengetahuan yang luas. Namun, ia mengkritik penggunaan istilah tersebut terhadap pakar yang menyampaikan kritik.

"Dan tidak layak juga profesor-profesor itu goblok. Nggak layak menurut saya. Seharusnya tidak boleh mengejek yang mengkritik, tidak etis."

"Dia pintar, bacaannya banyak, dan pengetahuannya luas. Sehingga terlalu berlebihan menurut saya dan terlalu percaya diri sehingga lalu menggoblok-goblokan orang," ujarnya.

Mahfud juga menyoroti pihak yang memberikan pujian berlebihan kepada Prabowo.

"Kadang kala pemuji-pemuji Pak Prabowo itu berlebihan 'Prabowo itu pintar, sehari membaca 50 buku. Lalu ada yang bilang 'Pak Prabowo bisa bicara dengan semut' Gimana coba. Itu yang goblok menurut saya," jelasnya.

Mahfud mengatakan kritik terhadap program pemerintah merupakan bagian dari penilaian terhadap kebijakan dan tata kelola pemerintahan.

"Program itu pilihan kebijakan dan itu menjadi hak dan wewenang orang yang menang pemilu. MBG dan KDMP itu program Prabowo yang sudah dijanjikan, jangan ganggu. Itu sudah pilihan. Tapi sebenarnya yang kita kritik itu tata kelolanya," ujarnya.

Perbedaan penjelasan Pigai dan tanggapan Mahfud tersebut kemudian menjadi bagian dari polemik mengenai ucapan Prabowo terhadap sejumlah pihak yang disebut sebagai pakar.* (tm/ad)

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
PAD Sumut Baru 59,15 Persen, Wagub Surya Minta OPD dan BUMD Percepat Penerimaan
Festival Kebudayaan Sumut 2026 Dianggarkan Rp2,5 Miliar, 9 Perusahaan Ikut Tender
Baharuddin Siagian Dorong Penguatan UPZ di Batu Bara, Zakat Diharapkan Lebih Bermanfaat dan Tepat Sasaran
Bupati Batu Bara Bertemu MAPEL Sumut, Bahas Rencana Penertiban Kawasan Hutan
BPK RI Mulai Periksa Pengelolaan Keuangan di Batu Bara, Bupati Baharuddin Minta OPD Transparan dan Kooperatif
Seluruh Fraksi DPRD Batu Bara Setujui P-APBD 2026, Bupati: Kita Bangun Sesuai Kemampuan Keuangan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru