BREAKING NEWS
Sabtu, 02 Mei 2026

Memuja Perang, Merindukan Perdamaian: Si Vis Pacem Para Bellum

Adam - Rabu, 11 Maret 2026 07:51 WIB
Memuja Perang, Merindukan Perdamaian: Si Vis Pacem Para Bellum
AS dan Israel melancarkan serangan ke depot minyak di Teheran. Kebakaran besar terjadi di ibu kota Iran di tengah konflik yang memanas di Timur Tengah. (foto: @shanaka86/X)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Antitesis: Adakah Jalan Lain?

Jika Si Vis Pacem Para Bellum terasa terlalu dingin dan militeristik, sejarah Latin juga menyimpan kontra-narasi yang menarik.

Pada tahun 1919, bertepatan dengan berdirinya Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), sebuah motto baru diperkenalkan: Si vis pacem, cole justitiam. Artinya, "jika kau menginginkan perdamaian, pupuklah keadilan."

Sebuah pernyataan yang revolusioner. Para pemimpin dunia pasca-Perang Dunia I menyadari bahwa perdamaian abadi tidak bisa dibangun di atas tumpukan senjata, melainkan di atas fondasi keadilan sosial.

Ketika negara-negara di Timur Tengah bersiap perang, akar sesungguhnya seringkali adalah ketidakadilan: sumber daya yang dikuasai segelintir elit, kesenjangan yang melebar, dan aspirasi rakyat yang terabaikan.

Di Indonesia, cole justitiam (pupuk keadilan) bisa berarti memastikan energi tidak hanya dinikmati segelintir orang, memperkuat industri dalam negeri, membangun ketahanan pangan, dan menciptakan sistem ekonomi yang tidak rentan terhadap guncangan global.

Ini adalah "persiapan perang" dalam arti sesungguhnya: membangun negara yang tangguh dari dalam.

Ada juga yang mencetuskan pepatah si vis pacem, para pacem (jika kau mendambakan perdamaian, siapkanlah perdamaian). Konsep ini menawarkan pendekatan melalui diplomasi, ketergantungan ekonomi yang sehat, dan keadilan sosial.

Jika kita terus-menerus membangun bunker, kita akan menghabiskan hidup kita di bawah tanah. Jika kita membangun jembatan, kita punya kesempatan untuk berjalan di atasnya.

Kita berada di persimpangan jalan sejarah yang sangat tipis. Di satu sisi, realitas brutal geopolitik memaksa kita untuk mengasah pedang. Di sisi lain, kemanusiaan meneriakkan perlunya meja perundingan.

John Wick menggunakan prinsip Parabellum (perang total dan brutal) karena dia adalah seorang pembunuh yang tidak memiliki pilihan lain dalam dunia kriminal yang hitam-putih.

Namun, negara dan pemimpin dunia bukanlah pembunuh bayaran dalam film aksi. Mereka memiliki tanggung jawab atas jutaan nyawa yang tak berdosa.

Editor
: Adam
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Posbankum Desa Lampung Resmi Dibuka, Masyarakat Bisa Adukan Sengketa Secara Damai
Trump Klaim “Perang Hampir Selesai”, Iran Ogah Dikendalikan: Masa Depan Kawasan Ini di Tangan Kami
Presiden Prabowo Janji Beri Taklimat untuk Seluruh Warga Indonesia Terkait Gejolak Timur Tengah
Rupiah Menguat Tipis, Tapi Ancaman Gejolak AS-Iran Bisa Bikin Tekanan Berat
IHSG Melejit 105 Poin! Investor Berebut Saham “Diskon” di Tengah Gejolak Minyak
Presiden Prabowo: Meski Geopolitik Dunia Berguncang, Masalah Pangan Kita Aman
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru