BREAKING NEWS
Kamis, 18 Juni 2026

Operasi Pra–Perang Dunia Ketiga dan Dilema Indonesia

BITV Admin - Minggu, 04 Januari 2026 09:07 WIB
Operasi Pra–Perang Dunia Ketiga dan Dilema Indonesia
Ruben Cornelius Siagian. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Indonesia memiliki preseden historis kuat melalui Konferensi Asia-Afrika 1955 dan kepemimpinan dalam ASEAN. Dalam skenario ini, Indonesia akan secara aktif menginisiasi diplomasi multilateral, memperkuat ASEAN sebagai zona netral, dan menerjemahkan prinsip bebas-aktif ke dalam praktik nyata.

Namun, keberhasilan skenario ini sangat bergantung pada konsistensi kebijakan luar negeri, kohesi politik domestik, serta kemampuan Indonesia menjaga kredibilitas di mata seluruh blok kekuatan besar.

Skenario kelima merupakan kemungkinan paling berisiko, yaitu Indonesia terjebak dalam involuntary alignment.

Dalam perspektif structural realism (Glaser 2003), struktur sistem internasional yang sangat terpolarisasi dapat memaksa negara untuk berpihak, terlepas dari preferensi normatifnya.

Sejarah Perang Dingin menunjukkan bahwa banyak negara non-blok akhirnya terseret ke dalam konflik blok akibat tekanan ekonomi, militer, atau politik (Lüthi 2014).

Jika Indonesia menghadapi sanksi berat, ancaman ekonomi serius, atau ketergantungan strategis yang terlalu dalam pada satu blok, maka perubahan kebijakan luar negeri secara mendadak menjadi mungkin.

Konsekuensinya adalah hilangnya otonomi strategis Indonesia serta meningkatnya risiko instabilitas politik dan ekonomi domestik.

Dapat dilihat pada tabel di atas bahwa Indonesia cenderung memilih strategi ambigu–hedging dengan kecenderungan soft alignment ke BRICS, terutama di bidang ekonomi, sambil tetap mempertahankan narasi bebas–aktif.

Namun, semakin tinggi eskalasi geopolitik global, semakin besar tekanan yang berpotensi menggerus otonomi strategis Indonesia dan mendorong keterlibatan tidak langsung dalam kompetisi kekuatan besar.

Dari berbagai kemungkinan tersebut, hipotesis sintesis yang paling rasional adalah bahwa Indonesia akan menjalankan strategi ambigu–hedging, dengan kecenderungan soft alignment ke BRICS di bidang ekonomi, sambil tetap mempertahankan narasi bebas dan aktif secara diplomatik.

Strategi ini kemungkinan akan dipertahankan selama tekanan struktural belum mencapai titik kritis.

Editor
:
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Wapres Gibran Kembali dari KTT G-20 Johannesburg: Soroti Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan AI
Presiden Prabowo Soroti Standar Ganda Hukum Internasional di Forum BRICS 2025
Indonesia Perlu Langkah Hati-hati Hadapi Dampak Gejolak Ekonomi Global
Tarif Impor 32 Persen AS Ditunda, Airlangga: Indonesia Masih dalam Proses Negosiasi
Mensesneg Bantah Tarif 32% Terkait Keanggotaan Indonesia di BRICS
Menlu RI Sugiono: Kenaikan Tarif Impor AS Adalah "Wake Up Call" Bagi Indonesia
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru