Harga Emas Antam Turun Rp23 Ribu Sepekan, Cek Harga Terbarunya Hari Ini
JAKARTA Harga emas Antam bergerak fluktuatif sepanjang pekan terakhir. Setelah sempat menguat pada pertengahan pekan, harga kembali mele
EKONOMI
BANDA ACEH — Kisah terpilihnya Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu sebagai khalifah ketiga setelah Rasulullah SAW menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah kepemimpinan umat Islam.
Kisah tersebut disampaikan Ustaz Prof. Dr. H. Alyasa' Abubakar, MA, dalam ceramahnya di Masjid Taqwa Muhammadiyah Banda Aceh, Ahad, 4 Oktober 2026.
Menurut Alyasa', kisah tersebut tidak hanya berbicara tentang siapa yang menjadi khalifah setelah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu.Baca Juga:
Lebih dari itu, proses tersebut memberikan pelajaran tentang bagaimana persoalan kepemimpinan diselesaikan melalui musyawarah dan mengutamakan kepentingan umat.
Ia mengajak jamaah melihat kembali bagaimana para sahabat menentukan pemimpin setelah Umar bin Khattab terluka parah akibat ditikam.
Pertanyaannya, apakah saat itu terjadi perebutan kekuasaan, kampanye, saling menjatuhkan, atau ada sahabat yang mengklaim dirinya paling pantas menjadi pemimpin?
Menurut kisah yang disampaikan Alyasa', jawabannya tidak.
Umar Tidak Menunjuk Anaknya
Ketika Umar bin Khattab mengalami luka parah, para sahabat meminta agar ia menunjuk pengganti.
Namun Umar tidak menunjuk anaknya, keluarganya, ataupun menetapkan satu orang secara sepihak.
Umar justru membentuk majelis syura yang terdiri atas enam sahabat utama, yakni Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah.
Menurut Alyasa', langkah tersebut menunjukkan bahwa persoalan kepemimpinan diserahkan kepada proses musyawarah.
Jabatan, kata dia, merupakan amanah dan bukan warisan.
Tidak Semua Sahabat Mengejar Jabatan
Dari enam nama tersebut, tidak semuanya ingin menjadi khalifah.
Zubair menyerahkan haknya kepada Ali. Thalhah menyerahkan haknya kepada Utsman. Sementara Sa'ad menyerahkan haknya kepada Abdurrahman bin Auf.
Setelah itu, perhatian mengerucut kepada dua nama, yaitu Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan.
Namun Abdurrahman bin Auf tidak memanfaatkan situasi tersebut untuk mencalonkan dirinya.
Ia justru memilih tidak bersaing dan menawarkan diri untuk membantu menentukan pilihan.
"Saya tidak akan bersaing dengan kalian dalam perkara ini. Tetapi jika kalian menghendaki, saya akan memilihkan untuk kalian."
Sikap tersebut, menurut Alyasa', menjadi pelajaran penting tentang bagaimana seorang tokoh seharusnya memandang jabatan.
Orang yang memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin justru dapat mengesampingkan kepentingan pribadi demi kepentingan umat.
Abdurrahman bin Auf Berkonsultasi
Setelah dipercaya membantu menentukan pilihan, Abdurrahman bin Auf tidak langsung menunjuk Utsman bin Affan.
Ia melakukan konsultasi dengan para sahabat, baik dari kalangan Muhajirin maupun Ansar. Ia juga mendengarkan pandangan masyarakat sebelum mengambil keputusan.
Proses tersebut menunjukkan bahwa keputusan mengenai kepemimpinan tidak dibuat hanya berdasarkan kepentingan atau penilaian pribadi.
Abdurrahman bin Auf bahkan disebut menghabiskan beberapa malam untuk memikirkan persoalan tersebut.
Sebab, yang sedang dipilih bukan sekadar pemimpin organisasi, melainkan orang yang akan memikul amanah umat.
Ali dan Utsman Ditanya Prinsip Kepemimpinan
Dalam proses tersebut, Abdurrahman bin Auf menemui Ali bin Abi Thalib dan menanyakan prinsip yang akan digunakannya jika menjadi khalifah.
Ia kemudian mengajukan pertanyaan serupa kepada Utsman bin Affan.
Ali menyatakan akan berpegang kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, serta menggunakan ijtihadnya dalam perkara yang tidak ditemukan ketentuannya.
Sementara Utsman menyatakan kesediaannya berpegang kepada Kitab Allah, Sunnah Rasulullah, serta jalan Abu Bakar dan Umar.
Dari proses tersebut, menurut Alyasa', terdapat pelajaran bahwa dalam memilih pemimpin, masyarakat tidak hanya perlu melihat popularitas atau jumlah pendukung.
Hal yang lebih penting adalah prinsip yang akan digunakan ketika seseorang menjalankan kekuasaan.
"Siapa yang paling terkenal?"
Bukan pula hanya mempertanyakan:
"Siapa yang paling banyak pendukungnya?"
Tetapi:
"Dengan prinsip apa engkau akan memimpin?"
Utsman Akhirnya Terpilih
Setelah melakukan konsultasi, Abdurrahman bin Auf mengambil keputusan.
Dari berbagai pandangan yang didengarnya, Utsman bin Affan dinilai memiliki dukungan yang kuat.
Abdurrahman kemudian menawarkan baiat kepada Utsman.
Ali bin Abi Thalib menerima keputusan tersebut dan memberikan baiat kepada Utsman. Para sahabat lainnya kemudian mengikuti.
Utsman bin Affan akhirnya menjadi khalifah ketiga setelah Rasulullah SAW.
Menurut Alyasa', bagian ini menunjukkan kedewasaan para sahabat dalam menghadapi perbedaan pilihan.
Ali tidak terpilih, tetapi tidak menjadikan Utsman sebagai musuh. Sebaliknya, ia memberikan baiat dan tetap menjaga persaudaraan.
Jabatan Adalah Amanah
Dari kisah tersebut, Alyasa' mengajak masyarakat mengambil sejumlah pelajaran mengenai kepemimpinan.
Pertama, jabatan tidak seharusnya menjadi tujuan. Ketika jabatan menjadi tujuan utama, seseorang dapat melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya.
Sebaliknya, jika amanah menjadi dasar, seseorang akan mempertanyakan kemampuannya mempertanggungjawabkan jabatan tersebut di hadapan Allah.
Kedua, keputusan besar perlu dihasilkan melalui musyawarah. Abdurrahman bin Auf tidak mengambil keputusan berdasarkan perasaan pribadi.
Ia mendengar, bertanya, mempertimbangkan, dan bermusyawarah.
Ketiga, perbedaan pilihan tidak boleh menghancurkan persaudaraan. Perbedaan dalam menentukan pemimpin tidak membuat Ali dan Utsman menjadi musuh.
Keempat, setelah keputusan diambil, persatuan harus tetap dijaga.
Alyasa' mengingatkan bahwa kepentingan umat lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Prinsip tersebut sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur'an:
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya." (QS. An-Nisa: 58)
Jabatan, kata Alyasa', bukan hanya sebuah kehormatan. Jabatan merupakan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Belajar dari Para Sahabat
Kisah pemilihan Utsman bin Affan juga menghadirkan pertanyaan bagi masyarakat saat ini.
Apakah seseorang mampu menerima keputusan ketika bukan dirinya yang terpilih?
Apakah seseorang mampu memberikan dukungan kepada orang lain ketika pilihan yang didukungnya tidak menjadi keputusan?
Pertanyaan lainnya adalah apakah seseorang mengejar jabatan karena ingin melayani atau karena ingin berkuasa.
Sejarah para sahabat memberikan gambaran bahwa pemimpin sejati bukanlah orang yang paling keras mengejar kursi kepemimpinan, melainkan orang yang siap memikul amanah ketika masyarakat mempercayainya.
Alyasa' berharap masyarakat dapat mengambil pelajaran dari proses tersebut dengan mengedepankan musyawarah, menerima perbedaan dan menjaga persatuan.
Ia juga berharap umat Islam mendapatkan pemimpin yang amanah serta masyarakat yang dewasa dalam bermusyawarah dan mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.* (ad)
JAKARTA Harga emas Antam bergerak fluktuatif sepanjang pekan terakhir. Setelah sempat menguat pada pertengahan pekan, harga kembali mele
EKONOMI
JAKARTA Mutasi terbaru di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menempatkan sejumlah perwira bermarga Batak pada jabatan st
NASIONAL
OlehDikdik Sadikin PADA 2 Oktober 2026, dua pintu seperti terbuka hampir bersamaan. Di Mahkamah Konstitusi, perkara tentang salah satu aspe
OPINI
JAKARTA Pengamat politik sekaligus akademisi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, mengkritik frekuensi reshuffle kabinet y
POLITIK
JAKARTA Saham PT Bank of India Indonesia Tbk. (BSWD) menjadi emiten dengan kenaikan harga saham tertinggi sepanjang perdagangan Bursa Ef
EKONOMI
JAKARTA Harga sejumlah model iPhone 15 dan iPhone 16 di Indonesia mengalami penyesuaian pada awal Oktober 2026. Beberapa varian turun hi
SAINS DAN TEKNOLOGI
BANDA ACEH Kisah terpilihnya Utsman bin Affan radhiyallahu &039anhu sebagai khalifah ketiga setelah Rasulullah SAW menjadi salah satu
NASIONAL
BINJAI Satuan Reserse Narkoba Polres Binjai menangkap seorang terduga pengedar narkotika jenis sabu di wilayah hukum Polres Binjai. Terd
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Pelantikan 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jumat, 2 Oktober 2026, membawa kabar tersendiri
SOSOK
MEDAN Timsus JCS bersama Unit Opsnal Resmob Sat Reskrim Polrestabes Medan menangkap seorang pria berinisial AH, 26 tahun, yang diduga te
HUKUM DAN KRIMINAL