BREAKING NEWS
Minggu, 04 Oktober 2026

Ketika Kekuasaan Tidak Diperebutkan, Belajar dari Pemilihan Utsman bin Affan r.a.

T.Jamaluddin - Minggu, 04 Oktober 2026 08:33 WIB
Ketika Kekuasaan Tidak Diperebutkan, Belajar dari Pemilihan Utsman bin Affan r.a.
Ustaz Prof. Dr. H. Alyasa' Abubakar, MA. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BANDA ACEH — Kisah terpilihnya Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu sebagai khalifah ketiga setelah Rasulullah SAW menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah kepemimpinan umat Islam.

Kisah tersebut disampaikan Ustaz Prof. Dr. H. Alyasa' Abubakar, MA, dalam ceramahnya di Masjid Taqwa Muhammadiyah Banda Aceh, Ahad, 4 Oktober 2026.

Menurut Alyasa', kisah tersebut tidak hanya berbicara tentang siapa yang menjadi khalifah setelah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu.

Baca Juga:

Lebih dari itu, proses tersebut memberikan pelajaran tentang bagaimana persoalan kepemimpinan diselesaikan melalui musyawarah dan mengutamakan kepentingan umat.

Ia mengajak jamaah melihat kembali bagaimana para sahabat menentukan pemimpin setelah Umar bin Khattab terluka parah akibat ditikam.

Pertanyaannya, apakah saat itu terjadi perebutan kekuasaan, kampanye, saling menjatuhkan, atau ada sahabat yang mengklaim dirinya paling pantas menjadi pemimpin?

Menurut kisah yang disampaikan Alyasa', jawabannya tidak.

Umar Tidak Menunjuk Anaknya

Ketika Umar bin Khattab mengalami luka parah, para sahabat meminta agar ia menunjuk pengganti.

Namun Umar tidak menunjuk anaknya, keluarganya, ataupun menetapkan satu orang secara sepihak.

Umar justru membentuk majelis syura yang terdiri atas enam sahabat utama, yakni Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Menurut Alyasa', langkah tersebut menunjukkan bahwa persoalan kepemimpinan diserahkan kepada proses musyawarah.

Jabatan, kata dia, merupakan amanah dan bukan warisan.

Tidak Semua Sahabat Mengejar Jabatan

Dari enam nama tersebut, tidak semuanya ingin menjadi khalifah.

Zubair menyerahkan haknya kepada Ali. Thalhah menyerahkan haknya kepada Utsman. Sementara Sa'ad menyerahkan haknya kepada Abdurrahman bin Auf.

Setelah itu, perhatian mengerucut kepada dua nama, yaitu Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan.

Namun Abdurrahman bin Auf tidak memanfaatkan situasi tersebut untuk mencalonkan dirinya.

Ia justru memilih tidak bersaing dan menawarkan diri untuk membantu menentukan pilihan.

"Saya tidak akan bersaing dengan kalian dalam perkara ini. Tetapi jika kalian menghendaki, saya akan memilihkan untuk kalian."

Sikap tersebut, menurut Alyasa', menjadi pelajaran penting tentang bagaimana seorang tokoh seharusnya memandang jabatan.

Orang yang memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin justru dapat mengesampingkan kepentingan pribadi demi kepentingan umat.

Abdurrahman bin Auf Berkonsultasi

Setelah dipercaya membantu menentukan pilihan, Abdurrahman bin Auf tidak langsung menunjuk Utsman bin Affan.

Ia melakukan konsultasi dengan para sahabat, baik dari kalangan Muhajirin maupun Ansar. Ia juga mendengarkan pandangan masyarakat sebelum mengambil keputusan.

Proses tersebut menunjukkan bahwa keputusan mengenai kepemimpinan tidak dibuat hanya berdasarkan kepentingan atau penilaian pribadi.

Abdurrahman bin Auf bahkan disebut menghabiskan beberapa malam untuk memikirkan persoalan tersebut.

Sebab, yang sedang dipilih bukan sekadar pemimpin organisasi, melainkan orang yang akan memikul amanah umat.

Ali dan Utsman Ditanya Prinsip Kepemimpinan

Dalam proses tersebut, Abdurrahman bin Auf menemui Ali bin Abi Thalib dan menanyakan prinsip yang akan digunakannya jika menjadi khalifah.

Ia kemudian mengajukan pertanyaan serupa kepada Utsman bin Affan.

Ali menyatakan akan berpegang kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, serta menggunakan ijtihadnya dalam perkara yang tidak ditemukan ketentuannya.

Sementara Utsman menyatakan kesediaannya berpegang kepada Kitab Allah, Sunnah Rasulullah, serta jalan Abu Bakar dan Umar.

Dari proses tersebut, menurut Alyasa', terdapat pelajaran bahwa dalam memilih pemimpin, masyarakat tidak hanya perlu melihat popularitas atau jumlah pendukung.

Hal yang lebih penting adalah prinsip yang akan digunakan ketika seseorang menjalankan kekuasaan.

"Siapa yang paling terkenal?"

Bukan pula hanya mempertanyakan:

"Siapa yang paling banyak pendukungnya?"

Tetapi:

"Dengan prinsip apa engkau akan memimpin?"

Utsman Akhirnya Terpilih

Setelah melakukan konsultasi, Abdurrahman bin Auf mengambil keputusan.

Dari berbagai pandangan yang didengarnya, Utsman bin Affan dinilai memiliki dukungan yang kuat.

Abdurrahman kemudian menawarkan baiat kepada Utsman.

Ali bin Abi Thalib menerima keputusan tersebut dan memberikan baiat kepada Utsman. Para sahabat lainnya kemudian mengikuti.

Utsman bin Affan akhirnya menjadi khalifah ketiga setelah Rasulullah SAW.

Menurut Alyasa', bagian ini menunjukkan kedewasaan para sahabat dalam menghadapi perbedaan pilihan.

Ali tidak terpilih, tetapi tidak menjadikan Utsman sebagai musuh. Sebaliknya, ia memberikan baiat dan tetap menjaga persaudaraan.

Jabatan Adalah Amanah

Dari kisah tersebut, Alyasa' mengajak masyarakat mengambil sejumlah pelajaran mengenai kepemimpinan.

Pertama, jabatan tidak seharusnya menjadi tujuan. Ketika jabatan menjadi tujuan utama, seseorang dapat melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya.

Sebaliknya, jika amanah menjadi dasar, seseorang akan mempertanyakan kemampuannya mempertanggungjawabkan jabatan tersebut di hadapan Allah.

Kedua, keputusan besar perlu dihasilkan melalui musyawarah. Abdurrahman bin Auf tidak mengambil keputusan berdasarkan perasaan pribadi.

Ia mendengar, bertanya, mempertimbangkan, dan bermusyawarah.

Ketiga, perbedaan pilihan tidak boleh menghancurkan persaudaraan. Perbedaan dalam menentukan pemimpin tidak membuat Ali dan Utsman menjadi musuh.

Keempat, setelah keputusan diambil, persatuan harus tetap dijaga.

Alyasa' mengingatkan bahwa kepentingan umat lebih besar daripada kepentingan pribadi.

Prinsip tersebut sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur'an:

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya." (QS. An-Nisa: 58)

Jabatan, kata Alyasa', bukan hanya sebuah kehormatan. Jabatan merupakan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Belajar dari Para Sahabat

Kisah pemilihan Utsman bin Affan juga menghadirkan pertanyaan bagi masyarakat saat ini.

Apakah seseorang mampu menerima keputusan ketika bukan dirinya yang terpilih?

Apakah seseorang mampu memberikan dukungan kepada orang lain ketika pilihan yang didukungnya tidak menjadi keputusan?

Pertanyaan lainnya adalah apakah seseorang mengejar jabatan karena ingin melayani atau karena ingin berkuasa.

Sejarah para sahabat memberikan gambaran bahwa pemimpin sejati bukanlah orang yang paling keras mengejar kursi kepemimpinan, melainkan orang yang siap memikul amanah ketika masyarakat mempercayainya.

Alyasa' berharap masyarakat dapat mengambil pelajaran dari proses tersebut dengan mengedepankan musyawarah, menerima perbedaan dan menjaga persatuan.

Ia juga berharap umat Islam mendapatkan pemimpin yang amanah serta masyarakat yang dewasa dalam bermusyawarah dan mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.* (ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Benarkah Salat Peminum Khamar Tidak Diterima Selama 40 Hari? Ini Penjelasannya
Ini 5 Bahan Alami yang Disebut dalam Riwayat Pengobatan Nabi Muhammad SAW
Sebelum Ajal Menjemput, Ini 7 Amalan yang Bisa Dipersiapkan
Sumatera dalam Sejarah Islam Nusantara, Benarkah Jadi Pintu Awal Masuknya Islam?
Hukum dan Alasan Membunuh Tikus dalam Islam: Termasuk Golongan Hewan Fasik yang Membahayakan
Sering Disamakan Padahal Beda Begini Tinjauan Fikih Islam Membedah Batas Antara Alkohol dan Khamar
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru