Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
KARO - Krismas Dayanti Br Sihite, salah satu siswi yang menjadi korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, masih menjalani proses pemulihan. Lebih dari satu bulan setelah kejadian, Krismas disebut masih mengalami sejumlah keluhan dan telah dua kali menjalani perawatan di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RS Haji Medan.
Kakak Krismas, Winda Sihite, mengatakan kondisi adiknya belum menunjukkan perubahan yang berarti meski telah menjalani pengobatan selama lebih dari satu bulan.
"Sudah satu bulan lebih adik kami Krismas dalam proses penyembuhan, tapi tidak ada perubahan. Tiap hari ada terus keluhannya," ujar Winda.
Baca Juga:
Menurut Winda, keluarga terus berupaya mendukung proses pemulihan Krismas, termasuk mengatur pola makan dan menjaga kondisi psikologisnya agar tetap tenang.
"Pola makan sudah diatur, tidak lagi makan sembarangan. Kami keluarga juga berusaha menghibur adik kami ini biar tidak terlalu banyak berpikir, supaya dia lebih tenang dan fokus untuk proses penyembuhannya," katanya.
Saat ini, Krismas masih mengeluhkan sakit pada bagian perut dan kepala serta rasa panas di ulu hati.
"Keluhannya perut sakit, ulu hati panas, kepala pusing," ujar Winda.
Krismas sebelumnya juga telah menjalani pemeriksaan endoskopi. Berdasarkan penjelasan yang diterima keluarga, pemeriksaan tersebut menunjukkan adanya masalah pada lambung.
"Hasil endoskopi lambung adik luka semua, dinding lambungnya retak, kata dokter," ungkap Winda.
Selain pemeriksaan fisik, keluarga juga membawa Krismas untuk menjalani pemeriksaan terkait kondisi psikologis. Winda mengatakan berdasarkan penjelasan yang diterima keluarga, Krismas disebut mengalami trauma setelah kejadian tersebut.
Pemeriksaan dilakukan oleh psikiater dr. Sarah dan psikolog dr. Anggi. Winda juga menyebut keluarga mendapat penjelasan bahwa dari pemeriksaan psikiatri, Krismas disebut mengalami delirium.
Sementara itu, hasil pemeriksaan EEG dan MRI disebut normal. Menurut penjelasan yang diterima keluarga, kondisi yang dialami Krismas tidak terdeteksi melalui pemeriksaan tersebut sehingga dia tetap membutuhkan pendampingan psikolog.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.