Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Sejalan dengan itu, Sarrouy-Watkins & Gahlam (2020) menyebut foodpreneur, sebagai sebuah usaha kuliner yang berorientasi sosial sekaligus menguntungkan.
Succes Story dari Pegiat Wirausaha SosialDunia sudah lebih dulu memberi teladan. Muhammad Yunus lewat Grameen Bank menjadikan kredit mikro sebagai revolusi pemberdayaan perempuan. Bill Drayton melalui Ashoka mengangkat ribuan wirausahawan sosial lintas negara. Melinda Gates mengubah filantropi menjadi strategi global untuk kesehatan dan
pendidikan.
Indonesia punya tokoh seperti dr Gamal Albinsaid yang dengan "asuransi sampah" berhasil membangun klinik bagi kaum miskin kota, atau Tri Mumpuni yang menghadirkan listrik ke desa-desa terpencil lewat mikrohidro bersama IBEKA. Semua menunjukkan benang merah yang sama: usaha kecil dengan jiwa sosial bisa melahirkan perubahan besar.
Pelajaran dari Pengusaha Kuliner di Pulau Sebatik
Contoh nyata praktik Civic Foodpreneur ada di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, pulau yang membagi Indonesia-Malaysia di batas negeri. Sebuah Warung Makan sederhana bernama Prasmanan Zam-Zam selama tiga tahun ini berupaya menyisihkan laba untuk tiga lembaga
pendidikan swasta formal dan non formal sebagai penerima manfaat dalam scope kecil yakni PAUD, SD hingga TPQ.Guru honorer diberi insentif, SPP di SD dihapuskan, bahkan seragam dibagikan gratis. Tidak cukup di situ, warung ini juga memproyeksikan "
MBG mandiri," memberi makan bergizi gratis.
Jika satu warung mampu menopang tiga lembaga. Bagaimana jika ada sepuluh
UMKM serupa bergerak dalam satu kecamatan, dampaknya akan berlipat. Rytkönen et al. (2023) juga menunjukkan pola serupa di Finlandia: usaha kuliner di pulau kecil bertahan bukan hanya karena modal, melainkan karena terikat erat pada komunitas dan solidaritas.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.