BREAKING NEWS
Minggu, 21 Juni 2026

Alam Berteriak di Bagian Barat Indonesia dan Kita Perlu Mendengar

BITV Admin - Rabu, 03 Desember 2025 07:34 WIB
Alam Berteriak di Bagian Barat Indonesia dan Kita Perlu Mendengar
Warga mengamati kayu-kayu gelondongan yang terdampar pascabanjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Sabtu (29/11). (foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Alam diperlakukan sebagai objek ekonomi, bukan sebagai ayat Tuhan. Modernitas, menurut Nasr, telah mereduksi alam menjadi sekadar sumber daya, sehingga tidak mengherankan bila eksploitasi berlangsung tanpa rem.

Bencana alam yang terjadi di bagian barat Indonesia ini bukan hanya persoalan teknis drainase atau tata ruang, tetapi buah dari pandangan dunia yang menolak kesucian alam.

Gunung-gunung dipotong tanpa rasa hormat, sungai diperlakukan sebagai tempat sampah, dan hutan ditebang tanpa memikirkan struktur spiritualnya.

Dalam perspektif Nasr, bencana ekologis adalah krisis spiritual. Kita tidak hanya kehilangan pohon, tanah, dan sungai, kita telah kehilangan hikmah tentang siapa diri kita dalam tatanan kosmos.

Sekitar 46 tahun silam, seorang teolog Lutheran Joseph Sittler juga telah berusaha mengingatkan kita yang abai memelihara alam. Sittler mengkritik bahwa teologi Kristen modern terlalu fokus pada manusia (antroposentris) dan melupakan dimensi kosmik keselamatan.

Bagi Sittler, keselamatan tidak boleh dipahami terbatas pada jiwa manusia, tetapi juga mencakup bumi sebagai bagian integral dari karya penciptaan.

Jika menggunakan kacamata Sittler untuk membaca bencana Sumatera, maka bencana ekologis adalah bukti bahwa kita telah berteologi dengan sempit dan mengabaikan alam serta tidak memasukkan tanah, air, dan ekosistem sebagai bagian dari "umat" yang harus dijaga.

Ketika tanah longsor menelan rumah dan nyawa, itu bukan hanya masalah geologi, tapi tanda bahwa kita telah gagal merancang iman yang memelihara bumi.

Dalam konteks ini, tiga pemikir besar, Ibnu 'Arabi, Seyyed Hossein Nasr, dan Joseph Sittler, memberikan lensa teologis yang membantu kita memahami bencana bukan hanya sebagai tragedi, tetapi juga sebagai pengingat kosmik.

Meski berasal dari tradisi dan era yang berbeda, pandangan ketiganya bertemu pada satu titik: bencana ekologis adalah gejala spiritual, bukan sekadar peristiwa alam.

Jika tiga pandangan ini disatukan, pesan yang muncul adalah "Krisis ekologis di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat adalah krisis relasi spiritual manusia dengan alam".

Belajar dari krisis ekologis yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, apa yang bisa kita lakukan?

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Prakiraan Cuaca Sumut Hari Ini, Rabu 3 Desember 2025: Sejumlah Wilayah Diguyur Hujan Ringan
Prakiraan Cuaca Aceh Hari Ini, Rabu 3 Desember 2025: Sejumlah Wilayah Diguyur Hujan
BNPB: Korban Banjir dan Longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar Capai 708 Orang Meninggal dan 499 Hilang
LBH Medan Desak Presiden Prabowo Tetapkan Banjir dan Longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar Sebagai Bencana Nasional
Polda Aceh dan Bapanas Sidak Pangan Pascabanjir, Pantau Harga dan Antisipasi Penimbunan
Korban Bencana Tapanuli Tengah Minta Alat Berat, Gubernur Bobby Pastikan Upaya Cepat
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru