Iran Tutup Selat Hormuz, Ketegangan Timur Tengah Kembali Memuncak
TEHERAN Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk seluruh lalu lintas kap
INTERNASIONAL
Alam diperlakukan sebagai objek ekonomi, bukan sebagai ayat Tuhan. Modernitas, menurut Nasr, telah mereduksi alam menjadi sekadar sumber daya, sehingga tidak mengherankan bila eksploitasi berlangsung tanpa rem.
Bencana alam yang terjadi di bagian barat Indonesia ini bukan hanya persoalan teknis drainase atau tata ruang, tetapi buah dari pandangan dunia yang menolak kesucian alam.
Gunung-gunung dipotong tanpa rasa hormat, sungai diperlakukan sebagai tempat sampah, dan hutan ditebang tanpa memikirkan struktur spiritualnya.
Dalam perspektif Nasr, bencana ekologis adalah krisis spiritual. Kita tidak hanya kehilangan pohon, tanah, dan sungai, kita telah kehilangan hikmah tentang siapa diri kita dalam tatanan kosmos.
Sekitar 46 tahun silam, seorang teolog Lutheran Joseph Sittler juga telah berusaha mengingatkan kita yang abai memelihara alam. Sittler mengkritik bahwa teologi Kristen modern terlalu fokus pada manusia (antroposentris) dan melupakan dimensi kosmik keselamatan.
Bagi Sittler, keselamatan tidak boleh dipahami terbatas pada jiwa manusia, tetapi juga mencakup bumi sebagai bagian integral dari karya penciptaan.
Jika menggunakan kacamata Sittler untuk membaca bencana Sumatera, maka bencana ekologis adalah bukti bahwa kita telah berteologi dengan sempit dan mengabaikan alam serta tidak memasukkan tanah, air, dan ekosistem sebagai bagian dari "umat" yang harus dijaga.
Ketika tanah longsor menelan rumah dan nyawa, itu bukan hanya masalah geologi, tapi tanda bahwa kita telah gagal merancang iman yang memelihara bumi.
Dalam konteks ini, tiga pemikir besar, Ibnu 'Arabi, Seyyed Hossein Nasr, dan Joseph Sittler, memberikan lensa teologis yang membantu kita memahami bencana bukan hanya sebagai tragedi, tetapi juga sebagai pengingat kosmik.
Meski berasal dari tradisi dan era yang berbeda, pandangan ketiganya bertemu pada satu titik: bencana ekologis adalah gejala spiritual, bukan sekadar peristiwa alam.
Jika tiga pandangan ini disatukan, pesan yang muncul adalah "Krisis ekologis di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat adalah krisis relasi spiritual manusia dengan alam".
Belajar dari krisis ekologis yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, apa yang bisa kita lakukan?
TEHERAN Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk seluruh lalu lintas kap
INTERNASIONAL
JAKARTA Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) menyambut positif kebijakan pemerintah terkait penerapan anggaran m
OLAHRAGA
MEDAN Kebakaran hebat melanda sebuah pabrik plastik dan mainan yang berada di Jalan Ladang, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan, Sabtu (20
PERISTIWA
BANDA ACEH Tokoh masyarakat Aceh, Suryadi Djamil, M.I.Kom atau yang akrab disapa Om Sur, mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat A
AGAMA
MEDAN Kebakaran hebat melanda empat kapal ikan yang sedang bersandar di dermaga Jalan Gabion, Kelurahan Bagan Deli, Kecamatan Medan Bela
PERISTIWA
JAKARTA Pengamat politik senior Boni Hargens menilai pelibatan personel Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dalam jabatan sipil merupa
POLITIK
JAKARTA Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun 2026 mencapai 5,61 persen seca
EKONOMI
JAKARTA Oditurat Militer II07 Jakarta memutuskan tidak mengajukan banding atas putusan majelis hakim terhadap empat anggota Badan Intel
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan pemerintah tidak akan melakukan impor beras konsumsi dalam waktu dekat
EKONOMI
JAKARTA Roy Suryo berencana mengajukan penangguhan penahanan setelah ditahan oleh Polda Metro Jaya terkait kasus dugaan penyebaran tudin
HUKUM DAN KRIMINAL