Namun, apabila eskalasi global meningkat drastis, tekanan sistemik dapat memaksa Indonesia untuk mengambil posisi yang lebih tegas, sekalipun bertentangan dengan prinsip non-blok yang diwariskan para pendiri bangsa.
Jika hipotesis ini terbukti, implikasi kebijakannya sangat signifikan.
Indonesia perlu memperkuat ketahanan ekonomi dan digital agar tidak mudah ditekan oleh kekuatan eksternal, memosisikan ASEAN sebagai buffer geopolitik yang efektif, serta melakukan pembaruan konseptual terhadap doktrin "bebas dan aktif" agar relevan dalam era perang hibrida dan konflik multidimensi.
Tanpa pembaruan strategis tersebut, Indonesia berisiko menjadi objek, bukan subjek, dalam pusaran konflik geopolitik global yang sedang tumbuh secara diam-diam.
Indonesia di Persimpangan Sejarah
Pertanyaan besar hari ini bukan hanya apakah dunia menuju Perang Dunia III, tetapi di posisi mana Indonesia akan berdiri ketika eskalasi mencapai puncaknya. Apakah Indonesia akan tetap menjadi kekuatan penyeimbang yang bebas dan aktif, atau terseret ke dalam logika blok yang justru ingin dihindari oleh para pendiri bangsa?
Sejarah tidak selalu berulang, tetapi ia berima dengan keras. Dan dalam rima itulah, Indonesia harus memilih, antara menjadi subjek geopolitik, atau sekadar objek dari konflik global yang sedang tumbuh diam-diam.*
*)Penulisadalah peneliti muda dan aktivis intelektual serta pengamat kebijakan publik berbasis di Medan, Sumatera Utara, dengan fokus kajian pada geopolitik global, keamanan internasional, energi strategis, dan kebijakan publik. Ia aktif menulis dan mempublikasikan karya ilmiah di berbagai jurnal nasional dan internasional terindeks, termasuk isu senjata nuklir, dinamika Timur Tengah, energi nuklir berkelanjutan, serta hukum dan demokrasi. Ruben merupakan pendiri Riset Center Cendekiawan dan Peneliti Muda Indonesia, serta saat ini menjabat sebagai Sekretaris Lembaga Advokasi dan Pendidikan Pemilihan Umum DPD GAMKI Sumatera Utara. Beliau memiliki latar belakang kepemimpinan organisasi mahasiswa dan rekam jejak riset yang kuat, ia dikenal sebagai figur yang menghubungkan analisis akademik dengan advokasi kebijakan dan literasi publik.