BREAKING NEWS
Sabtu, 10 Januari 2026

Operasi Pra–Perang Dunia Ketiga dan Dilema Indonesia

BITV Admin - Minggu, 04 Januari 2026 09:07 WIB
Operasi Pra–Perang Dunia Ketiga dan Dilema Indonesia
Ruben Cornelius Siagian. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh:Ruben Cornelius Siagian

*PERANG dunia modern tidak lagi dimulai dengan deklarasi resmi atau pertempuran terbuka antarbenua. Dalam teori hubungan internasional kontemporer, konflik global abad ke-21 justru bergerak melalui eskalasi bertahap, konflik proksi, operasi intelijen terselubung, perang ekonomi, dan perang informasi (Metz 2000).

Inilah yang oleh (Azad, Haider, dan Sadiq 2023) disebut sebagai gray zone warfare,yang adalah ruang konflik di bawah ambang perang terbuka, tetapi cukup destruktif untuk mengubah tatanan global.

Baca Juga:

Rangkaian peristiwa global mutakhir, antara lain; dari dugaan serangan drone terhadap simbol kekuasaan Rusia, eskalasi militer di Amerika Latin, hingga konfrontasi struktural Amerika Serikat–China menunjukkan bahwa dunia mungkin telah memasuki fase pra-operasi Perang Dunia III.

Bukan sebagai kepastian deterministik, tetapi sebagai pola historis yang berulang.

Serangan Simbolik, Risiko Eskalasi, dan Logika Kekuatan Besar

Dugaan serangan drone terhadap kediaman Presiden Vladimir Putin bukan sekadar insiden keamanan.

Dalam perspektif teori deterrence, khususnya gagasan (Paul, Morgan, dan Wirtz 2009) tentang the manipulation of risk, serangan terhadap simbol kepemimpinan negara adalah eskalasi simbolik yang memaksa respons strategis, meskipun pelaku dan motifnya masih diperdebatkan.

Dalam doktrin militer Rusia, ancaman terhadap kepala negara dikategorikan sebagai ancaman eksistensial, yang berpotensi membuka legitimasi eskalasi lebih luas (Kutcher 2023; Loza dkk. 2024). Smoke, R. (1977) telah lama mengingatkan bahwa perang besar sering dimulai bukan dari niat total, melainkan dari ketidakmampuan mengelola eskalasi bertingkat (Smoke 1977).

Terlepas dari bantahan Ukraina dan Amerika Serikat, inti persoalan bukanlah siapa yang benar, melainkan bagaimana narasi ancaman bekerja sebagai instrumen kekuasaan.

Biddle, S. (2010) menegaskan bahwa dalam perang modern, narasi strategis sering lebih menentukan dibanding kekuatan militer murni (Biddle 2010).

Perang Persepsi dan Spiral Dilema Keamanan

Editor
: Adam
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Wapres Gibran Kembali dari KTT G-20 Johannesburg: Soroti Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan AI
Presiden Prabowo Soroti Standar Ganda Hukum Internasional di Forum BRICS 2025
Indonesia Perlu Langkah Hati-hati Hadapi Dampak Gejolak Ekonomi Global
Tarif Impor 32 Persen AS Ditunda, Airlangga: Indonesia Masih dalam Proses Negosiasi
Mensesneg Bantah Tarif 32% Terkait Keanggotaan Indonesia di BRICS
Menlu RI Sugiono: Kenaikan Tarif Impor AS Adalah "Wake Up Call" Bagi Indonesia
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru