300 Pramuka Siaga Ramaikan “Pesta Siaga” di Raman Utara, Belajar Keterampilan Hidup Secara Langsung
LAMPUNG TIMUR Sebanyak 300 Pramuka Siaga dari berbagai Gugus Depan seKecamatan Raman Utara mengikuti kegiatan Pesta Siaga di SDN 1 Rama
NASIONAL
Oleh: H. M. Yamin, SE, M.Si
ACEH adalah anugerah geografis dan kultural yang luar biasa. Dikenal sebagai Serambi Mekkah, Aceh menyimpan pesona alam yang masih alami: garis pantai yang tenang, pegunungan yang damai, hingga warisan sejarah yang menanti untuk dijelajahi. Tak sedikit wisatawan yang datang dan mengakui bahwa Aceh adalah tempat "healing" terbaik saat ini—bukan hanya karena alamnya, tetapi juga karena keramahan masyarakatnya dan ketenangan sosial yang sulit ditemukan di tempat lain.
Namun, tak jarang pula muncul anggapan bahwa penerapan Syariat Islam di Aceh menjadi hambatan bagi pariwisata. Ini adalah persepsi yang keliru dan perlu diluruskan. Justru, Syariat Islam adalah bagian dari identitas dan nilai kultural Aceh yang menjadi pembeda di tengah ragam destinasi wisata lainnya di Indonesia.
Syariat Islam: Keunikan yang Berdaya Saing
Aceh bukan daerah yang tertutup bagi wisatawan. Ia justru terbuka, namun dengan tata nilai yang menjaga kesopanan, kebersihan moral, dan kedamaian sosial. Hal-hal ini—ketertiban, kesopanan, dan spiritualitas—adalah nilai yang semakin dicari dalam tren wisata global hari ini. Para wisatawan masa kini, khususnya pasca-pandemi, tidak hanya mencari tempat yang indah untuk difoto, tetapi juga pengalaman yang bermakna dan penuh ketenangan.
Penerapan Syariat Islam di Aceh justru menciptakan suasana sosial yang aman dan nyaman. Tidak ada gangguan malam hari, tidak ada perilaku menyimpang di ruang publik, dan masyarakatnya hidup dalam tatanan yang rapi serta bersahabat. Hal ini adalah nilai tambah, bukan hambatan.
Aceh memang berbeda dari Bali atau Yogyakarta, dan perbedaan inilah yang harus dijadikan kekuatan. Pengalaman yang ditawarkan Aceh adalah pengalaman keislaman yang damai, budaya lokal yang kuat, dan alam yang memanjakan. Dengan sentuhan narasi dan promosi yang tepat, Aceh bisa menjadi ikon wisata berbasis nilai yang tidak sekadar menjual keindahan, tetapi juga kedalaman makna.
Kapasitas Warga Tempatan dan Ekosistem yang Profesional
Namun, potensi besar ini tidak akan berkembang maksimal tanpa peningkatan kapasitas masyarakat lokal. Warga Aceh, khususnya yang berada di sekitar destinasi wisata, perlu terus belajar dan memperluas wawasan tentang hospitaliti—seni melayani dengan ramah, sopan, dan profesional. Pelatihan, pertukaran pengalaman, serta kemitraan dengan pelaku industri pariwisata di daerah lain bisa menjadi jalan untuk meningkatkan mutu pelayanan.
Keramahan yang dibarengi dengan keterampilan akan menjadikan masyarakat Aceh sebagai tuan rumah yang tidak hanya baik hati, tetapi juga cakap dan percaya diri. Inilah fondasi dari pariwisata berkelanjutan: masyarakat yang siap menerima tamu, tanpa kehilangan jati diri.
Di sisi lain, dukungan pemerintah daerah juga sangat dibutuhkan untuk membangun ekosistem wisata yang menyatu antara nilai dan pelayanan. Fasilitas publik harus terus ditingkatkan, regulasi syariah disampaikan secara edukatif, promosi dilakukan secara strategis, dan semua stakeholder—termasuk tokoh agama dan ormas Islam—dilibatkan dalam narasi besar pembangunan wisata Aceh.
LAMPUNG TIMUR Sebanyak 300 Pramuka Siaga dari berbagai Gugus Depan seKecamatan Raman Utara mengikuti kegiatan Pesta Siaga di SDN 1 Rama
NASIONAL
PRINGSEWU Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah sekaligus memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dan HUT ke80 Pers
KESEHATAN
PRINGSEWU Kwartir Ranting (Kwarran) Pramuka Sukoharjo menggelar Ramadhan Scouting Competition (RSC) 2026 di Lapangan Dirgahayu, Pekon Su
NASIONAL
PALEMBANG Ballroom Hotel Excelton malam itu dipenuhi kehangatan dan semangat kekeluargaan. Bukan sekadar pertemuan alumni, tapi ruang te
NASIONAL
PUNCAK JAYA Personel Satgas Tindak Operasi Damai Cartenz 2026 kembali menggelar kegiatan pembinaan bagi generasi muda di wilayah pegunun
NASIONAL
TANGGAMUS Seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Tanggamus dit
PERISTIWA
PESAWARAN Bupati Pesawaran, Nanda Indira B, meninjau langsung lokasi terdampak bencana angin puting beliung di Kecamatan Tegineneng, Sen
PERISTIWA
TANGGAMUS Aditya, remaja berusia 13 tahun warga Pekon Sinar Banten, Kecamatan Talang Padang, Kabupaten Tanggamus, dilaporkan tenggelam d
PERISTIWA
PRINGSEWU Aksi pencurian sapi yang diduga dilakukan secara terorganisir di Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, berakhir dramatis.
HUKUM DAN KRIMINAL
TANGGAMUS Aksi percobaan pencurian dengan pemberatan di Pekon Way Gelang, Kecamatan Kota Agung Barat, Kabupaten Tanggamus, berakhir deng
HUKUM DAN KRIMINAL